Sketsamalang.com — Prestasi membanggakan diraih Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian yang dilakukannya berhasil dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q2, capaian bergengsi yang jarang diraih mahasiswa.
Penelitian tersebut mengangkat isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi, topik yang kerap dianggap sepele, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologis perempuan.
Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada cara perempuan mengelola perubahan emosional, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme koping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
“Setiap perempuan memiliki cara berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosi, tetapi ada pula yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan.
Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang kerap mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memahami cara-cara yang lebih sehat dan efektif dalam mengelola kondisi tersebut.
“Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk mengetahui apakah ada strategi yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi ini,” ungkapnya.
Penelitian berjudul *Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version* ini melibatkan 321 responden perempuan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi koping dengan menyibukkan diri dalam aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dan dukungan sosial menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan.
Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi.
“Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Dengan begitu, mereka dapat segera menerapkan strategi koping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat,” tambahnya.
Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi koping. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar dapat memperburuk kondisi emosional.
“Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan agar tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan yang berlebihan justru dapat memperparah tekanan emosional,” katanya.
Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman terkait kesehatan reproduksi, terutama di kalangan masyarakat awam. Menurutnya, banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dikelola secara tepat.
“Perubahan emosi menjelang menstruasi adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif. Edukasi tersebut tidak hanya menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial.
“Perempuan perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi perubahan ini. Ada berbagai cara sehat yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, M.Kep., Sp.Kep.Mat., Ph.D., menjelaskan bahwa sejak awal penelitian ini dirancang tidak hanya sebagai skripsi.
“Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, serta siap menerima masukan, termasuk dari penelaah internasional,” jelas Henny.
Ia menegaskan bahwa penelitian tersebut memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan.
“Dengan adanya instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola koping perempuan terhadap perubahan pramenstruasi dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan, baik dalam pendidikan keperawatan maupun pelayanan kesehatan reproduksi di Indonesia. (*)






