Dari Reporter Telepon Koin hingga Media Digital, Djoko Winahyu Tetap Setia di Dunia Jurnalistik

Sketsamalang.com – Di masa ketika televisi masih menjadi barang mewah dan siaran hanya didominasi TVRI serta TPI, radio menjadi sumber utama informasi masyarakat. Salah satu yang paling dikenal warga Malang Raya kala itu adalah KDS 8 FM dengan program andalannya seperti Malang Hari Ini, Malang Melintang, dan Lintas Pagi.

Di balik derasnya arus informasi yang disiarkan radio tersebut, ada sosok reporter lapangan yang bekerja tanpa mengenal waktu, yakni Djoko Winahyu.

Pria kelahiran 11 Desember 1965 itu mengawali karier jurnalistiknya bukan dari dunia media, melainkan bidang marketing. Kesempatan menjadi wartawan datang ketika penyiar senior KDS 8, Sapto Pratolo, menawarinya bergabung sebagai reporter.

Tanpa pengalaman jurnalistik, Djoko tetap memberanikan diri mengikuti seleksi. Saat diuji Kepala Bagian Siar KDS 8 saat itu, Darsono Soendro (alm), ia hanya menjawab singkat namun penuh keyakinan.

“Siap, bisa,” kenangnya.

Padahal saat itu ia mengaku belum memahami dunia reporter sama sekali.

Selama sepekan, Djoko menjalani pelatihan dasar penyiaran, mulai dari teknik vokal radio, *humming voice*, hingga siaran pandangan mata. Dari situlah naluri jurnalistiknya mulai tumbuh.

“Setiap melihat sesuatu di depan mata, saya spontan merangkai kata-kata menjadi informasi,” ujarnya.

Tahun 1995 menjadi awal perjalanan panjang Djoko di KDS 8 FM. Saat itu teknologi komunikasi masih sangat terbatas. Belum ada telepon genggam maupun internet seperti sekarang.

Untuk mengirim laporan langsung ke studio, Djoko harus mencari telepon umum koin di pinggir jalan.

“Kalau ada kejadian penting, saya lari cari telepon umum supaya bisa siaran langsung ke studio. Seru dan menantang,” katanya.

Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang menjadi salah satu lokasi liputan yang paling sering ia datangi, terutama bagian UGD dan kamar mayat. Dari tempat itulah banyak informasi penting berasal, mulai kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, hingga berbagai kejadian darurat lainnya.

Djoko mengaku memiliki kepuasan tersendiri ketika laporan yang disiarkannya membantu masyarakat menemukan anggota keluarga mereka.

“Kadang baru setengah jam selesai siaran, keluarga korban langsung datang ke rumah sakit karena mendengarkan KDS,” tuturnya.

Rutinitas kerja Djoko kala itu terbilang berat. Ia bekerja sejak pagi hingga malam hari, bahkan sering kembali bertugas dini hari setelah menerima panggilan melalui alat komunikasi pager karena adanya korban tanpa identitas yang masuk ke kamar mayat.

Meski hanya menerima gaji sekitar Rp50 ribu per bulan pada masa itu, Djoko mengaku tetap bangga menjalani profesinya.

“Capek iya, tapi senang karena bisa membantu orang,” ucapnya.

Seiring perkembangan teknologi, KDS 8 FM kemudian bekerja sama dengan rumah sakit menggunakan fasilitas komunikasi HT radio. Djoko dikenal dengan sandi panggilan “802”, sementara kode radio KDS saat itu adalah WD3K55 KDS 8.

Melalui siaran radio, ia rutin menyampaikan informasi stok darah PMI Kota Malang, berita kehilangan, hingga layanan masyarakat lainnya.

Namun perjalanan jurnalistiknya juga diwarnai berbagai peristiwa mencekam, salah satunya saat Malang dilanda teror pembunuhan misterius yang dikenal masyarakat sebagai “ninja”.

Pada masa itu, Djoko hampir setiap hari meliput kasus pembunuhan dan membantu warga mencari anggota keluarganya di kamar mayat.

Salah satu peristiwa yang paling membekas baginya adalah ketika seorang perempuan lanjut usia meninggal dunia akibat tertabrak truk aparat. Korban sempat tidak diketahui identitasnya karena tas miliknya hilang.

Saat Djoko menyiarkan informasi tersebut, aparat disebut sempat meminta agar berita tidak disampaikan secara lengkap. Namun ia tetap menayangkannya demi kepentingan publik.

Belakangan diketahui korban merupakan pensiunan asal Lawang dan ibu dari seorang anggota aparat.

Keesokan harinya, seorang tukang becak mendatangi kantor KDS 8 sambil membawa tas korban yang ternyata masih berisi identitas, buku tabungan, dan uang tunai lengkap.

“Ia mengaku takut setelah mendengar siaran KDS,” kata Djoko.

Peristiwa itu menjadi bukti kuat besarnya pengaruh radio dalam kehidupan masyarakat saat itu.

Karier Djoko terus berkembang ketika KDS mendirikan televisi lokal MalangTV. Ia ikut merintis stasiun televisi tersebut dari nol sambil tetap aktif sebagai reporter radio.

Namun perubahan zaman perlahan mengubah industri media penyiaran. Pada 2016, manajemen KDS melakukan pengurangan tenaga kerja akibat kondisi perusahaan yang mengalami kesulitan finansial. Djoko pun harus mengakhiri pengabdiannya di radio yang telah membesarkan namanya.

Meski demikian, semangat jurnalistiknya tidak pernah padam. Djoko tercatat lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Wartawan Madya pada 2013 yang diselenggarakan PRSSNI dan menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Setelah tak lagi bersama KDS, ia tetap aktif menulis di berbagai media radio dan media online. Hingga akhirnya, Djoko mendirikan media sendiri bernama *Malang Pariwara* di bawah naungan PT Agbi Naya Pariwara.

Bagi Djoko Winahyu, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian hidup untuk masyarakat.

Dari era telepon koin, HT komunikasi, hingga media digital saat ini, ia tetap berjalan di jalur yang sama: menyampaikan informasi untuk publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *