SS. ketsamalang.com, Kota Malang — Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Dr. H. Indra Permana, menyoroti kondisi ketersediaan sapi hidup yang semakin menipis di pasaran, yang berdampak langsung pada kenaikan harga daging sapi dalam beberapa waktu terakhir.
Dari hasil pemantauan langsung di pasar tradisional serta dialog bersama para jagal dan pedagang, Indra menemukan bahwa jumlah sapi hidup yang beredar, baik di wilayah Kota maupun Kabupaten Malang, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini memicu ketidakseimbangan antara tingginya permintaan dan terbatasnya suplai.
“Ketika suplai berkurang sementara permintaan tetap tinggi, maka harga pasti naik. Ini hukum ekonomi yang sedang terjadi, dan dampaknya sudah dirasakan langsung oleh para pelaku usaha,” ujarnya.
Namun bagi Indra, persoalan ini bukan hanya tentang kenaikan harga semata. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menyangkut keberlangsungan rantai ekonomi yang panjang—mulai dari jagal sebagai penyedia bahan baku, pedagang pasar, hingga pelaku usaha kuliner seperti bakso, restoran, dan kafe yang terus berkembang di Kota Malang.
“Saya melihat langsung bagaimana para jagal mulai kesulitan mendapatkan sapi, pedagang menghadapi harga yang tidak stabil, dan pelaku usaha kuliner mulai tertekan. Ini bukan persoalan kecil, ini menyangkut ekonomi rakyat,” tegasnya.
Sebagai kota dengan kekuatan wisata kuliner yang terus tumbuh, Malang sangat bergantung pada kestabilan bahan baku, khususnya daging sapi. Bakso sebagai ikon kuliner, hingga restoran dan kafe yang semakin menjamur, menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang harus dijaga bersama.
“Jangan sampai keterbatasan bahan baku ini berdampak pada kualitas, harga, bahkan keberlangsungan usaha. Kalau ini tidak kita antisipasi, bisa menjadi masalah ekonomi baru di Malang Raya,” lanjutnya.
Sebagai Wakil Ketua Fraksi PKS, Indra menegaskan bahwa negara harus hadir memberikan solusi nyata. Ia mendorong adanya langkah cepat dan terukur dari pemerintah, mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga kementerian, untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga.
“Ini bukan hanya terjadi di Malang, tapi juga secara nasional. Karena itu, dibutuhkan sinergi lintas level pemerintahan agar ada solusi yang komprehensif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Indra menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini sebagai bagian dari tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.
“Kita harus berdiri bersama para pelaku usaha—dari hulu sampai hilir. Negara tidak boleh abai. Ini tentang menjaga denyut ekonomi rakyat,” pungkasnya.






