Mahasiswa UMM Pangkas Waktu Pengomposan hingga 80 Persen dengan Teknologi MultiStage

Sketsamalang.com, MALANG — Tumpukan limbah pertanian hingga 350 kilogram per hari di Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, diolah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi kompos melalui teknologi Pre-Kompos MultiStage.

Inovasi yang dikembangkan Lembaga Semi Otonom (LSO) HIPOTESA UMM tersebut mampu mempercepat proses pengomposan dari yang sebelumnya dapat mencapai tiga bulan menjadi sekitar 14–21 hari.

Program itu mendapat pendanaan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Pelaksanaannya berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2026 dengan sasaran kelompok tani di Desa Tawangargo, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas hortikultura cukup tinggi.

Ketua Tim LSO HIPOTESA UMM, Intsya Bhiyuga Digjoyo, mahasiswa Agroteknologi angkatan 2024, mengatakan persoalan limbah pertanian di wilayah tersebut bukan hanya berkaitan dengan volumenya, tetapi juga belum optimalnya pemanfaatan sisa produksi.

“Limbah organik pertanian yang sebelumnya menjadi sisa produksi kami dorong untuk kembali dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik melalui Pre-Kompos MultiStage dan Trichoderma, sehingga pengelolaannya dapat mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Teknologi Pre-Kompos MultiStage bekerja melalui beberapa tahapan. Limbah organik terlebih dahulu dicacah hingga berukuran kecil. Selanjutnya, kadar air dikurangi secara mekanis sebelum bahan dikeringkan di dalam rumah kaca.

Bahan tersebut kemudian dicampur dengan agen hayati Trichoderma di dalam drum pengomposan. Teknologi ini dilengkapi sistem Internet of Things (IoT) melalui sensor suhu dan kelembapan.

Ketika kondisi pengomposan berada di luar parameter yang dibutuhkan, sistem akan memberikan tanda melalui buzzer. Dengan demikian, petani dapat segera melakukan penyesuaian terhadap proses pengomposan.

Penggunaan teknologi tersebut membuat proses pengomposan yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga tiga bulan dapat dipersingkat menjadi sekitar dua hingga tiga minggu.

Kompos yang dihasilkan selanjutnya mulai diuji pada dua lahan percontohan milik petani. Pengujian tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan bahan organik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia dalam pertanian.

“Bagi kami, keberhasilan inovasi bukan hanya ketika teknologinya berhasil dibuat, tetapi ketika masyarakat mampu menggunakannya, merasakan manfaatnya, dan melanjutkannya secara mandiri,” imbuh Intsya.

Alat Pre-Kompos buatan mahasiswa UMM

Sebanyak 15 mahasiswa anggota tim dan tiga mahasiswa relawan terlibat dalam program tersebut. Kegiatan tidak hanya berfokus pada pembuatan mesin, tetapi juga mencakup perakitan alat, edukasi perbanyakan Trichoderma, praktik produksi pupuk, hingga pelatihan pengemasan produk.

Trichoderma merupakan kelompok jamur tanah yang secara alami dapat berperan sebagai pengendali penyakit tanaman sekaligus membantu proses perombakan bahan organik.

Masyarakat dilibatkan sejak tahap awal perancangan. Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan pengguna di tingkat desa.

Dosen pembimbing Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi., M.P., mengatakan keterlibatan mahasiswa secara langsung di lapangan menjadi kesempatan untuk menguji teori sekaligus memastikan inovasi dapat diterapkan dalam kondisi nyata.

“Yang penting bukan sekadar teknologinya memiliki dasar akademik yang kuat, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat disederhanakan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar benar-benar mudah diterapkan di tingkat desa,” urainya.

Menurut Ganjar, keberlanjutan program sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dan pemerintah desa dalam mengoperasikan serta merawat teknologi tersebut.

Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam program. Harapannya, pengolahan limbah pertanian tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa, tetapi dapat terus dijalankan oleh masyarakat setelah program berakhir.

Melalui pendekatan tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan diarahkan kembali ke dalam siklus produksi. Pengolahan sisa panen menjadi kompos tidak hanya membantu mengurangi timbunan limbah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatannya sebagai input pertanian.

Inovasi tersebut sekaligus mendorong tata kelola pertanian yang lebih sirkular dan berkelanjutan di tingkat desa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *