Sketsamalang.com, MALANG – Berawal dari tugas ujian praktik saat duduk di bangku kelas XII SMA, Ailsya Nabilla Widiantoro berhasil mengembangkan usaha kuliner rumahan bernama Clevia Dessert. Kini, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2025 tersebut mampu memproduksi hingga 300 pieces per hari dan memasarkannya ke sejumlah sekolah serta perguruan tinggi di Kota Malang.
Dalam mengembangkan usahanya, Ailsya dibantu rekannya, Mega Nurul Makanya. Keduanya terus memperluas pemasaran dengan menghadirkan produk homemade dessert yang menyasar kalangan pelajar hingga mahasiswa.
Clevia Dessert memiliki tiga produk utama, yakni soft cookies, Dubai choco cookie, dan mochi. Selain itu, mereka juga terus berinovasi menghadirkan varian baru, salah satunya S’more melted cookie.
“Jadi, ini produknya homemade dessert. Ada tiga produk utama, yaitu soft cookies, Dubai choco cookie, dan juga mochi. Kami juga terus mengembangkan menu-menu baru yang mengikuti tren dan menarik minat anak-anak muda,” ujar Ailsya.
Dari sisi produksi, Clevia Dessert kini mampu menghasilkan sekitar 300 produk setiap hari. Pemasarannya telah menjangkau delapan kantin sekolah di Kota Malang, di antaranya SD Insan Amanah, MAN 2 Kota Malang.
Tidak hanya mengandalkan kantin sekolah, Clevia Dessert juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram, layanan pemesanan melalui WhatsApp, serta jaringan reseller.
Jaringan reseller tersebut telah tersebar di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Bina Nusantara (Binus).
Strategi pemasaran tersebut turut membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan penghasilan tambahan melalui penjualan kembali produk Clevia Dessert.
Untuk harga, soft cookies dan mochi dibanderol Rp6.000 per varian. Sementara Dubai choco cookie dijual Rp28.000. Adapun produk inovasi S’more melted cookie ditawarkan dengan harga Rp8.000.

Berawal dari Ujian Praktik SMA
Perjalanan Clevia Dessert bermula ketika Ailsya masih duduk di kelas XII SMA. Saat itu, ia harus menjalani ujian praktik susulan karena sempat sakit dan tidak dapat mengikuti ujian selama dua pekan.
Dalam ujian praktik tersebut, Ailsya memilih membuat cookies. Ia sengaja memproduksi lebih banyak agar bisa membagikannya kepada teman-teman sekolah.
Di luar dugaan, respons teman-temannya sangat positif. Banyak yang menyukai rasa cookies buatannya dan menyarankan agar produk tersebut mulai dijual.
“Awalnya saya bikin cookies untuk ujian praktik. Saya sengaja membuat lebih banyak untuk dibagikan kepada teman-teman. Ternyata respons mereka positif dan banyak yang suka. Kemudian mereka menyarankan, kenapa tidak dijual saja,” kenangnya.
Berbekal respons tersebut, Ailsya mulai melakukan riset sederhana untuk menentukan harga jual yang sesuai. Setelah mempertimbangkan produk dan harga kompetitor, ia menetapkan harga Rp6.000 per cookies.
Harga tersebut ternyata menjadi salah satu daya tarik produknya. Menurut Ailsya, sejumlah teman membandingkan cookies buatannya dengan produk kompetitor yang dijual Rp8.000. Mereka menilai rasa keduanya tidak jauh berbeda, sehingga produk Clevia Dessert dinilai memiliki harga yang lebih terjangkau.
Ailsya kemudian mencoba menitipkan produknya di kantin sekolah. Pada awal pemasaran, ia hanya membawa 15 cookies dan langsung habis terjual. Keesokan harinya, jumlahnya ditambah menjadi 20 buah dan kembali habis.
Permintaan yang terus meningkat membuat Ailsya semakin yakin untuk mengembangkan usahanya.
Setelah lulus SMA, ia mulai memperluas pemasaran ke sejumlah sekolah lain. Meski sempat merasa malu dan gengsi ketika harus menawarkan produk ke tempat baru, ia berusaha mengesampingkan perasaan tersebut demi mengembangkan bisnisnya.
Beberapa sekolah yang kemudian menjadi jaringan pemasaran Clevia Dessert di antaranya MAN 2 Kota Malang, SMK Telkom, SMA Laboratorium, dan SMA Negeri 8 Malang.
Dari ekspansi tersebut, Clevia Dessert mulai memiliki pelanggan tetap yang melakukan pemesanan secara rutin setiap hari.
Perluas Pasar Lewat Reseller Mahasiswa
Memasuki dunia perkuliahan, Ailsya kembali memperluas strategi pemasaran melalui media sosial. Promosi lewat TikTok dan Instagram membuat produknya semakin dikenal, termasuk di kalangan mahasiswa dari berbagai kampus.
Bahkan, sejumlah mahasiswa mulai tertarik menjadi reseller setelah mengetahui produk Clevia Dessert.
Melihat peluang tersebut, Ailsya kemudian membuat skema harga khusus reseller. Untuk produk cookies, harga reseller ditetapkan Rp4.500 per buah, sehingga mitra bisa menjualnya kembali dengan harga Rp6.000 dan memperoleh keuntungan.
“Awalnya banyak yang bertanya apakah ada harga reseller. Akhirnya saya membuat harga khusus, misalnya cookies Rp4.500. Mereka bisa menjual kembali dengan harga Rp6.000 dan mendapatkan keuntungan,” jelasnya.
Skema tersebut mendapat respons positif. Tidak sedikit reseller yang kemudian mengambil produk Clevia Dessert untuk dijual kembali, termasuk ketika ada kegiatan atau acara di lingkungan kampus.
Ailsya mengaku, ketertarikannya pada dunia kuliner juga didukung hobinya membuat kue. Berawal dari kegemaran tersebut, ia kini mampu membangun usaha yang terus berkembang di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa.
Perjalanan Clevia Dessert menjadi gambaran bahwa ide sederhana yang berawal dari kegiatan sekolah dapat berkembang menjadi peluang usaha apabila ditekuni secara konsisten, berani mencoba, dan mampu membaca kebutuhan pasar.







