Waktu Pagi di Kota Ternate

Di balik Gunung Gamalama, sinar fajar mulai menyapa. Warna keemasan Matahari bangun menyapa Danau Tolire.

Membawa detak waktu yang tiada henti. Setiap detiknya adalah bisikan halus yang luruh. Sebagai pengingat bahwa jatah usia kita makin sedikit.

Adakalanya langit Ternate memucat bagai awan mendung, mengejar siang dengan tergesa. Menghapus embun-embun pagi yang membawa kabur sisa bisu.

Waktu seperti air di danau tolire, sulit di jangkau bagai tak kasat mata. Meninggalkan sejuta cerita yang menjadi tanda tanya di tengah dunia yang kian kejam.

Namun lihatlah bibir yang letih itu, terlihat tegar tapi penuh dengan peluh. Beban yang kaku seperti Batu Angus, ada senyum yang dipaksakan mekar, menolak untuk layu.

Meski masalah datang membawa rayuan. Senyum itu adalah senjata bagi pejuang kehidupan, yang tahu bahwa hidup bukan sekedar menang semata, tapi harus mempertajam pedang di medan perang.

Hari demi hari berlalu, waktu mulai menipiskan jangkanya dan napas mulai terkikis. Cahaya di wajahnya tetaplah menjadi hikmat bagi mereka yang tak lelah melangkah.

Berakhirnya waktu bukanlah akhir yang kalah, Melainkan perjalanan dimensi yang berbeda. Selama senyum itu tidak pudar, akan terus menyinari di pagi ini, Perjuangan adalah ibadah yang murni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *