FKPQ Jatim Dorong Guru Ngaji Kuasai Digital, Isi Ruang Maya dengan Konten Al-Qur’an

Sketsamalang.com, SURABAYA — Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) Jawa Timur mendorong guru ngaji tidak hanya aktif mengajar di TPQ, rumah tahfiz, dan lembaga pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga hadir di ruang digital.

Dorongan itu mengemuka dalam Workshop Intensif FKPQ Jawa Timur bertajuk Digital Dakwah & Personal Branding yang berlangsung pada 26–27 September 2026 di Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya.

Workshop tersebut diikuti pengurus FKPQ Jawa Timur serta perwakilan dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur. Peserta mendapatkan materi mengenai public speaking, personal branding, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pembuatan konten dakwah.

Tidak hanya teori, kegiatan juga dilengkapi sesi praktik pada hari kedua. Peserta diarahkan untuk menerapkan kemampuan yang diperoleh dalam aktivitas dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.

Ketua FKPQ Jawa Timur KH Abdul Aziz mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kontribusi FKPQ sekaligus menindaklanjuti hasil Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).

Menurutnya, FKPQ telah melahirkan berbagai kreativitas, salah satunya Mars FKPQ yang ke depan diharapkan dapat dikembangkan menjadi sebuah festival.

Namun, perkembangan zaman menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan Al-Qur’an, termasuk kemampuan menggunakan teknologi digital.

Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menyebut sekitar 46 ribu TPQ aktif tercatat dalam EMIS. Sementara secara keseluruhan, jumlah TPQ disebut telah mencapai lebih dari 70 ribu lembaga.

Besarnya jumlah lembaga tersebut dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi pengelola dan guru ngaji.

“Guru harus melek digital,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam workshop tersebut. Selain kemampuan digital, penguatan tahsin Al-Qur’an, PMPQ Naghomah, dan kompetensi lainnya juga dinilai penting.

KH Abdul Aziz juga berharap perhatian pemerintah terhadap guru ngaji terus berkembang, termasuk terkait insentif bagi guru ngaji di Jawa Timur.

Ia menekankan agar peserta tidak berhenti pada kehadiran dalam kegiatan, tetapi mengikuti seluruh proses pembelajaran hingga mampu mempraktikkan ilmu yang diperoleh.

Pentingnya kehadiran guru ngaji di ruang digital juga disampaikan KH Lukman Hakim, Ketua Tim Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Jawa Timur, yang hadir mewakili jajaran Tim LPQ.

Ia menyampaikan salam dari Kabid Pekapontren Imam Turmudzi yang berhalangan hadir karena agenda Porsadin.

KH Lukman mengapresiasi kolaborasi FKPQ Jawa Timur dengan Pesantren Al Yasmin. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan transformasi digital pesantren yang terus didorong Direktorat Jenderal Pesantren.

Penguasaan AI, teknologi digital, dan public speaking, kata dia, dapat membantu guru TPQ mendukung percepatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.

Namun, kemampuan tersebut juga diperlukan agar guru ngaji mampu menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an melalui ruang digital.

Menurutnya, masyarakat, terutama generasi muda, menghabiskan sebagian waktunya di media sosial. Setiap saat, berbagai konten baru diproduksi dan dikonsumsi pengguna.

Algoritma platform digital kemudian cenderung menyajikan kembali konten yang sesuai dengan pola tontonan dan ketertarikan pengguna.

Karena itu, ia menilai kehadiran konten edukatif dan bernuansa Al-Qur’an menjadi penting untuk memperkaya ruang digital.

“Kalau para ustaz diam, siapa yang akan mengisi ruang digital?” ujarnya.

Menurut KH Lukman, pertanyaan tersebut menjadi refleksi sekaligus ajakan agar guru ngaji tidak hanya hadir di masjid, musala, mimbar, dan ruang kelas, tetapi juga di ruang digital yang menjadi tempat generasi muda beraktivitas.

Kehadiran tersebut bukan semata-mata untuk menjadi influencer, melainkan menjadi penggerak penyebaran konten Al-Qur’an, seperti tartil, qiraah, kaligrafi, nagham, ilmu Al-Qur’an, akhlak, dan pesan-pesan kebaikan.

KH Lukman juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap pola komunikasi digital. Ia menggunakan istilah “buzzer Al-Qur’an” sebagai gambaran tentang perlunya memperbanyak konten positif dan Islami di ruang digital.

Menurutnya, konten Islami perlu dikemas secara menarik, komunikatif, dan sesuai dengan karakter pengguna media sosial agar pesan yang disampaikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

“Di dunia nyata kita berdakwah. Di dunia maya juga harus kuat,” katanya.

Dengan kemampuan public speaking, personal branding, dan pemanfaatan AI, guru ngaji diharapkan mampu mengemas pesan Al-Qur’an ke dalam berbagai format.

Mulai video pendek, podcast, desain visual, rekaman qiraah, materi edukasi, hingga dakwah kreatif.

Workshop tersebut juga membawa pesan bahwa sarana menyebarkan dan merawat nilai-nilai Al-Qur’an dapat mengikuti perkembangan zaman.

Jika pada masa lalu ayat-ayat Al-Qur’an ditulis menggunakan berbagai media yang tersedia, kini masyarakat hidup di tengah perkembangan smartphone, kamera digital, media sosial, dan kecerdasan buatan.

Berbagai teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan Al-Qur’an lebih dekat dengan masyarakat.

Teknologi dan medianya berubah, tetapi pesan yang disampaikan tetap sama, yakni Al-Qur’an terus dibaca, dipelajari, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam kegiatan tersebut, Tim LPQ Jawa Timur juga mendorong pemanfaatan **LPQJatim.id** sebagai bagian dari penguatan data dan informasi lembaga pendidikan Al-Qur’an di Jawa Timur.

Data dinilai bukan sekadar angka, melainkan dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan, kebutuhan, potensi, metode pembelajaran, serta perkembangan lembaga pendidikan Al-Qur’an.

Dengan pengelolaan data yang baik, gerakan pendidikan Al-Qur’an diharapkan semakin terarah dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

FKPQ juga didorong untuk berkembang tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang berbasis data, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan masyarakat.

KH Lukman menyebut agenda FKPQ dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan geliat. Ke depan, gerakan tersebut diharapkan semakin memberikan dampak terhadap perkembangan pendidikan Al-Qur’an dan penyebaran nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Workshop dua hari di Pesantren Digipreneur Al Yasmin pada akhirnya tidak hanya menjadi pelatihan pembuatan konten atau penggunaan AI.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperluas cara pandang guru ngaji terhadap ruang pengabdian.

Guru ngaji tidak harus meninggalkan ruang pendidikan konvensional. Sebaliknya, ruang pengabdian dapat diperluas hingga dunia digital.

Ketika generasi muda membuka TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, maupun platform digital lainnya, mereka diharapkan juga menemukan lantunan Al-Qur’an, ilmu agama, kisah inspiratif, akhlak mulia, qiraah, dan pesan dakwah yang menyejukkan.

Dari masjid ke media sosial. Dari TPQ ke ruang digital. Dari guru ngaji menjadi penggerak dakwah digital.

FKPQ Jawa Timur berharap semakin banyak suara Al-Qur’an hadir di dunia maya.

Pertanyaan “Kalau para ustaz diam, siapa yang akan mengisi ruang digital?” pun menjadi pekerjaan rumah setelah workshop berakhir.

Sebab, ketika para peserta kembali ke daerah masing-masing, di situlah gerakan dakwah digital diharapkan mulai berjalan dengan menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an di ruang yang setiap hari menjadi tempat beraktivitas jutaan pengguna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *