Sketsamalang.com – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) resmi menerapkan Waste Weighing System sebagai sistem pengelolaan limbah berbasis data. Program ini mewajibkan seluruh sampah di lingkungan fakultas ditimbang dan dipilah setiap hari berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu, guna memperoleh data akurat sebagai dasar strategi pengurangan limbah.
Program tersebut merupakan bagian dari komitmen FTAB UB dalam mewujudkan Smart Green Campus sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yakni Responsible Consumption and Production atau konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Ketua Tim Smart Green Campus FTAB UB, Dr. Kiki Gustinasari, mengatakan selama ini fakultas belum memiliki data dasar yang valid mengenai volume maupun jenis limbah yang dihasilkan. Melalui sistem penimbangan tersebut, pihaknya dapat memetakan sumber limbah sekaligus mengevaluasi efektivitas program pengurangan sampah.
“Kalau tidak ditimbang dan dipilah, kita tidak tahu sumber limbah terbesarnya dari mana. Dengan sistem ini, setiap bulan kami bisa melihat trennya. Target kami jelas, total limbah harus turun setiap bulan,” ujarnya.

Menurutnya, seluruh hasil penimbangan akan dihimpun dalam laporan Smart Green Campus FTAB yang dapat diakses secara transparan oleh pimpinan fakultas maupun pihak terkait sebagai bahan evaluasi dan pengambilan kebijakan.
Tak hanya melakukan pencatatan limbah, FTAB UB juga mengimplementasikan strategi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menekan produksi sampah di lingkungan kampus.
Pada aspek Reduce, fakultas mendorong penerapan sistem paperless, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengajak sivitas akademika menggunakan wadah makan dan minum yang dapat dipakai berulang kali di kantin.
Sementara pada aspek Reuse, sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos yang digunakan untuk mendukung kegiatan di kebun praktik mahasiswa.
Adapun pada aspek Recycle, FTAB UB bekerja sama dengan bank sampah kampus untuk mengelola sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi sehingga dapat didaur ulang secara optimal.
Dr. Kiki menegaskan bahwa implementasi SDGs 12 tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan kampus melalui langkah-langkah sederhana yang berdampak nyata.
“SDGs 12 bukan hanya target nasional. Di level fakultas, ini dimulai dari hal sederhana, yaitu mengetahui berapa sampah yang kita hasilkan, lalu menguranginya bersama-sama. Ini adalah budaya, bukan proyek sesaat,” tegasnya.
Melalui penerapan Waste Weighing System, FTAB UB menargetkan terciptanya sistem pengelolaan limbah yang terukur, transparan, dan berkelanjutan. Fakultas juga berharap program tersebut dapat menjadi model pengelolaan sampah kampus yang dapat diterapkan di lingkungan Universitas Brawijaya maupun perguruan tinggi lainnya.






