Sketsamalang.com – Anggota Komisi B DPRD Kota Malang sekaligus Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Malang, Dr. H. Indra Permana, S.E., M.M. mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk membuat grand design ekonomi liburan. Utamanya saat memasuki libur panjang seperti Libur Natal dan Tahun Baru,Hari Raya, dan liburan sekolah.
“Malang hari ini sudah naik kelas. Bukan lagi kota transit, tapi destinasi wisata nasional bahkan internasional. Kalau libur panjang masih dianggap rutinitas biasa, itu artinya kita sedang menyia-nyiakan peluang besar,” kata Indra.
Indra menyebut, kawasan seperti Kayutangan Heritage, Kampoeng Warna-Warni, hingga wisata kuliner Malang Raya menjadi magnet kuat wisatawan dari berbagai daerah.
“Orang sekarang datang ke Malang memang untuk berwisata, bukan numpang lewat. Ini fakta lapangan yang harus dibaca sebagai peluang ekonomi,” ujarnya.
Dari sudut pandang akademisi dan pengusaha, Indra menjelaskan logika sederhana multiplier effect.
“Kalau hotel penuh 90 sampai 100 persen, uang tidak berhenti di hotel. Dia mengalir ke tukang parkir, sopir online, pedagang oleh-oleh, warung bakso, cafe, sampai UMKM pinggir jalan,” ungkapnya.
Sebagai praktisi bisnis, Indra menegaskan bahwa liburan adalah masa panen utama bagi pelaku usaha.
“Bagi UMKM, momen liburan itu bukan tambahan, tapi penentu. Kalau liburan sepi, mereka langsung terpukul,” tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan Indra, dengan estimasi konservatif 100 ribu hingga 150 ribu wisatawan selama libur panjang, dan rata-rata belanja Rp500 ribu hingga Rp1 juta per orang, Indra menyebut potensi perputaran uang bisa mencapai Rp50 hingga Rp150 miliar hanya dalam satu periode liburan.
“Ini bukan angka ngarang. Ini logika ekonomi dasar. Tinggal mau dikelola atau dibiarkan lewat,” jelasnya lugas.
Indra pun mendesak Pemkot Malang, khususnya Disporapar dan Diskoperindag, agar memiliki grand design ekonomi liburan.
“Setiap musim liburan harus ada skema jelas: event apa, UMKM mana yang ditampilkan, produk lokal apa yang didorong, dan berapa PAD yang bisa dihasilkan. Jangan cuma sibuk urai macet,” katanya.
Ia mengingatkan agar UMKM dan IKM lokal menjadi pemain utama, bukan justru tersingkir oleh franchise besar.
“Jangan sampai wisatawan datang ke Malang, tapi uangnya malah habis di brand luar. Ini kota kita, rezekinya harus kembali ke warga Malang,” tegas Indra.
Karena itu Indra berharap sinergi kuat antara DPRD dan Pemkot Malang bisa menjadikan pariwisata sebagai mesin ekonomi rakyat, bukan sekadar agenda seremonial.
“Kalau dikelola serius, liburan bukan cuma ramai, tapi menyejahterakan. Malang bisa jadi kota wisata yang ramah investasi, kuat UMKM-nya, dan ekonominya tumbuh merata,” pungkasnya.






