Sketsamalang.com, MALANG — Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) meresmikan Kampus 3 Fakultas Pertanian di kawasan Agroedupark UNITRI. Kampus baru ini diarahkan tidak sekadar menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga living laboratory untuk mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan praktik pertanian berkelanjutan.
Rektor UNITRI Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D. mengatakan, kawasan Agro Edupark telah dioptimalkan sejak 2022. Menurutnya, keberadaan Kampus 3 di kawasan tersebut diharapkan dapat mendekatkan ekosistem pendidikan dengan praktik pertanian sekaligus memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
“Dengan mendekatkan ekosistem pendidikan ke kawasan Agroedupark ini akan memberikan dampak yang lebih optimal, tidak hanya kepada insan akademik, tetapi juga kepada masyarakat,” ujar Prof Dodi, Rabu (16/9/2026).
Ia menegaskan, peresmian Kampus 3 bukan sekadar penambahan bangunan atau ruang pembelajaran. Kawasan tersebut dirancang sebagai ruang belajar terbuka, riset terapan, inovasi, pemberdayaan, dan kolaborasi.
Menurut Prof Dodi, pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan. Sektor ini juga menyangkut ketahanan pangan, kesejahteraan petani, penguatan ekonomi desa, kelestarian alam, pengendalian dampak perubahan iklim, serta keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Karena itu, pendidikan pertanian dinilai tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas, laboratorium, maupun melalui buku teks. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung melalui tanah, air, tanaman, teknologi, pasar, serta interaksi dengan masyarakat tani.
“Di tempat inilah teori bertemu praktik,” katanya.

Prof Dodi berharap Kampus 3 Fakultas Pertanian UNITRI berkembang sebagai laboratorium hidup bagi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kawasan tersebut akan dimanfaatkan untuk praktik, magang, pelatihan, proyek lapangan, hingga penguatan kompetensi mahasiswa.
Dalam bidang penelitian, Agroedupark diarahkan menjadi ruang pengembangan riset terapan, antara lain terkait produktivitas pertanian, kesehatan tanah, pemupukan berimbang, pertanian ramah lingkungan, diversifikasi komoditas, pengolahan hasil, kewirausahaan agribisnis, hingga digitalisasi pertanian.
UNITRI juga mendorong kawasan Agroedupark menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, petani, mahasiswa, dan masyarakat.
Prof Dodi menyebut pendekatan pentahelix diperlukan karena perguruan tinggi tidak dapat bergerak sendiri dalam menghadapi tantangan pembangunan pertanian berkelanjutan.
“Dengan semangat dan kekuatan yang kita miliki, mewujudkan ekosistem pentahelix pertanian ini bisa membuat kehidupan yang lebih baik, utamanya untuk menyiapkan mahasiswa agar siap terjun ke masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan kolaborasi nantinya dapat dilihat dari dampak nyata yang dihasilkan. Di antaranya peningkatan produktivitas petani, penerapan teknologi, bertambahnya kompetensi mahasiswa, lahirnya usaha dan inovasi baru, peningkatan pendapatan masyarakat, serta riset yang mampu menjawab persoalan di lapangan.
Sejumlah aktivitas berbasis pertanian dan peternakan juga mulai dirintis di kawasan tersebut. UNITRI turut melibatkan warga desa sebagai tenant kantin yang menggunakan hasil pertanian, termasuk produk yang berasal dari kontribusi mahasiswa, penelitian dosen, petani, dan pelaku UMKM binaan.
Prof Dodi mengatakan, keterbatasan sumber daya tidak menjadi alasan bagi UNITRI untuk tidak memberikan dampak. Kampus justru berupaya mengorkestrasi berbagai sumber daya melalui jejaring dan kolaborasi dengan mitra.
Salah satunya melalui komitmen bersama Petrokimia Gresik untuk membina dua desa. Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pemberdayaan bagi mahasiswa dan dosen sekaligus memperkuat kontribusi UNITRI di masyarakat.
“Agroedupark UNITRI atau Kampus 3 nantinya akan menjadi simbol dari jejaring tersebut, bukan hanya lokasi fisik, tetapi pusat pertemuan antara ilmu, teknologi, petani, mahasiswa, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” kata Prof Dodi.

Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik kehadiran Kampus 3 Fakultas Pertanian UNITRI di kawasan Agroedupark.
Asisten II Pemerintah Kabupaten Malang Prasetyani Arum Anggorowati mengatakan, keberadaan kampus tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Malang.
“Kami Pemerintah Kabupaten Malang, dalam hal ini Bapak Bupati Malang, sangat menyambut baik dengan berdirinya Kampus 3 Fakultas Pertanian di lokasi Agroedupark Universitas Tribhuwana Tunggadewi,” ujar Arum.
Menurutnya, peluang sinergi antara Pemkab Malang dan UNITRI terbuka melalui berbagai program, termasuk kuliah kerja nyata (KKN) dan kerja sama dengan organisasi perangkat daerah terkait.
Untuk sektor pertanian, sinergi dapat dilakukan bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. Sementara bidang peternakan dan kesehatan hewan dapat melibatkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta sektor perikanan melalui Dinas Perikanan.
Arum juga menilai kehadiran perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Malang turut membuka peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kami harapkan ini juga bisa menarik adik-adik yang baru lulusan SMA untuk bisa masuk, khususnya yang ada di Fakultas Pertanian,” katanya.
Kehadiran Kampus 3 Fakultas Pertanian UNITRI sekaligus menambah perkembangan ekosistem pendidikan tinggi di Kabupaten Malang. Sejumlah perguruan tinggi dari Kota Malang sebelumnya juga telah mengembangkan fasilitas atau kegiatan pendidikan di wilayah Kabupaten Malang.
Bagi UNITRI, Agroedupark menjadi bagian dari upaya membangun keunggulan melalui kedekatan dengan masyarakat, kemampuan membaca persoalan lokal, serta mengubah persoalan tersebut menjadi ruang pembelajaran dan inovasi.
Dari kawasan itu, UNITRI menargetkan lahirnya inovasi yang aplikatif, riset yang relevan, usaha baru, peningkatan kompetensi, serta model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan lebih luas.







