Sketsamalang.com, MALANG – Berawal dari pelatihan batik tulis pada 2013, usaha dTanbi milik Sulistyaning S, yang akrab disapa Ulis, terus berkembang menjadi usaha batik dan produk tekstil kreatif berbahan serta pewarna alam. Dalam perjalanan mengembangkan usaha, dukungan pembiayaan Koperasi Konsumen Setia Budi Wanita (Kopmen SBW) turut membantu memenuhi kebutuhan modal kerja dan menjaga keberlangsungan produksi.
Perjalanan dTanbi dimulai setelah Ulis mengikuti pelatihan batik tulis yang diselenggarakan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) bersama Kopwan SBW dan Badan Komunikasi Wanita Koperasi (BKWK) Dekopinda Malang.
Seusai pelatihan pada 2013, sejumlah peserta berinisiatif mendirikan sanggar batik bernama Tansah Binerkahan. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2017, usaha tersebut semakin berkembang setelah mendapatkan pendampingan dari Sampoerna untuk Indonesia dan BEDO Bali.
Dari proses tersebut, lahirlah nama dTanbi, singkatan dari Dilakoni Tansah Bungah, yang memiliki makna menjalani dan melakukan segala sesuatu dengan bahagia.
“Nama dTanbi menjadi semangat kami dalam berkarya dan mengembangkan usaha. Kami ingin menjalani setiap proses dengan bahagia,” ujar Ulis.
Kembangkan Batik dan Tekstil Berbahan Alam
Dalam perkembangannya, dTanbi tidak hanya memproduksi batik, terutama batik tulis, tetapi juga mengembangkan berbagai produk tekstil kreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Inovasi dilakukan melalui pemanfaatan bahan dan pewarna alam dengan teknik shibori dan ecoprint. Selain itu, dTanbi juga mengeksplorasi produk tekstil yang terinspirasi dari kearifan alam lokal.
Namun, perjalanan membangun usaha tersebut tidak selalu mudah. Pada masa awal merintis, keterbatasan modal dan pemasaran menjadi tantangan utama. Produksi batik membutuhkan biaya untuk pengadaan bahan baku, sedangkan memperkenalkan produk dan membangun pelanggan harus dilakukan secara bertahap.
Ulis bersama rekan-rekannya mulai memasarkan produk melalui berbagai pameran dan promosi dari mulut ke mulut. Salah satu pelanggan pertama mereka adalah almarhumah Ibu Harnowo, pengurus BKWK yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan dan perkembangan usaha.
“Pada awalnya, kami berusaha memperkenalkan produk lewat pameran dan promosi dari mulut ke mulut. Dari situ kami mulai membangun jaringan dan mendapatkan kepercayaan pelanggan,” kata Ulis.

Kopmen SBW Jadi Alternatif Akses Permodalan
Selain pemasaran, kebutuhan modal kerja menjadi bagian penting dalam perjalanan dTanbi. Ulis yang telah menjadi anggota Kopwan SBW sejak 2003 kemudian memanfaatkan fasilitas pembiayaan koperasi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
Ketika membutuhkan tambahan modal, Ulis memilih mengajukan pinjaman melalui koperasi yang telah dikenalnya. Namun, karena pencairan belum dapat dilakukan pada bulan tersebut, ia terlebih dahulu mencari pinjaman sementara dari beberapa pihak, termasuk melalui PKK.
Setelah pembiayaan dari SBW terealisasi pada bulan berikutnya, dana tersebut digunakan untuk melunasi pinjaman sementara sekaligus membeli bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi.
“Waktu itu kebutuhan bahan baku cukup mendesak. Begitu pinjaman dari SBW terealisasi, saya gunakan untuk melunasi pinjaman sementara dan membeli bahan yang diperlukan untuk produksi,” tutur Ulis.
Dukungan modal kerja tersebut membantu dTanBi melanjutkan kegiatan produksi dan memenuhi kebutuhan bahan baku. Sejak pinjaman pertama, Ulis beberapa kali kembali memanfaatkan pembiayaan SBW, terutama ketika menghadapi kebutuhan produksi yang mendesak.
“Bagi saya, koperasi membantu menyediakan alternatif sumber permodalan saat usaha membutuhkan dukungan dana. Tentu penggunaannya juga harus direncanakan dan dikelola dengan baik,” ujarnya.
Malang Fashion Week Buka Peluang Pasar
Di luar dukungan permodalan, perkembangan dTanbi juga ditopang konsistensi menjaga kualitas produk, mengikuti pameran, memperluas jaringan, serta mencari peluang pasar baru.
Salah satu kesempatan yang dimanfaatkan adalah mengikuti Malang Fashion Week beberapa kali. Melalui ajang tersebut, produk dTanbi semakin dikenal dan Ulis berkesempatan menjalin relasi dengan sejumlah desainer yang kemudian menjadi pelanggan.
Tidak hanya di tingkat lokal, dTanbi juga pernah mengikuti Trade Expo Indonesia di Jakarta, Sampoerna Entrepreneurship Training Center di Bali, serta Bali International Women’s Association Charity Bazaar.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas pengenalan produk sekaligus membangun jaringan pemasaran.
“Pencapaian yang paling membanggakan adalah dTanbi bisa terus berkembang dan mendapat kesempatan mengikuti Malang Fashion Week serta pameran-pameran lainnya. Dari sana, karya kami semakin dikenal dan kami bertemu pelanggan baru,” kata Ulis.
Saat ini, dua orang terlibat secara tetap dalam operasional usaha dTanbi. Sementara itu, tenaga tambahan dilibatkan sesuai kebutuhan produksi, terutama ketika jumlah pesanan meningkat.
Sebagian besar produk dTanbi dibuat berdasarkan pesanan atau sistem pre-order. Dengan pola tersebut, proses produksi dapat disesuaikan dengan permintaan pelanggan dan kebutuhan pasar.
Bidik Pengembangan Produk Fesyen dan Home Decor
Ke depan, Ulis berharap dTanbi dapat terus memperluas pemasaran sekaligus mengembangkan ragam produk. Selain batik dan tekstil kreatif, ia berencana memperkuat pengembangan produk fesyen serta home decor atau perlengkapan interior rumah.
Ia juga berpesan kepada perempuan yang sedang merintis usaha agar tidak mudah menyerah dan terus membuka diri terhadap berbagai kesempatan belajar maupun dukungan pengembangan usaha.
“Pesan saya untuk perempuan yang sedang merintis usaha, jangan takut untuk terus belajar, berusaha, dan mencari dukungan. Bergabung dengan koperasi bisa memberi lebih dari sekadar akses modal, kita juga bisa menambah ilmu dan memperluas relasi,” ujarnya.
Usaha dTanbi berlokasi di Jalan Ikan Piranha J 20, Malang. Sementara itu, workshop sementara berada di Jalan Kemirahan Gang 1 Nomor 21 A, Malang.
Perjalanan dTanbi menunjukkan bahwa pengembangan usaha kreatif tidak hanya membutuhkan kreativitas dan konsistensi menjaga kualitas, tetapi juga akses permodalan, pendampingan, serta jaringan pemasaran. Dukungan koperasi menjadi salah satu bagian yang membantu pelaku usaha perempuan menjaga keberlangsungan dan membuka peluang pertumbuhan bisnis.







