Sketsamalang.com – Usianya baru 11 tahun, tetapi Janata Lavanya Leticia Zulkarnain atau akrab disapa Vanya sudah menorehkan prestasi di dunia dakwah dan public speaking. Dai cilik asal Malang ini tidak hanya aktif menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga telah menghafal 13 juz Al-Qur’an.
Siswi SD Islam Aswaja, Klojen, Kota Malang, tersebut mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia dakwah sejak usia dini. Kemampuan berbicara di depan umum tumbuh dari kebiasaannya menyaksikan sang ayah, Husni Zulkarnain, menyampaikan ceramah di berbagai kesempatan.
Dari situlah Vanya mulai tertarik mengikuti jejak ayahnya. Ia kemudian mengembangkan kemampuan berbicara melalui berbagai kegiatan dan perlombaan.
“Ayah sering memberikan nasihat dan mengajarkan saya cara berbicara yang baik di depan orang banyak. Itu yang membuat saya termotivasi,” ungkap Vanya.
Prestasi Dakwah dari Regional hingga Nasional
Bakat Vanya semakin terasah setelah mengikuti berbagai kompetisi dai cilik. Pada 2022, ia berhasil meraih juara III lomba dai cilik tingkat Malang Raya.
Setahun kemudian, prestasinya meningkat. Vanya berhasil meraih juara I dalam ajang Pekan Olahraga, Akademik, dan Seni (POAS) PGMI tingkat nasional.
Prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Vanya dalam mengembangkan kemampuan dakwah sekaligus public speaking.
Tidak hanya mengikuti perlombaan, Vanya juga aktif mengisi tausiah di sejumlah masjid dan sekolah di wilayah Malang. Dengan gaya penyampaian yang sederhana, ia berusaha membuat pesan-pesan keagamaan mudah dipahami oleh pendengarnya, termasuk anak-anak seusianya.
Aktivitasnya bahkan merambah dunia penyiaran. Vanya memiliki program rutin setiap Rabu di Radio Republik Indonesia (RRI). Melalui siaran tersebut, ia menyampaikan ceramah dan pesan moral kepada masyarakat.
“Saya senang bisa berbagi cerita dan ilmu melalui radio. Rasanya seperti mengajak orang untuk melakukan kebaikan,” tutur Vanya.
Meski harus menjalani aktivitas setelah pulang sekolah, Vanya mengaku tetap menikmati kegiatan tersebut.
“Walaupun lelah sepulang sekolah harus mengisi tausiah, tetapi itu adalah hal yang menyenangkan bagi saya,” imbuhnya.
Hafal 13 Juz, Ingin Jadi Dokter
Di tengah kesibukannya berdakwah dan mengikuti berbagai kegiatan, Vanya juga serius menekuni tahfizul Qur’an. Hingga saat ini, ia telah menghafal 13 juz Al-Qur’an.
Menariknya, Vanya memiliki cita-cita yang memadukan dunia kesehatan dan Al-Qur’an. Ia ingin menjadi dokter sekaligus hafizah.
“Saya ingin menjadi dokter supaya bisa membantu banyak orang, dan tetap menjadi hafizah yang bisa memberi manfaat untuk sesama,” katanya.
Cita-cita tersebut menjadi motivasi bagi Vanya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuannya, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Ayah Vanya, Husni Zulkarnain, mengaku bersyukur atas perkembangan dan prestasi yang diraih putrinya.
Namun, bagi keluarga, prestasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pendidikan formal dan pembentukan karakter tetap menjadi perhatian utama.
“Kami selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara kegiatan dakwah dan akademik Vanya. Itu yang terpenting, karena bagaimanapun pendidikan juga harus diperhatikan,” jelas Husni.
Bersama sang istri, Siti Maida Sari, Husni terus mendampingi perkembangan Vanya. Dukungan diberikan dengan tetap mengedepankan keteladanan serta memberikan ruang bagi Vanya untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
Bagi keluarga, setiap kegiatan yang dijalani Vanya bukan sekadar mengejar prestasi. Lebih dari itu, proses tersebut diharapkan dapat membentuk karakter, kedisiplinan, rasa percaya diri, serta kepedulian terhadap sesama.
Kini, Vanya terus melangkah dengan berbagai aktivitasnya. Dakwah, penyiaran, hafalan Al-Qur’an, dan pendidikan menjadi bagian dari perjalanan masa kecilnya.
Dari Malang, dai cilik tersebut membawa harapan sederhana: menjadi dokter yang dapat membantu banyak orang sekaligus hafizah yang terus memberikan manfaat melalui ilmu dan pesan-pesan kebaikan.







