Konfercab IPNU-IPPNU Sampang, PW IPPNU Jatim Tekankan Gerakan dari Akar Rumput

Sketsamalang.com, SAMPANG — Konferensi Cabang (Konfercab) IPNU ke-XVII dan IPPNU ke-XVI Kabupaten Sampang tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan. Momentum tersebut diarahkan untuk memperkuat kaderisasi, konsolidasi organisasi, sekaligus memastikan gerakan IPNU-IPPNU tetap tumbuh dari tingkat akar rumput.

Konfercab yang digelar di PP Bustanus Syubban Al-Mustofa, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Minggu (20/9/2026), turut dihadiri Ketua PW IPPNU Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah.

Forum tersebut menjadi ruang evaluasi terhadap capaian kepengurusan sebelumnya sekaligus merumuskan program dan arah gerakan organisasi untuk periode berikutnya.

Ketua PC IPPNU Kabupaten Sampang, Nurul Hidayati, memaparkan sejumlah capaian selama satu periode kepengurusan. Di antaranya pelaksanaan Duta Pelajar serta penguatan administrasi organisasi.

Menurutnya, tata kelola organisasi menjadi salah satu fondasi penting agar roda organisasi dapat berjalan secara tertib dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kabupaten Sampang, Rifkiyadi, menyampaikan perkembangan kaderisasi serta potensi kader yang dimiliki IPNU Sampang. Kekuatan kader mulai tingkat cabang hingga akar rumput dinilai menjadi modal penting bagi keberlanjutan organisasi.

Sekretaris PCNU Kabupaten Sampang, Rohman Rohim, S.Pd., turut menekankan pentingnya penguatan kaderisasi IPNU dan IPPNU.

Ia mendorong agar kaderisasi dilakukan secara lebih masif, terukur, dan terkoordinasi. Menurutnya, penguatan organisasi membutuhkan keterlibatan bersama antara IPNU dan IPPNU.

Rohman juga mengingatkan pentingnya membangun satu komando bersama pengurus cabang serta memastikan gerakan IPPNU tidak berjalan sendiri.

“Jangan ditinggalkan Rekanita, bareng-bareng,” pesannya.

Selain kaderisasi, Rohman mendorong optimalisasi media sosial sebagai sarana publikasi kegiatan dan potensi kader IPNU-IPPNU Sampang. Dengan publikasi yang lebih aktif, aktivitas organisasi diharapkan dapat dikenal lebih luas.

Ia juga meminta organisasi melakukan pemetaan kekuatan secara nyata, mulai dari jumlah Pimpinan Komisariat (PK), Pimpinan Ranting (PR), hingga Pimpinan Anak Cabang (PAC). Data tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan kaderisasi.

Rohman juga menyoroti sektor pendidikan, khususnya keberlanjutan program beasiswa bagi kader.

Menurutnya, program tersebut merupakan amanah yang harus dikawal dan dikoordinasikan dengan baik. Kader yang memiliki potensi, tetapi belum memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, diharapkan dapat memperoleh fasilitasi melalui program tersebut.

“Beasiswa ini amanah. Program yang kita koordinasikan, yang tidak punya kesempatan ke perguruan tinggi, kita fasilitasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, substansi Konfercab tidak berhenti pada proses menentukan siapa yang menjadi ketua. Forum tersebut harus menghasilkan program yang dapat dijalankan selama dua tahun masa kepengurusan.

“Bukan hanya pemilihan ketua, tetapi bagaimana program dua tahun ini bisa terealisasi,” tegasnya.

Ketua PW IPPNU Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah, mendorong agar IPNU dan IPPNU Sampang membangun kesinambungan gerakan dari tingkat akar rumput hingga wilayah.

Menurutnya, keselarasan visi dan arah gerakan penting agar koordinasi organisasi tidak hanya berlangsung di tingkat struktural, tetapi juga dirasakan kader di lapangan.

“Harapannya, IPNU dan IPPNU Sampang dari akar rumput bisa satu visi dan misi dengan PW IPPNU Jawa Timur. Bisa satu frekuensi dalam membaca kebutuhan kader dan menentukan arah gerakan,” ujar Aprilia.

Ia berharap keselarasan tersebut dapat membuat program organisasi tidak berhenti sebagai agenda struktural, tetapi mampu menjawab kebutuhan kader sekaligus memperkuat gerakan pelajar NU di Jawa Timur.

Dengan mengusung semangat “Pelajar Meraih Cita, untuk Indonesia Digdaya”, Konfercab IPNU ke-XVII dan IPPNU ke-XVI Kabupaten Sampang menjadi momentum untuk menyatukan evaluasi, konsolidasi, dan agenda organisasi ke depan.

Forum tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh pergantian kepemimpinan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh kader menerjemahkan program menjadi gerakan bersama hingga tingkat akar rumput.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *