Cara Aman Konsumsi Daging Tanpa Takut Asam Urat dan Kolesterol

Sketsamalang.com – Perayaan Iduladha identik dengan melimpahnya daging kurban yang diolah menjadi berbagai hidangan keluarga. Di balik tradisi tersebut, muncul kekhawatiran masyarakat terkait risiko kolesterol tinggi dan asam urat akibat konsumsi daging yang berlebihan.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa daging kurban bukanlah penyebab utama munculnya gangguan kesehatan tersebut. Menurutnya, masalah justru sering berasal dari pola konsumsi yang berlebihan serta cara pengolahan yang kurang tepat.

Ayu menjelaskan bahwa daging sapi maupun kambing mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang tetap dibutuhkan tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Risiko kesehatan baru meningkat ketika masyarakat mengonsumsi daging secara berlebihan, terutama jeroan yang diolah dengan santan kental dan lemak tinggi.

“Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” ujarnya kepada Humas UMM pada 27 Mei 2026.

Untuk mengurangi risiko kolesterol dan asam urat, Ayu menyarankan masyarakat menerapkan teknik **trimming** atau membuang lemak putih yang menempel pada daging sebelum dimasak. Ia juga merekomendasikan perebusan awal dan membuang air rebusan pertama guna membantu menurunkan kadar purin pada daging.

Menurutnya, olahan seperti sup bening lebih baik dibandingkan masakan bersantan pekat karena kandungan lemaknya lebih rendah dan lebih ramah bagi sistem pencernaan.

“Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” katanya.

Selain pengolahan, Ayu juga menyoroti pentingnya penyimpanan daging yang benar. Ia menyebut masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan dengan mencairkan daging beku, mengambil sebagian, lalu membekukan kembali sisanya.

Padahal, daging sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kemasan sesuai kebutuhan sekali masak sebelum disimpan dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Saat akan digunakan, proses pencairan harus dilakukan di dalam chiller, bukan pada suhu ruang.

“Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya.

Sebagai langkah menjaga kesehatan, Ayu menganjurkan orang dewasa sehat untuk membatasi konsumsi daging matang sekitar 50 hingga 100 gram per hari. Konsumsi daging juga perlu diimbangi dengan sayuran berserat tinggi, buah-buahan segar, serta asupan air putih yang cukup.

“Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *