Musim yang Salah Singgah

Dua belas bulan, matahari masih menyinari bumi, tiga ratus enam puluh lima hari aku menanggung rindu. Menabung kesepian dalam kotak kayu yang usang. Terlihat rapi tapi rapuh. Sampai aku salah mengira bunyi detak waktu yang menyebutkan namamu. Dengan harapan waktu akan menghampiriku bersamamu.

Berangan-angan memberikan pelukan yang utuh. Aku merantai pintu yang sudah lama aku kubur. Namun, pintu yang lama tertutup itu berderit nyaring. Kelopak bunga harapan menutupi wajah seseorang. Memperlihatkan sosok pria yang selama ini aku rindukan. Kau berdiri di sana, bukan sebagai obat rindu. Melainkan bencana bagi hatiku.

Kau terlihat kehilangan arah, tidak punya jalan keluar. Wajahmu yang dulu bersinar, kini terlihat suram. Pancaran matamu membawa bayangan kabut kesepian seperti kemarau yang lancung, tanganmu menggenggam bunga mawar hitam yang beracun.

Terlihat sayatan dari duri bunga yang kau pegang, menggenggam banyak sisa luka. Kau kembali, bukan kasih yang memanggil. Tapi rasa bosan yang menyergap di pojok kesunyian. Aku melihatnya… aku merasakannya. Kau hadir hanya untuk singgah sementara. Untuk rasa penasaranmu, sebuah jawaban atas rangkaian puzzle yang tak bisa lagi kau pecahkan. Kau berikan semua luka dan pahitmu di dalam pintu hatiku. Lalu pergi meninggalkan tanda tanya yang tak kunjung aku tahu kapan akan berakhir. Kau memetik helai-helai rahasiaku dengan jemari bosan.

Andai kau tau, satu tahun lamanya aku menunggu, sembari menyembuhkan luka rindu. Ternyata kau datang hanya untuk melihatku makin terpuruk. Memastikan bahwa aku masih bisa di hancurkan kesekian kali. Apa kau tau? Dua puluh empat per tujuh selama dua belas bulan selalu kutanam doa di dadaku agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Menginginkan kepulanganmu, menemukan teduh paling nyaman. Nyatanya, kau torehkan lagi air mataku dengan lumpur luka yang kau bawa dari perjalanan lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *