Sketsamalang.com – Krisis air bersih yang masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Malang, terutama saat musim kemarau, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
KKN Berdampak UMM Kelompok 171 mengubah sumur yang selama bertahun-tahun tidak digunakan menjadi sumber air siap minum bagi warga Dusun Majapurna, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Program tersebut direalisasikan dengan memasang instalasi penyaring air menggunakan sistem multi-stage filtration pada Selasa (11/8/2026).
Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa sekaligus upaya UMM memperluas akses masyarakat terhadap air bersih. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan peran UMM sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem yang mendorong pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Sistem yang dipasang memanfaatkan air dari sumur yang sebelumnya tidak digunakan oleh warga. Air dipompa dan dialirkan melalui empat tahap penyaringan untuk mengurangi lumpur, partikel halus, bau, serta kontaminan lainnya.
Setelah melewati proses filtrasi, air kemudian disterilkan menggunakan Ultraviolet (UV) Sterilizer. Dengan rangkaian tersebut, air yang sebelumnya dianggap kurang layak digunakan sebagai air minum kini dapat dimanfaatkan setelah melalui proses penyaringan dan sterilisasi.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Berdampak UMM, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada penyediaan air bersih, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam menjaga dan mengelola fasilitas secara mandiri.
“Program ini kami rancang agar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Sebagai perguruan tinggi yang mengemban amanah UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, UMM memiliki tanggung jawab menghadirkan inovasi yang mendukung pengelolaan air secara berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan melalui pendekatan akademik, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat langsung dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Rindya, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi pengeluaran warga untuk memperoleh air minum. Selain itu, inovasi tersebut dapat menjadi contoh pengelolaan sumber air yang berpotensi diterapkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Salah satu penerima manfaat, Holi, warga Dusun Majapurna, mengaku terbantu dengan keberadaan fasilitas tersebut. Warga kini memiliki akses air minum tanpa harus membeli atau mengambil air dari lokasi yang jauh.
“Dulu sumur ini tidak digunakan karena airnya dianggap kurang layak untuk diminum. Sekarang, berkat bantuan ini, airnya sudah bisa langsung dikonsumsi. Kami sangat terbantu karena tidak perlu lagi membeli air minum atau mengambil air dari tempat yang jauh,” tuturnya.
Tak hanya memasang instalasi, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi kepada warga mengenai cara menjaga kualitas sumber air, merawat instalasi penyaring, serta mengelola fasilitas secara berkelanjutan.
Edukasi tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama sehingga fasilitas tetap terawat dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat meski masa pelaksanaan KKN telah berakhir.
Program pemanfaatan sumur terbengkalai ini sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi (Clean Water and Sanitation).
Melalui inovasi tersebut, KKN Berdampak UMM menunjukkan bahwa sumber air yang sebelumnya terbengkalai dapat dioptimalkan menjadi fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari sumur yang selama ini tidak dimanfaatkan, warga Dusun Majapurna kini memiliki akses terhadap air yang telah melalui proses penyaringan dan sterilisasi.
Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk komitmen UMM sebagai Kampus Berdampak untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya air.






