Delapan Mahasiswa Asing Belajar Bahasa Indonesia di FIB UB

Delapan Mahasiswa Asing Belajar Bahasa Indonesia di FIB UB

Sketsamalang.com, MALANG — Bahasa Indonesia menjadi pintu masuk bagi delapan mahasiswa internasional untuk mengenal lebih dekat Indonesia. Mereka mengikuti Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) Tahun Akademik 2026/2027.

Program tersebut resmi dibuka melalui Opening Ceremony Program BIPA KNB dan Darmasiswa RI di FIB UB, Selasa (15/9/2026). Selain membekali peserta dengan kemampuan berbahasa Indonesia, program ini menjadi ruang pengenalan budaya, kebiasaan, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Delapan mahasiswa tersebut berasal dari Myanmar, Madagaskar, Timor-Leste, Tanzania, Tiongkok, Korea Selatan, dan Pakistan. Mereka mengikuti tiga skema, yakni BIPA Kemitraan Negara Berkembang (KNB), BIPA Darmasiswa RI, serta program kerja sama FIB UB dengan Tianjin Foreign Studies University (TFSU).

Peserta BIPA dari skema KNB terdiri atas Swann Shine dari Myanmar, Tsantampitiavani Fenomamy Johanah Randriamalala dari Madagaskar, Odilia Denewvia Ramos Da Conceicao Soares dari Timor-Leste, Abednego Elias Stephen dari Tanzania, dan Aafaq Younas dari Pakistan.

Sementara itu, Ling Long dari Tiongkok dan Gong Jaesik dari Korea Selatan mengikuti BIPA melalui skema Darmasiswa RI. Adapun Wang Lili dari Tiongkok mengikuti program melalui kerja sama dengan TFSU.

Bagi penerima beasiswa KNB, penguasaan Bahasa Indonesia menjadi bekal penting sebelum mereka melanjutkan studi akademik jenjang S2 maupun S3 di UB. Selama 10 bulan, peserta akan mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia di FIB UB dan mendapatkan pemantauan secara berkala untuk melihat perkembangan kemampuan masing-masing.

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengatakan keberadaan program KNB dan Darmasiswa memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan Bahasa Indonesia sekaligus budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Program-program negara seperti ini menjadi bagian penting untuk promosi budaya Indonesia dan Bahasa Indonesia kepada negara-negara lain,” ungkapnya.

Menurut Widodo, pelaksanaan BIPA di FIB UB memiliki relevansi kuat karena fakultas tersebut mempunyai sumber daya akademik yang berkaitan dengan bahasa, budaya, dan global engagement.

Ia berharap mahasiswa internasional yang belajar di UB tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga membawa pengetahuan tentang Indonesia ketika kembali ke negara masing-masing.

“Kita tahu mahasiswa asing ini sekarang menjadi keluarga besar kita. Kita ingin mahasiswa kita ini nanti pulang sebagai duta kita, sebagai ambassador UB dan ambassador Indonesia, untuk mempromosikan keberadaan kita, nilai-nilai yang kita miliki, dan juga kualitas budaya Indonesia,” pesannya.

Delapan Mahasiswa Asing Belajar Bahasa Indonesia di FIB UB
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. menyambut mahasiswa asing yang belajar di FIB UB

Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menilai dampak program BIPA dapat berlangsung jauh setelah mahasiswa menyelesaikan masa belajarnya di Indonesia.

Mahasiswa internasional, kata dia, berpotensi menjadi jembatan yang membawa kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia ke lingkungan global.

“Dampaknya adalah, seperti yang disampaikan Pak Rektor, bagaimana mereka membawa budaya Indonesia ini ke global. Banyak local wisdom yang bagus di Indonesia dan bisa dibawa ke ranah internasional melalui program ini,” ujar Sahiruddin.

Karena itu, pembelajaran BIPA tidak berhenti pada penguasaan kosakata dan struktur kalimat. Peserta juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan Indonesia.

Mereka akan mengenal cara berkomunikasi, makanan, kebiasaan, tradisi, lingkungan sosial, hingga keragaman budaya yang terdapat di berbagai daerah.

Sahiruddin berharap semakin banyak mahasiswa internasional yang memilih UB sebagai tempat belajar.

“Harapannya akan semakin banyak mahasiswa asing yang belajar di UB sehingga, seperti yang disampaikan Pak Rektor, mereka nantinya menjadi duta UB dan Indonesia,” katanya.

Bagi peserta, pembelajaran BIPA juga menjadi bagian penting dalam proses adaptasi sebelum menjalani kehidupan akademik di Indonesia.

Odilia Denewvia Ramos Da Conceicao Soares, mahasiswa asal Timor-Leste, mengatakan pembukaan program BIPA menjadi momentum penting untuk memulai pembelajaran Bahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya Indonesia.

“Acara ini sangat penting bagi kami untuk memulai pelajaran tentang Bahasa Indonesia dan budaya Indonesia di Universitas Brawijaya,” ungkap Odilia.

Menurutnya, pemahaman terhadap Indonesia diperlukan sebelum mahasiswa menjalani aktivitas akademik lebih jauh di lingkungan fakultas masing-masing.

“Kita akan mengetahui banyak hal tentang Indonesia, tentang tempat-tempat wisata dan budaya Indonesia. Indonesia memiliki banyak budaya dan banyak makanan. Jadi, kita harus mengetahui tentang itu sebelum mulai belajar di fakultas kita,” jelasnya.

Odilia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama berada di UB dapat dibawa pulang dan dikembangkan di Timor-Leste.

“Kami memiliki harapan besar. Setelah datang ke Indonesia, kami bisa membawa pengetahuan dan pengalaman dari UB. Kemudian kita bisa membuat proyek bersama,” tuturnya.

Mahasiswa yang menekuni bidang arsitektur itu bahkan berharap pengalaman akademiknya dapat menjadi awal kolaborasi antara UB dan Timor-Leste.

“Saya berada di area arsitektur, jadi saya sangat ingin memiliki proyek besar antara UB dan negara saya, Timor-Leste,” katanya.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa mobilitas mahasiswa internasional tidak hanya mempertemukan peserta dari berbagai negara di ruang kelas. Interaksi melalui BIPA juga dapat berkembang menjadi jejaring akademik, kerja sama profesional, proyek bersama, serta hubungan antarnegara.

Dengan demikian, Bahasa Indonesia tidak sekadar menjadi bekal komunikasi selama menempuh pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengenal budaya dan membuka peluang kolaborasi di tingkat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *