Sri Untari Dorong Kota Malang Jadi Pusat Industri Obat Bahan Alam

Sketsamalang.com, MALANG – Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur mendorong penguatan dan pengembangan industri obat bahan alam, jamu tradisional, hingga pemanfaatan fitofarmaka di fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Kota Malang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat industri dan pengolahan herbal.

Dorongan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja Komisi E DPRD Jawa Timur ke Kota Malang, Selasa (8/9/2026).

Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., mengatakan pengembangan tanaman obat bahan alam membutuhkan komitmen dan sinergi yang kuat dari pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Menurutnya, pengembangan sektor tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, pelaku UMKM hingga tenaga kefarmasian.

“Kota Malang bisa menjadi pusat industri obat bahan alam, seperti mendirikan pabrik atau fasilitas pengolahan. Ini adalah bagian dari cara kita mendasari tata kelola pemerintahan ke depan agar memiliki misi menyehatkan masyarakat secara mudah, murah, dan memberdayakan seluruh entitas, mulai dari petani, UMKM, hingga apoteker,” tegas Sri Untari.

Komisi E DPRD Jatim juga mengusulkan agar Dinas Kesehatan Kota Malang menyiapkan salah satu Puskesmas sebagai proyek percontohan atau *pilot project* layanan obat bahan alam.

Puskesmas tersebut diharapkan memiliki layanan khusus berupa pojok obat bahan alam dan herbal, yang terintegrasi dengan layanan terapi tradisional, seperti bekam dan akupunktur.

Apabila program percontohan tersebut berjalan baik, konsep serupa dapat dikembangkan dan direplikasi di Puskesmas lain di Kota Malang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menyambut positif arahan dan masukan dari Komisi E DPRD Jawa Timur.

Dinas Kesehatan Kota Malang, kata dia, siap berkolaborasi dengan perangkat daerah terkait untuk memetakan potensi yang dimiliki 16 Puskesmas di Kota Malang dalam pengembangan tanaman obat bahan alam.

“Dulu kita punya Puskesmas Cisadea yang unggul dalam pengelolaan Tanaman Obat Keluarga atau TOGA. Nanti akan kita petakan kembali 16 Puskesmas sesuai karakter wilayahnya untuk dihubungkan dalam pengembangan tanaman bahan alam, termasuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik atau CPOTB,” jelas dr. Husnul.

Ia menambahkan, sejumlah jenis fitofarmaka selama ini telah dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi penunjang, antara lain untuk membantu menjaga imunitas dan mendukung proses pemulihan pascaoperasi.

Ke depan, Dinas Kesehatan Kota Malang berencana mengumpulkan para dokter Puskesmas untuk memperkenalkan berbagai obat bahan alam yang telah masuk dalam formularium. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan obat bahan alam secara lebih optimal dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Pengembangan ekosistem obat bahan alam di Kota Malang juga diharapkan mampu membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat pemanfaatan potensi lokal di sektor kesehatan dan industri herbal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *