Peneliti UB Temukan Mikroplastik di DAS Brantas, Pemerintah Didesak Perkuat Mitigasi

Sketsamalang.com – Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) Universitas Brawijaya (UB) mendesak pemerintah untuk segera meningkatkan pola mitigasi guna meminimalkan persebaran mikroplastik. Hal ini menyusul temuan tim riset yang menunjukkan bahwa partikel berbahaya tersebut telah merambah ekosistem air tawar hingga masuk ke rantai makanan manusia.

Ketua Tim Riset Mikroplastik PSPK UB, Prof. Andi Kurniawan mengungkapkan, penelitian di Sungai Metro dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas mengonfirmasi plastik telah menjadi polutan baru (emerging pollutant) yang serius.

“Mikroplastik sudah teridentifikasi di hampir semua ekosistem perairan yang kami teliti. Ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat karena partikelnya telah masuk ke rantai makanan,” ujar Prof. Andi dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Sebaran dari Hulu hingga Hilir
Riset ini mencakup lokasi strategis dari hulu hingga pesisir, mulai dari mata air Brantas, aliran sungai bagian tengah, hingga muara dan kawasan pesisir seperti Pulau Lusi dan Sendang Biru.

Berdasarkan hasil studi, kandungan mikroplastik di aliran sungai rata-rata berkisar antara 2 hingga 8 partikel per liter. Namun, konsentrasinya meningkat tajam saat mendekati kawasan pantai.

“Di daerah pesisir, kami menemukan angka tertinggi hingga 40 partikel per liter. Fakta ini menunjukkan mikroplastik telah tersebar di seluruh rantai ekosistem perairan,” tambahnya.

Ketua Tim Riset Mikroplastik PSPK UB, Prof. Andi Kurniawan

Perlindungan Konsumen dan Regulasi

Prof. Andi menekankan pentingnya penetapan standar baku mutu untuk mengendalikan pencemaran. Tanpa regulasi yang jelas, upaya proteksi terhadap masyarakat akan sulit dilakukan. Langkah pertama yang diusulkan adalah penguatan perlindungan konsumen melalui pemeriksaan standar air minum kemasan secara berkala.

Selain itu, ia mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk menstimulasi riset yang berfokus pada dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan baku mutu internasional.

“Regulasi yang ada harus dilengkapi untuk melindungi lingkungan, hewan, dan manusia. Pengawasan terhadap kelestarian lingkungan dari potensi bahan tercemar di aliran sungai juga harus diperketat,” tegasnya.

Inovasi Biofilm sebagai Solusi

Sebagai pakar ekologi mikroba, Prof. Andi juga mengembangkan penelitian terkait biofilm sebagai solusi alami. Biofilm terbukti berperan sebagai biosorben yang mampu mengikat dan menyerap mikroplastik di perairan.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi fondasi teknologi eko-akuatik untuk mitigasi pencemaran di Indonesia. Sejak 2021, PSPK UB terus konsisten melibatkan peneliti muda untuk menjadikan Indonesia sebagai rujukan internasional dalam penanganan isu keamanan air global.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *