Apakah kalian tau karma dan akibat menjadi seorang pembully? Apakah kalian tau membully tidak hanya tentang fisik? Cacian, Pengkhianatan dan Makian juga sebuah perundungan non fisik atau pembullyan verbal. Apakah bully hanya ada di kalangan remaja dan anak-anak? Tidak! Aku katakan TIDAK! Lalu dimana letak parahnya? Selamat datang di dunia kerja! Disitu lah kalian akan melihat beraneka ragam karakter manusia mulai dari manipulatif, munafik, penjilat, penggatal, pembully. Lalu apakah kita harus menjadi budak agar bisa diterima? Tidak, kalian punya harga diri dan kehormatan untuk dijaga. Hanya kematian yang bisa menyakiti kalian. Simak cerita pendek dibawah ini!
Rio sedang duduk termenung melamun di rooftop gedung pencakar langit PT Global Jaya dengan suasana udara yang dingin dan tipis. Ia menjabat sebagai Direktur Operasional yang dikenal sebagai “Sang Pemusnah”-pria yang tidak segan memecat dan menyingkirkan puluhan hingga ratusan orang demi memuaskan nafsu kekuasaannya, dan membuat mereka mengakui bahwa ia lah sang penguasa. Hanya demi uang ia rela menyakiti banyak orang.
Banyak yang mengira bahwa kesuksesannya adalah kehebatannya. Padahal ia adalah seseorang yang menghancurkan hidup orang lain 10 tahun lalu untuk berada di atas. Dahulu saat ia masih menjadi staf junior, Rio merasa terancam oleh kecerdasan dan kemampuan rekan kerjanya Ivo. Rekan satu timnya yang jujur dan brilian, apalagi Ivo merupakan salah satu jurnalis muda yang hebat.
Pada suatu hari ivo menemukan satu tindakan criminal para atasan yang dimana mereka melakukan kecurangan terkait dana bantuan yang harusnya dialokasikan untuk bencana alam. Ivo sudah ingin mengungkap kecurangan itu di depan publik. Alih-alih melapor bersama, Rio mencuri data kecurangan itu dan mengubahnya agar seolah-olah ivo lah pelakunya. Sejak saat itu, ivo di pecat secara tidak terhormat hanya karena ingin mengungkap kebenaran.
Tidak hanya di pecat, namun ivo juga di blacklist dari semua perusahaan agar tidak ada yang menerima lamaran pekerjaannya. Ivo kehilangan segalanya: bukti telah dimusnahkan, rumah yang masih dicicil, tabungan untuk pengobatan ibunya, hingga harga dirinya yang hilang. Ivo mulai kehilangan arah dan wajah. Ivo lenyap saat itu juga ke dalam kegelapan yang tiada seorang pun tau keberadaannya dalam kondisi miskin. Sedang rio dipromosikan karena dianggap “menyelamatkan” mereka-mereka yang korupsi.
Di samping Rio, ada Andi, Manajer HRD. Andi adalah definisi dari “Serigala Berbulu Domba”. Di depan karyawan, ia selalu berbicara tentang perjuangan hidup yang seimbang, kesehatan mental, dan evaluasi diri. Namun, sebenarnya dialah yang membantu Rio menyusun dokumen palsu untuk menghilangkan Ivo.
Andi adalah orang manipulative dan penjilat handal. Di depan atasan bagai malaikat 1000 sayap yang siap menghalau dari bencana. Ia suka memamerkan kedekatan dengan atasan dan kepedulian social perusahaan di media social, namun di balik layar, dialah yang menekan staf bawahannya hingga frustasi dan depresi untuk memenuhi target yang bahkan tidak bisa ia lakukan sendiri. Selalu mendapatkan bonus yang seharusnya bukan hak dia. Hingga pada suatu hari, perusahaan mereka menghadapi audit investigasi dari KPK eksternal yang sangat ketat.
Rio dan Andi duduk di ruang rapat hanya hanya ada ketua KPK beserta jajarannya. Dalam ruangan yang kedap suara, mereka berkeringat dingin saat ketua KPK mulai menanyakan arsip lama dari 10 tahun yang lalu- kasus Ivo. (Karma dimulai).
“Ada ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan dalam laporan pemecatan Saudara Ivo,” kata ketua KPK. Rio melirik Andi. Andi yang memang sifat sejatinya adalah munafik langsung berusaha mencari muka di depan jajaran KPK.
“Saya kurang paham karena itu memang masa transisi yang sulit. Saya pribadi sudah mencoba membantu saudara ivo saat itu, namun bukti-bukti yang ditemukan pak Rio sangat kuat, sehingga saya mengikuti arus yang ada,” ucap andi yang mencoba melemparkan seluruh tanggung jawab pada Rio.
Rio tertegun, ia merasa dikhianati oleh orang yang dulu membantunya berkhianat. Setelah menghabiskan waktu lama untuk introgasi, para KPK dan jajarannya tidak memenjarakan mereka secara fisik karena bukti lama telah banyak yang hilang (?). tetapi hubungan rio dan andi hancur.
Mereka kini saling membenci dan membalas dendam satu sama lain meski terjebak dalam kantor mewah yang terasa seperti kandang buaya. Karena rio sendiri yang membangun tim dengan cara yang tidak baik, kini ia dikelilingi oleh orang-orang yang persis seperti dirinya atau mungkin lebih jahat dari pada dirinya. Ia merasa jika orang-orangnya sedang menunggu ia melakukan satu kesalahan kecil untuk menggulingkannya.
Belum lagi setiap ia melihat kurir atau siapa pun itu yang terlihat kelelahan, Rio merasa jantungnya berhenti sesaat. Ia takut melihat mata ivo di sana. Hingga Rio menghabiskan banyak uang untuk ke psikiater dengan tebusan obat jutaan, namun bayangan Ivo saat memohon keadilan selalu muncul di setiap rapat penting. Rio kembali ke apartemen mewahnya dengan perasaan gelisah dan marah. Dalam keadaan sunyi dan sepi dia memandang ke luar jendela ke arah lampu-lampu kota.
Di suatu tempat jauh di sana, mungkin Ivo hidup dalam keterbatasan, namun setidaknya Ivo bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak karena tidak memiliki hutang nyawa sekaligus hak pada siapa pun. Rio meneggak obat tidurnya yang ketiga malam itu. Di sisi lain, Andi kini hidup dalam ketakutan yang tiada ujung. Di rumahnya sibuk menghapus bukti-bukti kecurangan dan percakapan negatif di sosial medianya, ia gemetar setiap kali ada notifikasi dari nomor tidak dikenal. Takut bahwa skandal masa lalu itu bocor ke publik.
Sebagai sosok yang membangun citra “Pahlawan Perusahaan”, satu pengakuan dari Ivo bisa menghancurkan kerajaan pencitraannya dalam sekejab. Ia menjadi obsesif, memantau, mengintai, waspada pada semua sosial media dan orang lain hanya untuk memastikan bahwa Ivo tidak muncul kembali. Dari sini kita tau bahwa mereka sukses, mereka kaya, tapi mereka adalah zombie. Mayat hidup yang berjalan dengan tidak tenang yang diiringi ketakutan mereka sendiri. Tamat.






