Sketsamalang.com, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Ekosistem Perguruan Tinggi yang Sehat, Bergerak, Berdampak, dan Berkelanjutan” di Grand Mercure Malang Mirama, Jumat (6/11/2026). Kegiatan strategis ini dihadiri oleh pimpinan universitas guna mengantisipasi dinamika dan tantangan regulasi akreditasi perguruan tinggi di masa depan.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan bahwa persiapan akreditasi baik secara administratif maupun finansial memerlukan perhatian serius agar lulusan tidak terkendala saat mencari pekerjaan atau melanjutkan studi. Menurutnya, tantangan ini tidak hanya dihadapi oleh kampus besar, tetapi juga menjadi beban tersendiri bagi perguruan tinggi kecil.
“Seringkali anak-anak kita ketika mau lulus terkendala status akreditasi yang tidak maksimal, sehingga kesulitan melanjutkan studi atau mencari kerja. Karena itu, kita mengundang pihak BAN-PT untuk membahas arah kebijakan akreditasi ke depan,” ujar Prof. Hariyono.

Terkait posisi UM saat ini, Prof. Hariyono mengungkapkan rasa syukurnya. Status institusi UM telah meraih predikat unggul sejak 2007 hingga kini. Sementara itu, dari total 154 program studi yang ada, sekitar 65 persen di antaranya telah mengantongi akreditasi unggul.
“Kunci peningkatan mutu prodi ada pada tiga hal: fasilitas belajar yang memadai, produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) dosen termasuk jabatan fungsional serta publikasi riset, dan dampak nyata kampus terhadap masyarakat serta pencapaian SDGs,” tambahnya.
Transformasi Akreditasi dan Budaya Mutu oleh BAN-PT
Direktur Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., yang hadir sebagai narasumber utama, menyoroti pergeseran paradigma akreditasi nasional. Ia menegaskan bahwa akreditasi tidak boleh lagi sekadar dimaknai sebagai pemenuhan syarat administratif atau checklist dokumen semata.
“Akreditasi harus diarahkan pada continuous quality improvement atau perbaikan mutu secara berkelanjutan. Kehidupan dan teknologi terus berkembang pesat, sehingga sistem akreditasi juga harus adaptif,” jelas Prof. Ari.

Prof. Ari juga menjelaskan transisi regulasi instrumen akreditasi dari masa ke masa serta pentingnya orientasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Menurutnya, indikator keberhasilan perguruan tinggi kini diukur dari luaran dan dampak nyata lulusannya di masyarakat seperti masa tunggu kerja yang singkat, prestasi internasional, hingga kontribusi inovasi yang dirasakan langsung oleh publik.
Menanggapi kesiapan UM menghadapi instrumen akreditasi baru, Prof. Ari optimis institusi sebesar UM mampu melaluinya dengan baik, terutama dengan dukungan sistem pangkalan data pendidikan tinggi (PDDikti) yang kini semakin terintegrasi secara digital.







