Sketsamalang.com, MALANG – Bergabung dengan Koperasi SBW Malang membuka peluang bagi Endang Setyawati, pemilik Defaa Collection, untuk mengembangkan usaha daster bordir khas Malangan. Dukungan akses permodalan dan jaringan pemasaran membantu usaha yang dirintisnya selama belasan tahun tersebut terus berkembang.
Endang telah menjalankan usahanya sekitar 12–15 tahun. Perjalanan bisnisnya dimulai dari bekerja sebagai penjahit, sebelum beralih memproduksi seprai, sarung bantal, sarung kursi, hingga berbagai suvenir, seperti tas, tempat tisu, dan mukena.
Seiring waktu, Endang melihat peluang usaha yang menjanjikan pada produk daster bordir khas Malangan. Ia pun memutuskan untuk fokus mengembangkan produk tersebut hingga sekarang.
“Saya rasa kok ini menjanjikan, makanya saya terus buat daster bordir Malangan ini sampai sekarang,” ujarnya.
Produk Defaa Collection yang diproduksi di Perumahan Mangliawan Permai, Kabupaten Malang, memiliki keunggulan pada motif bordir berciri khas Malangan. Produk ini juga banyak diminati sebagai oleh-oleh bagi pendatang dari luar kota.
“Jadi kan selalu dibeli untuk oleh-oleh setiap pendatang yang dari luar, itu daya tariknya daster bordir Malangan. Makanya di situ pasarnya lebih, kalau dibandingkan dengan daster-daster yang lain,” jelas Endang.
Untuk memperluas pemasaran, Endang memanfaatkan berbagai saluran, mulai dari komunitas perempuan yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana hingga mengikuti sejumlah pameran. Ia juga memasarkan produknya melalui Koperasi SBW Malang.
Endang mulai bergabung sebagai anggota Koperasi SBW sekitar 2008 atau 2009. Salah satu manfaat yang paling dirasakannya adalah kemudahan memperoleh akses permodalan untuk mendukung keberlangsungan dan pengembangan usaha.
Melalui program Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), yang kemudian berlanjut menjadi PMPU, Endang mengawali akses pinjamannya sebesar Rp5 juta. Saat ini, ia menyebut dapat mengakses pinjaman hingga Rp20 juta setiap tiga bulan.
“Ya, karena di SBW itu saya dapat pinjaman dari awal itu Rp5 juta, sampai saat ini saya bisa pinjam, nanti untuk 3 bulan kemudian saya bisa pinjam Rp20 juta,” tuturnya.
Bagi Endang, dukungan permodalan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga perkembangan usahanya. Keberadaan koperasi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha perempuan untuk memperluas pemasaran dan mengembangkan potensi bisnis.
Ia pun berpesan kepada anggota koperasi lainnya agar tidak ragu memulai atau mengembangkan usaha sesuai peluang yang tersedia. Menurutnya, pilihan usaha perempuan sangat beragam dan tidak terbatas pada bidang pakaian.
“Karena usaha wanita itu kan banyak, nggak harus kita buat pakaian, usaha makan dari misalkan kue kering, atau masakan, keripik kekinian yang sekarang lagi bermunculan, itu kan bisa menjadi ide bisnis,” pesannya.
Pengalaman Endang menunjukkan bahwa akses permodalan dan jaringan pemasaran dapat menjadi dukungan penting bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan. Melalui Koperasi SBW Malang, ia terus mengembangkan Defaa Collection dengan mengandalkan produk daster bordir berciri khas Malangan yang memiliki pasar tersendiri.







