Oleh: Mistianah (Penulis adalah Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang)
Fenomena perundungan (bullying) bukanlah hal baru, tetapi bagi Generasi Z (Gen Z)—mereka yang tumbuh dewasa bersama gawai dan media sosial—bahaya ini terasa lebih tajam dan meluas. Statistik menunjukkan bahwa Gen Z, yang merupakan digital natives sejati, menjadi kelompok usia yang paling rentan terhadap cyberbullying dan perundungan berbasis digital. Tapi kenapa? Jawabannya ternyata tidak hanya ada di layar gawai, melainkan juga di dalam cara kerja otak digital mereka.
Prevalensi bullying di lingkungan pendidikan masih tinggi secara global. Studi lintas-negara oleh Biswas et al. (2020) melaporkan bahwa lebih dari 30% remaja di dunia mengalami bullying dalam satu tahun terakhir, dengan variasi dipengaruhi oleh dukungan sosial dari teman sebaya dan orang tua. Di Indonesia, laporan UNICEF (2022) menunjukkan angka yang serupa, sekitar satu dari tiga siswa pernah menjadi korban perundungan. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada bentuk konvensional, tetapi juga meningkat dalam bentuk cyberbullying seiring dengan ekspansi teknologi digital di kalangan remaja. Tingginya angka ini menegaskan bahwa bullying telah menjadi masalah sosial yang sistemik dalam pendidikan modern.
Berbagai survei menunjukkan prevalensi bullying di sekolah Indonesia masih tinggi, dan dampaknya tidak hanya bersifat psikososial tetapi juga neurobiologis (Menken et al., 2022). Dampak jangka panjang bullying terhadap korban telah dibuktikan secara luas dalam penelitian psikologi dan kedokteran perilaku. Meta-analisis oleh Schoeler et al. (2018) dan Gini & Pozzoli (2013) menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, dan keluhan psikosomatik. Studi longitudinal Copeland et al. (2014) bahkan menemukan bahwa pengalaman bullying pada masa anak-anak berkaitan dengan peningkatan inflamasi sistemik tingkat rendah hingga masa dewasa, mengindikasikan adanya perubahan biologis yang menetap akibat stres sosial kronis. Temuan ini diperkuat oleh Miller & Cole (2012) yang mengidentifikasi klaster depresi dan peningkatan biomarker inflamasi pada remaja yang mengalami adversitas sosial.
Perkembangan neurosains sosial dalam dua dekade terakhir membuka pemahaman baru mengenai bagaimana pengalaman sosial ekstrim seperti bullying memengaruhi struktur dan fungsi otak. Penelitian Casey, Jones, & Hare (2008) menunjukkan bahwa masa remaja adalah periode kritis perkembangan neurobiologis, terutama pada amigdala, hipokampus, dan prefrontal cortex—wilayah yang berperan dalam pengaturan emosi, stres, dan pengambilan keputusan. Eksposur stres sosial berulang dapat menyebabkan hiperaktivasi amigdala dan penurunan konektivitas prefrontal–limbik, yang memengaruhi kemampuan pengendalian diri dan persepsi ancaman (Chiang et al., 2012). Sejalan dengan itu, Giletta et al. (2018) menemukan bahwa korban bullying menunjukkan reaktivitas inflamasi yang lebih tinggi terhadap stres sosial, sementara Marsland et al. (2017) melaporkan bahwa stres psikologis akut mampu meningkatkan aktivitas sitokin proinflamasi. Bukti neurosains ini mengonfirmasi bahwa bullying tidak hanya berdampak psikologis, tetapi juga meninggalkan jejak biologis pada otak dan sistem imun, menjadikan fenomena ini relevan tidak hanya bagi bidang pendidikan, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat.

Generasi Z adalah generasi yang mendefinisikan diri mereka melalui kehadiran daring. Kebutuhan akan validasi instan (instant gratification) dan persetujuan dari teman sebaya (peer approval), yang dipicu oleh mekanisme like dan share di media sosial, telah membentuk ulang cara mereka memproses interaksi sosial dan emosional.
Menurut riset yang dipublikasikan dalam Journal of Youth and Adolescence, ketergantungan pada media sosial untuk umpan balik positif membuat Gen Z memiliki regulasi emosi yang lebih rapuh ketika dihadapkan pada kritik atau agresi daring (Mishna et al., 2024). Ketika seorang netizen melontarkan komentar negatif, atau bahkan lebih parah, menyebarkan aib (doxing), sistem reward di otak Gen Z yang sudah terbiasa menerima dopamine hit dari pujian daring, tiba-tiba mengalami crash yang intens. Dampaknya adalah stres dan trauma yang jauh lebih dalam dan sulit disembuhkan dibandingkan perundungan fisik di masa lalu.
Berbeda dengan perundungan tradisional yang terikat pada waktu dan tempat (sekolah atau lingkungan fisik), perundungan digital tidak memiliki batasan geografis atau waktu. Gen Z hidup dalam ruang virtual 24/7 di mana agresi dapat terjadi kapan saja, bahkan di tengah malam.
Sebuah studi mendalam dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa anonimitas yang ditawarkan oleh internet memungkinkan para pelaku cyberbullying untuk bertindak jauh lebih agresif dan destruktif. Pelaku merasa terlepas dari konsekuensi moral karena identitas mereka tersembunyi (Kowalski et al., 2023). Bagi Gen Z, ini berarti mereka tidak hanya di-bully oleh teman sekelas, tetapi juga oleh orang asing yang tidak terlihat dan tidak terjangkau secara hukum. Gen Z menjadi target yang rentan karena mereka tidak bisa lari—perundungan itu mengikuti mereka ke dalam kamar tidur melalui notifikasi telepon (Sibara & Iftikhar, 2024).
Pembentukan Otak Digital yang Terlalu Cepat
Aspek biologis juga memainkan peran penting. Gen Z berada dalam periode perkembangan otak krusial (masa remaja dan awal 20-an), di mana korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas penilaian, perencanaan, dan regulasi emosi—masih berada dalam tahap pematangan.
Research on Developmental Psychology menyoroti bahwa paparan konstan terhadap interaksi digital dan multitasking dapat memengaruhi mekanisme atensi dan kemampuan Gen Z untuk memproses isyarat sosial non-verbal (Setiadi et al., 2022 dikutip dalam Uşak, 2024). Ketika di-bully secara daring, Gen Z mungkin kesulitan menafsirkan konteks agresi atau membedakan antara ancaman nyata dan trolling biasa, yang menyebabkan respons emosional yang berlebihan. Mereka telah melatih otak mereka untuk merespons stimulus cepat (notifikasi), tetapi kurang terlatih untuk mengatasi konflik yang kompleks dan bermuatan emosi.
Peran Pendidikan dan Literasi Digital Kritis
Solusi untuk mengatasi kerentanan ini bukan hanya pada filter atau blokir, melainkan pada pendidikan dan literasi digital kritis yang mendalam. Sekolah dan universitas memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan kerangka kerja di mana Gen Z dapat belajar bagaimana menggunakan GenAI (Kecerdasan Buatan Generatif) dan platform digital secara etis dan aman.
Para akademisi menyarankan bahwa kurikulum harus mencakup tidak hanya penggunaan GenAI untuk pembelajaran, tetapi juga pendidikan etika GenAI, mengajarkan Gen Z cara mengidentifikasi misinformasi dan agresi daring, serta mengelola jejak digital mereka (Ajibike & Taliat, 2025). Institusi perlu mengubah kebijakan mereka untuk secara eksplisit mendefinisikan cyberbullying dan menyediakan sumber daya yang memadai, termasuk dukungan kesehatan mental, untuk mahasiswa yang menjadi korban (Gottwald et al., 2024).
Membangun Resiliensi di Ruang Digital
Kerentanan Gen Z terhadap bullying berakar pada perpaduan antara sifat bawaan teknologi (anonimitas, keberlanjutan 24/7), psikologi remaja (kebutuhan validasi, perkembangan otak), dan kurangnya literasi etika digital (PLOS, 2024). Untuk melindungi generasi ini, kita harus berinvestasi dalam resiliensi digital mereka. Ini berarti mengajarkan mereka untuk memahami bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh jumlah likes atau followers, serta melatih otak mereka untuk memproses kritik secara rasional, bukan hanya reaktif. Hanya dengan menggabungkan intervensi psikologis, kebijakan sekolah yang ketat, dan pendidikan etika digital, kita dapat membangun lingkungan yang lebih aman bagi para digital natives ini.



