Perkuat Ekosistem Literasi, FIB UB Hadirkan Dialektika Karya: Ruang Temu Buku dan Film

Sketsamalang.com, MALANG – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) memperkuat ekosistem literasi akademik melalui kegiatan bertajuk Dialektika Karya: Ruang Temu Buku dan Film. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-17 FIB UB ini menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari bedah buku, bazar buku klasik, pameran aksara dan naskah, pemutaran film dokumenter hingga pementasan monolog.

Berlangsung pada 2–6 November 2026, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi dosen, mahasiswa, penulis, peneliti, dan pekerja seni untuk berbagi gagasan sekaligus memperkenalkan berbagai karya kepada masyarakat.

Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-17 FIB UB, Maulfi Syaiful Rizal, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda perayaan hari jadi fakultas. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat budaya literasi akademik dan membuka ruang diseminasi karya ilmiah maupun seni.

“Kegiatan Book Discussion Week merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis ke-17 FIB UB dengan rangkaian berupa bazar buku klasik, pameran aksara gata, pemutaran film dokumenter, bedah buku, dan pasar monolog,” jelas Maulfi.

Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan memperkuat budaya literasi akademik melalui diseminasi karya ilmiah dan film, pertukaran gagasan, serta diskusi kritis terhadap buku hasil program hibah penerbitan maupun karya para pemateri.

Rangkaian Dialektika Karya dikemas dalam sejumlah agenda. Bedah buku berlangsung pada 4 dan 5 November pukul 08.00–16.00 WIB serta 6 November pukul 12.00–16.00 WIB di Hall Lantai 7 Gedung A FIB UB.

Sementara itu, Bazar Buku Klasik dan Pameran Aksara Gata digelar pada 2–6 November di Hall Lantai 1 Gedung A FIB UB. Pemutaran film dokumenter juga berlangsung pada periode yang sama. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pementasan Pasar Monolog pada Jumat (6/11/2026), pukul 14.00–18.00 WIB di Aula Lantai 2 Gedung A FIB UB.

Maulfi menyebut, salah satu keunikan kegiatan ini adalah kehadiran pameran naskah kuno dan artefak yang memperkenalkan sekaligus melestarikan tradisi intelektual dan budaya.

“Hal yang unik dari acara ini adalah memperkenalkan dan melestarikan tradisi melalui pameran naskah kuno dan artefak di tengah gempuran kecerdasan,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan buku klasik dan naskah kuno menjadi penting di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Khazanah literasi historis tersebut menyimpan nilai intelektual dan kultural yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi masa kini.

Perkuat Ekosistem Literasi, FIB UB Hadirkan Dialektika Karya: Ruang Temu Buku dan Film
Bedah Buku
Bedah Buku Hadirkan Beragam Perspektif

Salah satu agenda utama Dialektika Karya adalah bedah buku yang menghadirkan sejumlah penulis dan pemateri dengan karya serta perspektif berbeda.

Pada Kamis (5/11/2026), salah satu buku yang dibahas adalah Industri Budaya Sastra Anak: Esai tentang Ekosistem Buku Anak di Indonesia yang dipresentasikan Henny Indarwaty, M.A. Diskusi buku tersebut menghadirkan Rizky Noviasri, M.Ds. dari Universitas Internasional Semen Indonesia sebagai pembahas.

Pembahasan menyoroti ekosistem sastra anak di Indonesia, mulai dari proses produksi, distribusi, pembacaan hingga posisi buku anak dalam industri budaya.

Sehari sebelumnya, Rabu (4/11/2026), peserta juga mengikuti bedah buku *Cerita-Cerita yang (Tidak) Mungkin* karya Slamet Thohari, S.Fil., M.A., serta *MBGendam 204 Penyair Indonesia: Puisi Menolak Korupsi #10* karya Yohanes Padmo Adi Nugroho, S.S., M.Hum.

Kedua buku tersebut menghadirkan prosa dan puisi sebagai ruang ekspresi untuk mengolah pengalaman, kritik sosial, imajinasi, serta berbagai persoalan masyarakat.

Agenda lainnya menghadirkan Wayan Jarrah Sastrawan, Ph.D. dari Australian National University melalui buku *The Precarious Past in Premodern Java*. Buku ini membahas bagaimana masyarakat Jawa pra-modern pada abad kelima hingga kelima belas Masehi membangun, menyimpan, dan mewariskan pengetahuan tentang masa lalu.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya diwariskan melalui sumber tertulis. Tradisi lisan dan tertulis dapat hadir berdampingan, terutama ketika manuskrip mengalami kerusakan, arsip tersebar, dan ingatan sejarah memudar antargenerasi.

Sementara itu, pada Jumat (6/11/2026), bedah buku juga menghadirkan *Kalajengking Bandaran* karya Ardi Wina Saputra. Karya tersebut mengangkat narasi Rosella, figur dari kelompok marginal yang kalah dan terhapus dari sejarah yang ditulis pihak berkuasa.

Melalui berbagai karya tersebut, diskusi literasi tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga membuka ruang pembicaraan mengenai kekuasaan, ingatan, kritik sosial, dan kelompok masyarakat yang kerap luput dari catatan sejarah.

Film Dokumenter Angkat Sejarah dan Budaya Lokal

Selain buku, film dokumenter menjadi bagian penting dalam rangkaian Dialektika Karya. Melalui Bioskop Pojok Fakultas Ilmu Budaya, sejumlah film dokumenter dan karya mahasiswa diputar dalam dua sesi pada Rabu dan Kamis (4–5/11/2026).

Pada hari pertama, film yang diputar antara lain *Babat Tanah Ndhilkoro: Perjalanan Kisah Sejarah Berdirinya Desa Rejosari*, *Jejak Sejarah dan Kebudayaan Tanah Srigonco*, *Potensi dan Cerita Desa Balesari: Dari Sumber Jodho hingga Kopi Lereng Kawi*, *Jejak Babadan*, serta *Thrift Culture: Solusi atau Tren?*

Sesi kedua menghadirkan *Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung*, *Desa Srigonco*, *Pawon – Warisan Tradisi Budaya Arsitektural Masyarakat Jawa*, dan *The Water Keeper*.

Sementara pada hari kedua, film yang diputar meliputi *Unan-unan Desa Jetak Tengger*, *Dokumenter Kebudayaan Desa Sumberputih*, *Denyut Bantengan di Jantung Sumberputih*, *Di Kaliurang*, *Srawung Budaya Desa Jambuwer*, *RAN, Panglima Rasa*, serta *Lumintu-Kisah Semangkuk Soto Kambing Malang*.

Beragam film tersebut mengangkat tema sejarah desa, kebudayaan lokal, arsitektur tradisional, lingkungan, hingga fenomena gaya hidup. Melalui media audiovisual, pengetahuan hasil penelitian dan pengamatan sosial dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih beragam.

**Pasar Monolog Pertegas Ruang Ekspresi Lintas Generasi**

Rangkaian Dialektika Karya juga menghadirkan seni pertunjukan melalui Pasar Monolog bertema “Lintas Generasi, Satu Harmoni, Membersamai Menikmati”.

Pementasan ini menampilkan sejumlah monologis dengan naskah berbeda, yakni Ainun Ali melalui *Aku Ingin Cepat Dewasa*, Ji Wenih Janandrini Nur Kinasih dengan *PR*, Mikai Rafael F. melalui *Kursi Goyang*, Davina dengan *Tolong*, Yoko Pratama melalui *Patih Nguntalan*, serta Muhammad Zaeni “Leo” dengan *Niskala*.

Kegiatan yang dibawakan Kelompok Bermain Kangkung Berseri ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi melalui seni pertunjukan. Gagasan yang sebelumnya hadir dalam buku dan diskusi kemudian disampaikan secara langsung melalui tubuh, suara, ekspresi, dan pengalaman para aktor.

Maulfi berharap, seluruh rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-17 FIB UB dapat memberikan dampak berkelanjutan, terutama dalam pengembangan kegiatan literasi di lingkungan perguruan tinggi.

“Harapan dari kegiatan ini adalah munculnya kegiatan-kegiatan literasi sebagai upaya diseminasi hasil penelitian dan pengabdian dosen dan mahasiswa sehingga terbentuk ekosistem literasi yang kolaboratif di perguruan tinggi,” ujarnya.

Melalui Dialektika Karya, FIB UB berupaya mempertemukan berbagai bentuk pengetahuan dan ekspresi kreatif dalam satu ruang kolaborasi. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca, tetapi juga mencakup diskusi, penerbitan, pameran, pemutaran film, hingga pertunjukan seni.

Momentum Dies Natalis ke-17 ini sekaligus menegaskan pentingnya menjaga tradisi intelektual dan budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta kecerdasan artifisial. Sebab, pengetahuan tidak hanya dihasilkan melalui karya, tetapi juga perlu terus dihidupkan melalui dialog, kritik, pertukaran gagasan, dan apresiasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *