UMM dan Syngenta Kembangkan Jagung PRG Tahan Hama, Riset Berlanjut hingga 2028

Sketsamalang.com, BATU – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan teknologi pertanian melalui riset jagung Produk Rekayasa Genetik (PRG). Bekerja sama dengan PT Syngenta Indonesia, UMM menguji tiga varietas jagung unggulan yang memiliki kemampuan tahan terhadap serangan berbagai jenis hama sekaligus herbisida glifosat.

Komitmen penelitian tersebut ditandai dengan kegiatan panen jagung PRG di petak uji produksi benih, Selasa (3/11/2026). Kegiatan berlangsung di lahan pengembangan UMM, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Panen ini menjadi bagian dari keberlanjutan kerja sama penelitian antara Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM dengan PT Syngenta Indonesia yang telah berlangsung sejak 2012.

Perwakilan PT Syngenta Indonesia, Afif Ziyadi Rafi, menjelaskan bahwa kegiatan panen tersebut bertujuan memperoleh data pada fase generatif tanaman. Data hasil pengujian nantinya menjadi salah satu komponen penting dalam proses pelepasan varietas jagung PRG ke pasaran.

“Karena kebetulan kita sudah mencapai fase panen dan fase generatif sudah selesai, kita akan ambil data-data panennya di sini. Ini akan dijadikan salah satu data utama sebagai proses pelepasan varietas jagung PRG atau jagung bioteknologi,” ungkap Afif.

Menurutnya, pengembangan jagung bioteknologi membutuhkan proses penelitian dan asesmen yang panjang. Tahapan tersebut telah dimulai sejak 2012, hingga akhirnya produk mulai diluncurkan pada 2024.

“Proses asesmennya cukup lama, start 2012 dan baru bisa mulai launching produk di 2024, jadi kurang lebih 12 tahun proses registrasi jagung bioteknologi ini,” jelasnya.

Dalam pengujian di lahan seluas hampir dua hektare tersebut, terdapat tiga varietas jagung yang dikembangkan, yakni NK Sumo, NK Perkasa, dan NK Pendekar. Ketiganya memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap herbisida glifosat serta berbagai jenis hama tanaman.

Kepala Program Studi Agroteknologi FPP UMM, Dr. Ir. Agus Zainudin, MP, menjelaskan bahwa teknologi rekayasa genetik tersebut dirancang untuk melindungi tanaman dari serangan hama yang menyerang bagian daun, batang, hingga tongkol.

“Secara istilah sederhananya adalah produk jagung ini nanti tanamannya tahan terhadap serangan hama, ada hama yang spesifik menyerang tongkol, menyerang batangnya, dan menyerang daunnya. Ketiga jenis hama itu bisa diatasi, artinya tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman yang sudah dikembangkan oleh PT Syngenta Indonesia,” paparnya.

Libatkan Mahasiswa dalam Pengujian

Selain menghasilkan data penelitian, kerja sama ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa Agroteknologi UMM. Lahan pengembangan di Kota Batu dimanfaatkan sebagai laboratorium terapan untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam proses pengujian tanaman hasil rekayasa genetik.

Agus mengatakan, mahasiswa semester akhir dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pengujian agar memperoleh gambaran mengenai proses penelitian dan pengembangan varietas tanaman di industri benih.

“Selama proses kegiatan pengujian, kita melibatkan mahasiswa semester akhir supaya tidak mengganggu studinya. Ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi mahasiswa, semacam demo pengujian, bahwa kalau ingin mengembangkan suatu tanaman hasil rekayasa itu bisa melakukan seperti ini pola kerjanya,” terangnya.

Keterlibatan mahasiswa tersebut juga memberikan manfaat bagi pengembangan karier lulusan. Menurut Agus, sejumlah alumni yang pernah terlibat dalam kegiatan penelitian bahkan mendapatkan kesempatan bekerja di PT Syngenta Indonesia karena dinilai memiliki kinerja yang baik.

Kerja sama UMM dan PT Syngenta Indonesia yang telah melewati tiga periode pengujian ini direncanakan terus berlanjut hingga 2028 melalui proyek penelitian berikutnya.

Agus berharap pengalaman penelitian tersebut dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang karier di industri benih yang dinilai masih sangat terbuka.

“Harapannya dari situ semua mahasiswa, semua alumni yang terlibat itu menjadi patokan kita bersama bahwa bekerja di industri benih itu peluangnya sangat besar, sangat terbuka, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa Prodi Agroteknologi UMM khususnya,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi tersebut, UMM tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan teknologi pertanian, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara dunia akademik, penelitian, dan kebutuhan industri benih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *