Jenderal Hoegeng, Sosok Polisi Baik yang Pernah Ada

Sketsamalang.com – Di tengah peliknya hubungan antara aparat dan masyarakat saat ini, sejarah mengingatkan kita pada sosok Polisi Baik yang pernah ada. Beliau adalah Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso.

Hoegeng menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak 15 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971.

Ia dikenal sebagai polisi yang jujur, berintegritas, dan tegas memberantas korupsi di tubuh kepolisian maupun lingkaran kekuasaan.

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921, dengan nama lahir Iman Santoso. Julukan “Hoegeng” berasal dari kata bugel (gemuk), karena tubuhnya yang gempal saat kecil. Ayahnya, Soekarjo Kario Hatmodjo, adalah seorang jaksa, sementara ibunya bernama Oemi Kalsoem.

Sejak muda, Hoegeng bercita-cita menjadi polisi. Ia meniti karier di berbagai jabatan, mulai dari Kepala Polisi Jomblang, Semarang, hingga akhirnya mencapai pangkat tertinggi sebagai Kapolri. Saat menjabat, ia melakukan pembenahan organisasi di Mabes Polri sehingga lebih dinamis dan komunikatif.

Meski berkuasa, Hoegeng hidup sederhana. Ia menolak fasilitas negara, menolak pengawalan, bahkan meminta istrinya menutup toko bunga keluarga agar tidak menjadi sarana gratifikasi.

Ia konsisten menolak suap, termasuk saat pernah ditawari rumah dan perabot mewah oleh seorang bandar judi. “Menjadi orang penting itu baik, tetapi menjadi orang baik jauh lebih penting,” ucapnya.

Kasus Penyelundupan Mobil Mewah

Salah satu keberaniannya yang legendaris adalah saat menolak suap pengusaha.

Dengan tenang ia menunjuk ke tong sampah di ruang kerjanya dan berkata, “Kantor polisi tidak memiliki brankas untuk uang. Silakan taruh di sana.”

Hoegeng juga berani mengusut kasus besar, termasuk penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi pada 1971 yang melibatkan sejumlah nama besar di lingkaran istana.

Ia berniat melaporkan temuan itu langsung kepada Presiden Soeharto di kediamannya, Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta Pusat. Namun langkahnya kandas. Sesampainya di sana, Hoegeng justru berpapasan dengan Robby Tjahjadi, orang yang hendak ia laporkan.

Robby terlihat baru saja keluar dari rumah presiden. Kaget dan kecewa, Hoegeng segera meninggalkan Cendana menuju Mabes Polri di Jalan Trunojoyo.

Sejak itu, Hoegeng sadar bahwa Robby memiliki jaringan kuat di kalangan elite, meski sejatinya hanya dikenal sebagai pemuda yang gemar menghabiskan waktu di tempat hiburan malam.

Peristiwa yang dikenal sebagai “Insiden Cendana 8” tersebut membuat Hoegeng mendapat banyak musuh dari kalangan berpengaruh.

Dalam wawancaranya dengan Tempo edisi 22 Agustus 1992, ia mengaku dianggap berbahaya oleh para “tuan besar” karena sikapnya yang tegas menindak pelanggaran hukum.

Tak lama kemudian, pada tahun yang sama, Hoegeng dipaksa pensiun dini. Ia dilepas tanpa upacara, tanpa penghormatan yang semestinya.

Meski disingkirkan dalam sunyi, Hoegeng tidak pernah menaruh dendam. Baginya, kehilangan jabatan lebih terhormat daripada kehilangan hati nurani.

Kini, nama Hoegeng tetap dikenang sebagai legenda polisi jujur, mimpi buruk bagi koruptor, sekaligus teladan bagi aparat penegak hukum Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *