Sketsamalang.com – Inovasi teknologi untuk mendukung sektor pertanian kembali lahir dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dosen Program Studi Teknik Mesin D3 ITN Malang, Dr. Ir. Aladin Eko Purkuncoro, S.T., M.T., bersama tim lintas program studi berhasil mengembangkan sistem kendali pintu saluran irigasi jarak jauh berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Inovasi tersebut mengantarkan tim ITN Malang meraih Program Hibah Hilirisasi Riset Prioritas Skema Ajakan Industri Tahun 2025 dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Proyek ini merupakan riset multi-tahun yang berlangsung pada 2025–2026 dengan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta PT Merapi Tani Instrumen (Mertani) sebagai mitra industri.
Pengembangan teknologi tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi petugas irigasi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Selama ini, pengoperasian pintu air masih dilakukan secara manual sehingga petugas harus datang langsung ke lokasi ketika terjadi hujan deras maupun saat diperlukan pengaturan debit air pada musim kemarau.
“Awalnya Mertani telah memasang instrumen digital untuk pemantauan cuaca di Sulawesi, tetapi pengoperasian pintu air masih dilakukan secara manual. Ketika debit air meningkat, petugas lapangan dihubungi melalui telepon untuk membuka pintu air. Dari kebutuhan itu kami mengembangkan sistem berbasis IoT agar pengendalian dapat dilakukan dari jarak jauh,” ujar Aladin saat ditemui di Kampus 2 ITN Malang, akhir Juni 2026.

Melalui sistem yang dikembangkan, pintu irigasi dapat dikendalikan menggunakan telepon pintar maupun komputer. Teknologi ini memanfaatkan sensor hujan, sensor tinggi muka air, serta server yang terintegrasi dengan jaringan satelit dan kamera pengawas (CCTV), sehingga kondisi saluran irigasi dapat dipantau secara real time.
Dengan sistem tersebut, petugas dari Kementerian PU, mitra industri, maupun tim peneliti ITN Malang dapat memonitor sekaligus mengatur buka-tutup pintu air secara presisi dari berbagai lokasi, termasuk Jakarta, Malang, maupun Sulawesi, sesuai kebutuhan debit air di lapangan.
Pengembangan teknologi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan mahasiswa. Tahap awal simulasi sistem dilakukan di Laboratorium Teknik Elektro Kampus 2 ITN Malang, sementara proses perakitan perangkat dikerjakan di workshop. Mahasiswa juga diterjunkan langsung ke Sulawesi Selatan untuk melakukan survei lapangan, mengumpulkan data jarak saluran irigasi, serta mengukur debit air sebagai dasar penyusunan sistem IoT.
Pada tahun pertama pelaksanaan proyek, tim berhasil menyelesaikan purwarupa berbahan pelat baja yang telah disesuaikan dengan kondisi lapangan. Inovasi tersebut telah mencapai **Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7**, yang menandakan teknologi telah tervalidasi dalam lingkungan operasional.
Selain menghasilkan purwarupa, riset ini juga melahirkan dashboard monitoring, dokumen desain teknis, serta draf paten sederhana sebagai bagian dari luaran penelitian.
Memasuki tahun kedua pada 2026, tim tengah mengajukan pemasangan perangkat di lokasi irigasi sesungguhnya di Kabupaten Pinrang. Apabila implementasi berjalan sesuai rencana, teknologi tersebut akan ditingkatkan menuju **TKT 8**, sehingga siap memasuki tahap produksi dan replikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Aladin, PT Merapi Tani Instrumen menilai inovasi tersebut memiliki potensi besar karena mampu menjawab kebutuhan nyata pengelolaan irigasi modern berbasis data.
Ia berharap hasil riset tersebut tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi benar-benar menjadi solusi yang dapat diterapkan secara luas untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air di sektor pertanian.
“Alat ini sudah tervalidasi pada TKT 7 dan target berikutnya adalah mencapai TKT 8 agar dapat memasuki tahap produksi massal. Harapan kami, sistem kendali irigasi berbasis IoT ini menjadi proyek percontohan sekaligus solusi yang dapat diterapkan di berbagai pintu air di Indonesia guna mendukung ketahanan pangan nasional,” tutup Aladin.






