Dukung SDGs, Tim Pengabdian UB Ajak Siswa SMP Insan Amanah Malang Belajar Urban Farming

Sketsamalang.com, MALANG – Upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan dan kesadaran ketahanan pangan sejak usia sekolah terus dilakukan oleh akademisi Universitas Brawijaya (UB). Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Gen Alpha Bertani di Sekolah: Pengenalan Urban Farming sebagai Upaya Membangun Kepedulian Lingkungan dan Ketahanan Pangan bagi Siswa SMP”, tim pengabdian UB menggelar penyuluhan, pendampingan, dan praktik bercocok tanam di SMP Insan Amanah Kota Malang, Kamis, 15 Oktober 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh 32 siswa dan tiga guru pendamping tersebut bertujuan memperkenalkan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai solusi pemanfaatan ruang terbatas sekaligus media pembelajaran lingkungan yang aplikatif dan menyenangkan bagi generasi muda.

Program pengabdian ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Sitawati, M.S., dengan anggota tim Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, M.S., Dr. Euis Elih Nurlaelih, S.P., M.Si., Dewi Ratih Rizki Damaiyanti, S.P., M.P., dan Ferry Yugo Suhaendro, A.Md. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian kepada masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan.

Dari Ruang Sekolah Menjadi Kebun Edukasi

Salah satu tantangan pengembangan pertanian di wilayah perkotaan adalah keterbatasan lahan. Namun, kondisi tersebut tidak harus menjadi penghalang untuk membudidayakan tanaman pangan dan hortikultura. Melalui penerapan teknologi sederhana menggunakan polibag, pot, dan media tanam yang sesuai, berbagai jenis sayuran dapat dibudidayakan pada ruang terbatas, termasuk di lingkungan sekolah.

Dalam program ini, tim pengabdian memperkenalkan teknik budidaya tanaman hortikultura dengan memanfaatkan area sekolah sebagai kebun pembelajaran. Jenis tanaman yang dipersiapkan meliputi cabai rawit, terong, kangkung, dan sawi.

Sebanyak 60 polibag dipersiapkan dalam rangkaian kegiatan, terdiri atas 20 polibag cabai rawit, 20 polibag terong, 10 polibag kangkung, dan 10 polibag sawi. Penataan tanaman dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan sinar matahari, ketersediaan air, sirkulasi udara, serta kemudahan pemeliharaan.

Penyampaian materi pemilihan komoditas tanaman pada kegiatan penyuluhan urban farming sebagai upaya membangun kepedulian lingkungan dan ketahanan pangan bagi siswa SMP Insan Amanah Kota Malang. (Dokumentasi Tim Pengabdian UB)

Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Ir. Sitawati, M.S., menekankan bahwa pengenalan pertanian kepada generasi muda perlu dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kami ingin menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa bertani bukan hanya kegiatan masyarakat pedesaan, tetapi juga dapat dilakukan oleh generasi muda di lingkungan perkotaan. Melalui urban farming, siswa belajar bahwa ruang yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan. Yang lebih penting, mereka belajar tentang tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan proses panjang di balik tersedianya bahan pangan yang dikonsumsi setiap hari,” ungkap Prof. Sitawati.

Menurutnya, sekolah merupakan tempat yang strategis untuk memperkenalkan konsep pertanian berkelanjutan karena pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman nyata.

Baca juga: Dukung SDGs 2 Tanpa Kelaparan, Dosen dan Mahasiswa KKN FP UB Berikan Penyuluhan Hingga Pembuatan Prototype KRPL di Desa Tlekung

Siswa Antusias Mengikuti Praktik Menanam

Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai konsep urban farming, manfaat bercocok tanam di lingkungan perkotaan, pemilihan komoditas, serta pentingnya pertanian dalam mendukung ketahanan pangan keluarga.

Setelah mendapatkan materi, para siswa mengikuti praktik menanam secara berkelompok dengan pendampingan tim pengabdian dan guru sekolah.

Dalam sesi praktik, siswa diperkenalkan pada cara menyiapkan media tanam, mengisi polibag, menanam bibit, serta memahami kebutuhan dasar tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Mereka juga memperoleh penjelasan mengenai perawatan tanaman, terutama penyiraman, pemupukan, dan pengamatan pertumbuhan tanaman.

Pendekatan praktik langsung ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga berkesempatan menerapkan keterampilan budidaya tanaman menggunakan peralatan sederhana.

Keterlibatan guru pendamping menjadi bagian penting untuk mendukung keberlanjutan program. Kebun urban farming diharapkan dapat terus dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran lingkungan, pengembangan karakter, serta peningkatan keterampilan siswa dalam memanfaatkan sumber daya di sekitar sekolah.

Siswa SMP Insan Amanah Kota Malang mempraktikkan pengisian media tanam dan penanaman menggunakan polibag dalam kegiatan pengabdian masyarakat Universitas Brawijaya, 15 Oktober 2026. (Dokumentasi Tim Pengabdian UB)
Evaluasi Menunjukkan Peningkatan Pemahaman dan Kepercayaan Diri

Untuk mengetahui perubahan pemahaman dan respons siswa terhadap kegiatan, tim pengabdian melaksanakan evaluasi melalui pre-test sebelum penyuluhan dan post-test setelah kegiatan.

Hasil evaluasi terhadap 32 siswa menunjukkan adanya perubahan positif pada sejumlah indikator.

Sebelum kegiatan, sebanyak 34,4 persen siswa menyatakan memahami istilah urban farming. Setelah mengikuti penyuluhan dan praktik, persentase tersebut meningkat menjadi 90,6 persen, atau bertambah 56,3 poin persentase.

Peningkatan juga terlihat pada aspek kepercayaan diri. Siswa yang menyatakan sangat yakin mampu melakukan penanaman secara mandiri meningkat dari 25 persen menjadi 65,6 persen.

Sementara itu, persentase siswa yang menyatakan sangat tertarik untuk belajar menanam meningkat dari 28,1 persen menjadi 46,9 persen. Pengalaman menanam yang dilaporkan siswa juga meningkat dari 75 persen menjadi 100 persen setelah kegiatan berlangsung.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik berpotensi memperkuat pemahaman, minat, serta keberanian siswa untuk mencoba kegiatan bercocok tanam secara mandiri.

Meskipun pengetahuan dasar siswa sejak awal sudah tergolong tinggi, evaluasi juga mengidentifikasi perlunya penguatan materi mengenai pemanfaatan wadah bekas sebagai media tanam. Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan kegiatan pendampingan selanjutnya.

Mendukung SDGs dan Pendidikan Berkelanjutan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya memperkenalkan teknologi pertanian sederhana, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Program ini berkaitan dengan SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengenalan produksi pangan skala kecil, SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, serta SDGs 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pemanfaatan ruang perkotaan secara produktif.

Selain itu, kegiatan mendukung SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengenalan pemanfaatan sumber daya secara bijak, SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pendidikan praktik pertanian berkelanjutan, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah.

Prof. Sitawati berharap kegiatan urban farming dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran berkelanjutan di sekolah, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengalaman menanam, tetapi juga memahami cara merawat tanaman hingga menghasilkan pangan.

“Keberhasilan kegiatan ini tidak hanya diukur dari berapa banyak tanaman yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran siswa untuk merawat dan menjaga lingkungan. Kami berharap kebun sekolah ini menjadi laboratorium hidup yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sekaligus menumbuhkan generasi muda yang mencintai pertanian dan memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan,” tambahnya.

Melalui kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan SMP Insan Amanah Kota Malang, program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya bertani di lingkungan sekolah sekaligus memperkenalkan pertanian sebagai bidang yang relevan, menarik, dan penting bagi masa depan generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *