Sketsamalang.com – Untuk saat ini SD Islam Almaarif 02 Singosari merupakan satu-satunya Sekolah Dasar Swasta di Kabupaten Malang yang telah mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak (SRA), SD Islam Almaarif 02 Singosari berkomitmen menghadirkan ekosistem pendidikan yang menjunjung tinggi hak-hak anak, mencegah segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan. Dengan mendeklarasikan perang terhadap bullying sekaligus memperkuat implementasi Sekolah Ramah Anak.
Deklarasi dilaksanakan secara bertahap. Pada 18 Juli 2026, komitmen untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA) terlebih dahulu dideklarasikan oleh Kepala Satuan Pendidikan bersama seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan beserta seluruh warga sekolah sebagai bentuk keseriusan seluruh unsur sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.

Selanjutnya, pada 20 Juli 2026, deklarasi tersebut dilanjutkan oleh seluruh siswa. Dengan penuh semangat, para peserta didik menyatakan komitmen untuk menolak segala bentuk bullying, saling menghargai, menjaga persahabatan, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi semua.
Deklarasi ini menjadi wujud nyata komitmen sekolah dalam memberikan perlindungan kepada seluruh peserta didik agar dapat tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa rasa takut maupun tekanan.
Kepala SD Islam Almaarif 02 Singosari, Luluk Ernawati, menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang aman merupakan fondasi utama bagi tumbuhnya generasi berprestasi.
“Anak yang cerdas lahir dari hati yang aman. Prestasi hebat lahir dari lingkungan yang saling menghargai,” ujar Luluk.

Ia menambahkan, sekolah harus menjadi ruang yang membebaskan setiap anak untuk mengembangkan potensi terbaiknya, bukan menjadi tempat yang menimbulkan ketakutan akibat perundungan.
“Sekolah bukan tempat untuk saling menakut-nakuti. Sekolah adalah tempat memerdekakan mimpi,” tegasnya.
Melalui deklarasi tersebut, SD Islam Almaarif 02 Singosari mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga orang tua, untuk bersama-sama membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan maupun bullying.
Komitmen ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, ramah anak, serta mendukung tumbuh kembang karakter dan prestasi siswa secara optimal.






