Sketsamalang.com – Mikroplastik kini ada di mana-mana. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini terbentuk dari degradasi sampah plastik seperti botol, wadah makanan, kantong belanja, dan kemasan. Ukuran mereka yang mikroskopis membuatnya tak terlihat oleh mata telanjang. Namun keberadaannya banyak ditemukan di sungai, lautan, tanah, air minum, hingga udara yang kita hirup.
Belakangan, peneliti juga menemukan mikroplastik telah masuk ke dalam tubuh manusia, termasuk di dalam darah, paru-paru, sistem pencernaan, dan berbagai organ lainnya. Kekhawatiran pun meningkat mengenai dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan.
Sebuah studi baru dari University of Oklahoma yang dipublikasikan di jurnal Science Advances memberikan bukti lebih lanjut. Penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik berpotensi menjadi ancaman khusus bagi kesehatan organ hati. Terutama pada individu yang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol.
Hati merupakan organ vital yang bertugas mencerna makanan, menyimpan nutrisi, menyaring zat berbahaya dari darah, serta mengatur metabolisme. Namun organ ini rentan terhadap kerusakan akibat obesitas, pola makan buruk, konsumsi alkohol berlebih, dan penyakit tertentu.
Salah satu penyakit yang semakin marak adalah metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), bentuk parah dari penyakit hati berlemak yang ditandai dengan penumpukan lemak berlebih, peradangan, dan kerusakan sel hati. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi sirosis, gagal hati, hingga kanker hati.
Artikel Terkait:
Peneliti UB Temukan Mikroplastik di DAS Brantas, Pemerintah Didesak Perkuat Mitigasi
Dalam penelitian yang dipimpin Dr. Tae Gyu Oh, para ilmuwan memberi tikus paparan mikroplastik polyethylene (jenis plastik paling umum yang digunakan untuk kantong belanja, botol susu, dan kemasan makanan) selama delapan minggu. Semua tikus mendapat dosis mikroplastik yang sama. Tetapi sebagian diberi diet normal sementara yang lain mendapat diet tinggi lemak dan kolesterol yang dirancang meniru kondisi MASH.
Hasilnya sangat mencolok. Tikus yang mendapat kombinasi diet tidak sehat dan mikroplastik menunjukkan tanda kerusakan pada kesehatan hati yang jauh lebih parah. Kerusakan hati dalam darah mereka lebih dari dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan tikus yang hanya terpapar mikroplastik dengan diet standar.
Dengan menggunakan teknologi pencitraan resolusi tinggi, peneliti berhasil mengamati kerusakan secara detail di tingkat seluler. Temuan ini mengungkap area-area spesifik peradangan dan cedera yang sulit terdeteksi dengan metode konvensional.
Mikroplastik tampaknya tidak hanya memicu peradangan, tetapi juga mengganggu kemampuan hati untuk memperbaiki diri.
Peneliti menemukan bahwa mikroplastik memengaruhi protein PPAR-alpha yang berperan penting dalam pengolahan dan pemecahan lemak, serta gen Anxa2 yang terlibat dalam proses perbaikan jaringan.
“Temuan ini penting karena obesitas dan penyakit hati berlemak semakin meluas di masyarakat modern, sementara paparan mikroplastik hampir tidak mungkin dihindari,” tulis para peneliti.
Meski demikian, penelitian ini baru dilakukan pada tikus. Masih diperlukan studi lebih lanjut pada manusia untuk mengonfirmasi apakah efek serupa terjadi.
Para ahli menekankan bahwa penelitian ini memberikan kerangka penting untuk memahami interaksi antara polusi lingkungan dan pola makan dalam menyebabkan penyakit kronis.






