Sketsamalang.com, MALANG – INSPIRATIF ICON dalam Indonesia Mental Health Summit 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk membahas kesehatan mental. Kegiatan yang dirangkai dengan Inspiratif Icon 2026 serta pemilihan Mas dan Miss Inspiratif Kids, Teens, dan Kampus itu juga menjadi jembatan kolaborasi antara Malang dan Bengkulu melalui gerakan Generasi Inspiratif.
Program tersebut digagas psikolog sekaligus Direktur PT. Laressa Rafflesia International (LARI), Ade Laressa, S.Psi., M.Psi., bersama Komisaris Utama, Kak Seto.
Keduanya membawa visi “Inspirasi Indonesia untuk Global” dengan menggabungkan isu kesehatan mental, pemberdayaan generasi, kreativitas, serta kolaborasi antardaerah.
Ade menjelaskan, Indonesia Mental Health Summit pertama kali digelar pada 2024. Saat itu, kegiatan diisi berbagai lomba dan seminar bersama Kak Seto yang membahas isu kesehatan mental.
Memasuki 2025, kegiatan berkembang melalui penyelenggaraan perdana Miss Inspiratif 2025. Dari ajang tersebut kemudian terbentuk komunitas Miss Inspiratif Indonesia.
“Harapan kita bisa menggali inspirasi-inspirasi Indonesia. Saya mengajak Kak Seto juga untuk membentuk gerakan Generasi Inspiratif di Indonesia,” ujar Ade.

Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya menyasar pemberdayaan perempuan. Inspirasi perlu digali dari berbagai kelompok generasi agar lahir sosok-sosok yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Pada 2026, rangkaian kegiatan diperluas dengan pemilihan Mas dan Miss Inspiratif Kids, Teens, dan Pelajar Inspiratif 2026 serta Mas dan Miss Inspiratif Kampus 2026.
Sejumlah seminar juga digelar dengan melibatkan tokoh dan profesional. Salah satunya bersama Kak Seto dengan tema “Kesehatan Mental, Hukum dan Dunia Media Zaman Now”.
Kolaborasi juga dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk JMSI Provinsi Bengkulu. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya membangun jejaring inspirasi antara Malang dan Bengkulu.
Seminar lainnya mengangkat tema “Generasi Inspiratif di Era Digital” dengan menghadirkan akademisi, psikolog, dan pelaku usaha. Di antaranya Dr. Aryani dari House of Fatima Malang yang juga dosen Universitas Brawijaya serta pengusaha Dewi Utari.
Puncak kegiatan diisi penyerahan Psicode Awards dalam Indonesia Mental Health Summit 2026. Penghargaan diberikan kepada sejumlah sosok dan daerah yang dinilai memiliki kontribusi inspiratif.
Ataya menerima penghargaan sebagai Desainer Inspiratif 2026, Kak Seto sebagai Inspiratif Icon Indonesia 2026, sedangkan Kota Malang mendapat penghargaan sebagai Kota Inspiratif Internasional 2026.
Ade berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan nasional yang digelar secara bergiliran di berbagai daerah.
“Kita berharap bisa nasional, berkolaborasi dengan berbagai daerah juga, mungkin selanjutnya di Bengkulu,” katanya.
Keterhubungan Malang dan Bengkulu juga memiliki alasan personal bagi Ade. Ia mengaku memiliki ikatan dengan kedua daerah tersebut. Orang tuanya berasal dari Bengkulu, sedangkan dirinya lahir di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang.
Karena itu, ia berharap Malang dan Bengkulu dapat menjadi dua daerah yang saling terhubung dalam menyebarkan berbagai inspirasi.
Terlebih, Kota Malang telah menjadi bagian dari jaringan Kota Kreatif UNESCO. Menurut Ade, berbagai potensi kreativitas dan inovasi dari Malang dapat diperkenalkan ke daerah lain, termasuk Bengkulu.
“Harapannya Bengkulu dan Malang itu terkoneksi. Inspirasi-inspirasi dari Kota Malang ini mau saya kenalkan juga di daerah-daerah lain. Siapa tahu juga di Bengkulu, Kota Bengkulu juga bisa meraih kota kreatif dunia seperti Kota Malang,” tuturnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, Muhamad Sailendra, S.T., M.M., menilai kegiatan seperti ini penting karena memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang.
Termasuk di dalamnya anak penyandang disabilitas dan kelompok rentan yang membutuhkan kesempatan untuk berekspresi, menunjukkan kreativitas, serta mengembangkan prestasi.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu Pemkot Malang untuk memberikan ruang kepada mereka. Potensi anak-anak disabilitas, anak-anak yang rentan, maupun anak-anak lainnya perlu diberikan ruang untuk berekspresi dan menunjukkan kreativitas serta prestasi,” ujarnya.

Sailendra mengatakan, Pemkot Malang juga telah menjalankan sejumlah program pencegahan terhadap berbagai persoalan yang melibatkan anak dan remaja melalui sosialisasi serta edukasi.
Upaya tersebut sejalan dengan predikat Kota Malang sebagai Kota Layak Anak tingkat Nindya.
“Kenapa kita disebut Kota Layak Anak? Karena secara kebijakan, infrastruktur, dan program-program yang ada mendukung Kota Layak Anak,” katanya.
Ia mengakui berbagai persoalan yang dialami anak dan remaja, termasuk persoalan psikologis seperti depresi, tidak sepenuhnya dapat dihindari.
Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah pencegahan dan pendampingan, termasuk melibatkan psikolog di lingkungan sekolah serta membangun komunikasi dengan perguruan tinggi.
“Kalau terjadi sesuatu, kita juga menyiapkan psikolog untuk pendampingan, baik di sekolah maupun melalui komunikasi dengan kampus. Memang kita tidak bisa menghindari semuanya kalau ada kasus seperti itu, tetapi upaya pencegahan sudah kita lakukan,” jelasnya.
Menurut Sailendra, pemberian ruang bagi anak melalui kegiatan kreatif juga merupakan bagian dari upaya positif dalam mencegah munculnya berbagai persoalan.
“Contohnya seperti ini, kita memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi,” pungkasnya.
Dengan demikian, Indonesia Mental Health Summit 2026 tidak berhenti pada seremoni penghargaan. Kegiatan tersebut diarahkan menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kesadaran kesehatan mental, membuka kesempatan bagi anak dan kelompok rentan, sekaligus menghubungkan potensi daerah melalui gerakan Generasi Inspiratif.







