Sketsamalang.com, MALANG – Debat terbuka calon Ketua OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMA Negeri 6 Kota Malang periode 2026–2027 berlangsung dengan format tanya jawab yang berfokus pada gagasan dan solusi. Kegiatan yang digelar di lapangan sekolah pada Selasa (20/10/2026) ini menjadi ajang bagi para kandidat untuk memaparkan visi, misi, serta program kerja mereka.
Ratusan siswa menyaksikan kegiatan tersebut. Berbeda dengan debat pada umumnya, forum ini tidak mempertemukan kandidat dalam adu argumen, melainkan memberikan kesempatan kepada setiap calon untuk menjawab pertanyaan dari guru, perwakilan siswa, serta pengurus OSIS dan MPK yang sedang menjabat.
Salah satu panitia penyelenggara, Fawwaz, mengatakan format tersebut dipilih agar para kandidat dapat menyampaikan gagasan secara utuh tanpa terjebak dalam perdebatan yang saling menyerang.
“Format ini kami pilih agar setiap kandidat bisa menyampaikan gagasannya secara utuh tanpa terjebak pada saling serang argumentasi. Fokusnya pada kualitas ide dan kesiapan mereka memimpin organisasi,” ujar Fawwaz.
Enam kandidat mengikuti pemilihan tahun ini, terdiri atas tiga calon Ketua OSIS dan tiga calon Ketua MPK.
Untuk posisi Ketua OSIS, nomor urut 1 ditempati Nathania Dewi dari kelas XI-4, nomor urut 2 Bima Riski dari kelas X-3, dan nomor urut 3 Talita dari kelas XI-7.
Sementara itu, calon Ketua MPK terdiri atas Gita Amalia dari kelas XI-10 dengan nomor urut 1, Fatha dari kelas X-10 dengan nomor urut 2, serta Aimar Fadila dari kelas XI-5 dengan nomor urut 3.
Bahas Aspirasi Siswa hingga Transparansi Program
Dalam forum tersebut, para kandidat mendapat pertanyaan seputar strategi meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan sekolah, pengelolaan anggaran organisasi, serta upaya membangun komunikasi efektif antara OSIS, MPK, dan pihak sekolah.
Sejumlah siswa juga antusias menyampaikan pertanyaan kritis, terutama mengenai transparansi program kerja dan kemampuan pengurus organisasi dalam merespons aspirasi setiap kelas.
Para kandidat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan gagasan masing-masing. Beberapa isu yang mengemuka meliputi pentingnya kolaborasi antara OSIS dan MPK, keterbukaan informasi, serta penyusunan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Selain itu, sejumlah kandidat menyoroti perlunya menyediakan saluran aspirasi yang mudah diakses, antara lain melalui kanal digital dan forum diskusi rutin.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 6 Kota Malang, Ucik Agusti, menilai debat terbuka tersebut sebagai bagian dari pendidikan demokrasi bagi siswa.
Menurutnya, pemilihan Ketua OSIS dan MPK bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sarana untuk melatih jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan berkomunikasi.
“Melalui forum ini, siswa belajar bagaimana proses demokrasi berjalan, bagaimana menyampaikan aspirasi, dan bagaimana memilih pemimpin yang tepat. Kami berharap para kandidat mampu menjawab tantangan ini dengan gagasan yang matang,” ujarnya.
Persiapkan Pemungutan Suara
Setelah debat terbuka, seluruh kandidat dijadwalkan mengikuti tahapan berikutnya hingga pemungutan suara yang melibatkan seluruh siswa.
Panitia menargetkan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi sebagai salah satu indikator keberhasilan pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah.
“Kami ingin pemilihan tahun ini tidak hanya menjadi ajang mencari suara, tetapi juga momentum bagi seluruh siswa untuk terlibat aktif dalam kehidupan sekolah,” pungkas salah satu anggota panitia.
Melalui kegiatan ini, SMAN 6 Kota Malang berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal calon pemimpin organisasi secara lebih dekat, menilai kualitas gagasan, serta memahami pentingnya keterlibatan dalam proses demokrasi.
Debat yang berlangsung tertib tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para kandidat dalam menjalankan tanggung jawab organisasi sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, berintegritas, dan siap memimpin.







