Tampak sinar cahaya terselip di balik tirai kamarku, melangkah untuk membuka jendela di tengah pagi yang berembun.
Di balik cahaya matahari tersembunyi sirat yang tak pernah sampai. Di sinilah aku, di atas taktha emas yang dingin membeku di makan musim. Duduk tegak membalut luka dengan benang sutra.
Sorot mataku yang tajam namun menahan kesedihan agar tidak jatuh sampai ke jubah. Menatap lurus ke pintu kamarku. Menunggu sosok pria yang bisa ku lihat raganya, namun tidak dengan hatinya.
Mencintaimu dengan seluruh cakrawala yang ku punya, tapi aku tahu kau adalah pengembara di makam lama. Hatimu masih terkunci di kotak kayu masa lalu, memuja hantu cinta yang telah lama telah usai.
Sadar diri menghampiri jiwaku, mengatakan bahwa aku lah sang ratu bagaikan pelabuhan sementara itu. Bukan tujuan, bukan pula dermaga yang didamba.
Setiap kali ku berdiri, aku melepaskan mahkota yang berat ku pikul sendirian. Ditemani dengan waktu sore menjelang malam, menari di antara jendela-jendela yang terbuka. Dengan gaun indahku melangkahkan kaki ke sana kemari.
Aku putuskan untuk berhenti berharap sebuah janji yang bahkan tidak terucapkan. Sebuah mimpi yang sekarat, mati tapi hidup, hidup tapi hampa.
“Aahh.. aku tidak ingin mengemis di ruang hati yang penuh sesak oleh bayangan masa lalu orang lain,” bisikku.
Langkah kaki ku sampai pada tengah Aula yang luas dan sepi. Tanpa musik, tanpa penonton, hanya detak jantung dan desiran angin. Menari dalam kesunyian, menikmati setiap jengkal lantai marmer berwarna emas, dingin tapi menusuk.
Tidak ada lagi yang bisa ku harap, tidak akan menggantung di dahan yang rapuh. Tapi adakalanya rindu membuatku jatuh tersungkur. Aku lah Ratu.. sang Ratu bagi dirinya sendiri, tanpa Raja, tanpa pendamping. Akan ku rayakan luka ku menjadi suatu karya yang abadi.






