Sketsamalang.com – Bagi banyak orang di Indonesia, wajah seorang kakek kurus, berkacamata, dan berjas rapi ini mungkin terasa familiar. Dialah K.H. As’ad bin Humam, ulama asal Yogyakarta yang dikenal sebagai pencetus metode belajar membaca Al-Qur’an Iqro’. Metode pembelajaran yang hingga kini masih digunakan luas di berbagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan madrasah di Indonesia bahkan Asia Tenggara.
K.H. As’ad bin Humam lahir pada tahun 1933 di Yogyakarta, dari pasangan H. Humam Siraj dan istrinya. Saat itu, Yogyakarta masih berstatus sebagai Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masa mudanya dijalani di lingkungan pesantren dan pendidikan Islam, hingga sebuah kecelakaan pada usia remaja mengubah jalan hidupnya.
Kecelakaan tersebut menyebabkan kelainan pada tulang belakang sehingga beliau sulit bergerak secara normal. Akibatnya, ia terpaksa mengundurkan diri dari Madrasah Mu’allimin ketika baru duduk di kelas 2 Tsanawiyah, setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Meski fisiknya terbatas, kecerdasan, ketekunan, dan hati mulianya tidak pernah padam. Beliau justru tumbuh menjadi pribadi yang peduli dengan kondisi masyarakat sekitar.

Pada era 1980-an, keresahan besar muncul di hatinya ketika mendapati banyak masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang masih kesulitan membaca huruf hijaiyah.
Saat itu metode yang umum digunakan adalah metode Baghdadiyah, yaitu sistem pembelajaran membaca Al-Qur’an yang menekankan hafalan huruf hijaiyah sebelum mulai membaca kalimat. Namun, metode ini memakan waktu lama, bahkan bisa bertahun-tahun, sehingga tidak sedikit orang menyerah di tengah jalan.
Berangkat dari keprihatinan itu, di rumah sederhananya K.H. As’ad bin Humam mulai meneliti dan menyusun metode baru yang lebih praktis. Ia menghapus sistem ejaan dan menggantinya dengan metode bunyi langsung. Materi pembelajaran disusun bertahap menjadi enam jilid (Juz I–VI), dimulai dari huruf-huruf sederhana hingga bacaan yang lebih kompleks. Penyusunan ini dilakukan dengan penuh perhatian agar mudah dipahami oleh semua kalangan.
Hasilnya luar biasa. Banyak anak-anak yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa membaca Al-Qur’an, kini mampu melakukannya hanya dalam hitungan bulan. Metode Iqro’ pun menyebar dari mulut ke mulut, kemudian diterapkan di TPQ, madrasah, hingga meluas ke seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.
Yang membuatnya semakin mulia, K.H. As’ad bin Humam tidak pernah menarik keuntungan dari karyanya. Ia menolak royalti dan memilih membagikan metode Iqro’ secara gratis agar bisa dimanfaatkan oleh semua umat. Sikap tulus inilah yang membuatnya dikenang sebagai sosok ulama inspiratif yang menempatkan ilmu dan kebermanfaatan di atas kepentingan pribadi.
Namun, pada 2 Februari 1996, di usia 63 tahun, bangsa Indonesia harus kehilangan tokoh besar ini. K.H. As’ad bin Humam wafat meninggalkan amal jariyah yang tak ternilai, yaitu metode Iqro’. Hingga kini, banyak muslim di seluruh dunia bisa membaca Al-Qur’an dengan mudah berkat dedikasi dan ketulusan beliau. Wajahnya, kisah hidupnya, dan karyanya akan selalu dikenang sebagai warisan abadi bagi umat Islam, terutama di Indonesia.






