Sketsamalang.com, MALANG – Sebelas tahun bukan waktu singkat bagi Malang Autism Center (MAC) dalam mendampingi anak dengan autisme. Sejak berdiri pada Oktober 2015, lembaga yang didirikan Mohammad Cahyadi, SE, M.Pd ini terus berkembang, tidak hanya dalam layanan terapi, tetapi juga melalui berbagai program sosial untuk membantu keluarga dan masyarakat.
Memperingati hari jadi ke-11 pada Jumat (30/10/2026), MAC mengusung semangat “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”.
“Momentum ini menjadi refleksi perjalanan MAC dalam memperluas akses pelayanan sekaligus membuka kesempatan lebih besar bagi anak dengan autisme untuk berkembang dan mandiri,” jelasnya.
Berawal dari satu gedung pelayanan di Kabupaten Malang, MAC kini terus mengembangkan fasilitas dan program pendampingan. Gedung kedua dibangun pada 2025. Selanjutnya, MAC merencanakan pengembangan gedung ketiga di Jalan Manggar Nomor 08, Sengkaling, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Jalan Ki Atas Angin, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso.
Dalam memberikan pelayanan, MAC menerapkan metode Applied Behavior Analysis (ABA), pendekatan terapi perilaku yang membantu anak mengembangkan kemampuan belajar, keterampilan, dan kemandirian berdasarkan kebutuhan serta potensi masing-masing.
Namun, bagi MAC, pelayanan tidak cukup hanya berfokus pada pengembangan fasilitas. Perhatian terhadap keluarga dengan keterbatasan ekonomi juga menjadi bagian penting dari perjalanan lembaga tersebut.
Terapi Terjangkau, Bantu Anak Berkembang
Salah satu bentuk kepedulian MAC diwujudkan melalui program Omah Terapi Autis (OTA). Program ini memberikan kesempatan kepada anak dengan autisme dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan layanan terapi dengan pembayaran sesuai kemampuan keluarga.
“Program yang awalnya melayani dua anak tersebut kini berkembang menjadi 10 anak penerima manfaat. Jangkauannya juga diperluas melalui OTA Neptunus pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024,” ungkap Cahyadi.
Manfaat program tersebut dirasakan Ani Wahyuni, seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai buruh pabrik. Anaknya yang kini berusia delapan tahun telah mengikuti terapi di MAC selama satu tahun, sejak usia tujuh tahun.
Ani menceritakan, anaknya mulai mengalami keterlambatan bicara ketika berusia empat tahun. Ia sempat membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Namun, biaya yang cukup mahal membuatnya mencari alternatif pelayanan yang lebih terjangkau.
“Alhamdulillah perilakunya sudah ada perkembangan. Tidak terlalu seperti dulu,” ungkap Ani.
Di MAC, Ani hanya membayar biaya terapi sebesar Rp100 ribu per bulan dengan menyertakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).
Saat ini, anaknya juga sudah bersekolah di sekolah inklusi tingkat sekolah dasar negeri. Meski kemampuan komunikasinya masih berkembang dan terkadang belum sepenuhnya merespons percakapan, Ani bersyukur melihat perubahan positif pada anaknya.

Kolaborasi Fisioterapi untuk Penyandang Disabilitas
Selain program terapi, MAC turut memperluas kontribusi melalui kerja sama dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan.
Kolaborasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendata masyarakat penyandang disabilitas yang membutuhkan pelayanan fisioterapi.
Masyarakat yang membutuhkan penanganan dapat ditindaklanjuti melalui layanan fisioterapi di Klinik Patria, klinik fisioterapi milik MAC.
Melalui langkah tersebut, MAC berupaya membantu masyarakat memperoleh akses pelayanan sesuai kebutuhan sekaligus membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
### Nasi Berkah, Konsisten Menebar Kepedulian
Kepedulian MAC juga diwujudkan melalui program Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan yang dimulai setiap Jumat pada 2023 tersebut berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.
Program ini tidak hanya menghadirkan manfaat bagi masyarakat penerima, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak dengan autisme.
Dengan aktivitas terstruktur dan pendampingan yang sesuai, anak-anak dapat belajar menjalankan tanggung jawab, mengembangkan keterampilan praktis, serta memperoleh pengalaman berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.
DPRD Kota Malang Apresiasi Program MAC
Berbagai program yang dijalankan MAC mendapat apresiasi dari Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, S.E., M.M.
Ia menilai kiprah Mohammad Cahyadi bersama MAC telah memberikan kontribusi besar dalam pelayanan anak dengan autisme dan penyandang disabilitas. Menurutnya, sejumlah program MAC bahkan telah melengkapi kebutuhan pelayanan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi pemerintah.
“Jadi luar biasa sekali. Pemerintah kota sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan apa yang sudah dilakukan oleh Pak Cahyadi. Kami apresiasi dan dukung penuh,” ujarnya.
Made menegaskan, DPRD memiliki tiga fungsi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung pelayanan tersebut, yakni penganggaran, pembentukan peraturan daerah, dan pengawasan.
Ia juga menyoroti pentingnya ketersediaan tenaga profesional dalam pelaksanaan Posyandu Disabilitas. Sebab, keberadaan program tanpa dukungan sumber daya manusia yang memadai akan menyulitkan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, anggaran untuk penyandang disabilitas sebenarnya telah tersedia melalui Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Karena itu, diperlukan pengawasan lebih lanjut agar anggaran tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau memang memungkinkan dan ada celah aturannya, anggaran itu bisa bekerja sama dengan MAC. Bagaimana warga, khususnya Kota Malang, yang memiliki anak dengan autisme bisa menggunakan anggaran APBD untuk mendapatkan pelayanan sehingga mereka bisa mandiri,” jelasnya.
Made bahkan membuka peluang melibatkan MAC dalam pembahasan APBD 2027. Ia berencana mengundang Mohammad Cahyadi ke Komisi D untuk menyampaikan masukan mengenai peluang kerja sama antara MAC dan Pemerintah Kota Malang.
“Monggo nanti minggu depan kita undang ke Komisi D. Kita bicara sebelum hearing dengan OPD-OPD dua minggu lagi. Sehingga Pak Cahyadi bisa memberikan masukan kepada kami, celah mana yang bisa dipergunakan untuk kerja sama antara MAC dengan Pemerintah Kota Malang,” katanya.







