Belajar dari Kopsyah BMI Group Tangerang Bagian 3
Sketsamalang.com – Petugas Pendamping Lapangan (PPL) pada Koperasi Syariah (Kopsyah) BMI Group tidak hanya menjalankan fungsi administrasi dan layanan keuangan. Mereka juga berperan sebagai penggerak pemasaran sekaligus rantai distribusi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik anggota serta mitra kerja sama.
Ketua Kopwan SBW Malang, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., mengatakan integrasi antara layanan keuangan dan pemberdayaan ekonomi riil menjadi salah satu nilai tambah yang diterapkan Kopsyah BMI Group dalam setiap forum Rembuk Pusat.
Menurutnya, pertemuan mingguan anggota tidak sebatas menjadi sarana mengecek kehadiran atau menghimpun simpanan rutin, seperti Simpanan Idulfitri (Sidul) dan Simpanan Manasuka. PPL juga membawa berbagai sampel produk yang dapat ditawarkan langsung kepada anggota dengan skema angsuran.
“Dalam setiap pertemuan mingguan, petugas tidak hanya mengecek presensi atau menghimpun simpanan rutin seperti Simpanan Idulfitri (Sidul) dan Simpanan Manasuka. Mereka juga membawa sampel produk untuk dipasarkan secara langsung kepada anggota dengan skema angsuran,” kata Sri Untari.
Produk yang dipasarkan pun beragam. Selain barang hasil kemitraan, seperti telepon seluler, alat penyaring air, dan sepeda listrik, PPL turut membantu memasarkan berbagai produk yang dibuat anggota sendiri.
Produk tersebut antara lain mukena, tas, sepatu, hingga pakaian dan berbagai kerajinan. Pola ini membuka peluang bagi produk anggota untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di lingkungan koperasi.
### Pembiayaan Disesuaikan dengan Karakter Anggota
Sri Untari menjelaskan, Kopsyah BMI Group juga menerapkan prosedur pembiayaan yang berbeda antara anggota umum dan anggota Rembuk Pusat.
Bagi anggota Rembuk Pusat, pembiayaan dapat diberikan tanpa agunan fisik. Kelayakan usaha mandiri menjadi pertimbangan utama, dengan pola pembayaran angsuran secara pekanan.
Sementara itu, anggota umum tetap mengikuti skema pembiayaan dengan agunan sesuai prosedur yang berlaku.
Menurut Sri Untari, pola tersebut memberikan kemudahan bagi anggota dalam mengatur arus kas usaha. Di sisi lain, aktivitas pemasaran yang dilakukan koperasi menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.
“Pola ini tidak hanya mempermudah anggota dalam mengelola arus kas (cash flow) usahanya, tetapi juga menciptakan ekosistem saling mendukung. Koperasi bantu memasarkan produk anggota, ekonomi anggota bergerak, dan pendapatan koperasi pun bertambah,” pungkasnya.
Dengan model tersebut, Kopsyah BMI Group tidak hanya berfungsi sebagai lembaga layanan keuangan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi anggota. Integrasi pembiayaan dan pemasaran diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota.






