Gemuruh di Sebuah Negeri Demokrasi

Di Seberang bukit terdapat sebuah Negeri demokrasi besar yang riuh oleh suara rakyat. Gema bisikan-bisikan selalu menghiasi udara bersama angin. Melewati waktu demi waktu yang tidak tahu kapan berhenti. Sebuah Negara bertakhta yang ramai namun hening. Di pimpin oleh Raja bijaksana yang disebut sebagai “Penenang”. Pemimpin yang bergelar Macan Hitam. Tetapi, dimanakah Macan Hitam itu. Apakah hanya mata sejarah dibalik bayangan yang ragu. Ada tapi tak bergerak. Jabatan berkilau, mahkota yang kokoh, namun kenapa tangannya gemetar setiap kali dari Barat— pulang membawa oleh-oleh pesan dari entitas Zionis mendarat di meja sakralnya.

Wahai Negeri yang damai, dimanakah militer kalian, bukankah militer kalian termasuk salah satu prajurit terkuat (?). Militer yang disegani, akan tetapi kebijakannya seperti menari di atas cangkang telur. Tipis dan rapuh. Pemimpin kalian takut pada bayang-bayang sanksi ekonomi dan tekanan politik dari Zionis yang Dzalim, tidak hanya menjajah sebuah Negeri yang indah, namun juga menjajah tanah para Nabi. Anehnya, ia terlihat tenang. Sangat Garang melawan “Sekutu” konvensional. Berani menentang dan membakar retorika anti-Barat di podium, bergabung dengan zionis, mengusir kapal-kapal asing yang masuk membutuhkan pertolongan. Kenapa mendadak bisu saat berbicara tentang keadilan di tanah terjajah (?). Punya mata untuk melihat, punya telinga untuk mendengar, namun lumpuh untuk berfungsi.

Tidakkah kalian ingat akan kematian Ayatollah Ali Khamenei dengan sayyid. Ia meninggal di jalan Allah yang Maha Esa. Tidak takut akan musuh para Nabi. Melawan penjajah dan penjahat tanpa kenal rasa ragu. Dengan keberanian ia menentang demi kedamaian dan kesejahteraan. Ini bukan tentang agama, bukan juga tentang golongan, melainkan tentang ciptaan Tuhan yang berakal dan maju.

Tidakkah kalian ingat kematian Saddam Hussein yang meninggal dalam keadaan berani dan suci. Tokoh yang difitnah namun paling ditakuti kemuliaannya. Tersenyum menghadap langit seolah tiada hal yang harus ia takuti. Saddam Hussein adalah teladan tentang keberanian yang mengatakan “Tidak” pada penguasa lalim, meski hanya memiliki sedikit pengikut. Ia adalah simbol bahwa lebih baik mati dalam kemuliaan daripada hidup dalam kehinaan di bawah telunjuk penindas. Tidak ada raut penyesalan dalam sorot tajam matanya. Tidak ada kesia-siaan dalam hidupnya. Tersenyum sambil melantunkan ayat Suci Quran dalam hatinya. Fitnah dan tuduhan memang berhasil menyingkirkannya. Tapi janganlah kalian menganggap bahwa ia telah “Mati”, sungguh ia kekal dalam keabadian. Kasihanilah diri kalian yang tidak ada perjuangan dan pengorbanan di jalan kebenaran.

Tahukah kalian tentang George Habash. Pejuang keadilan yang bergelar Al Hakim. Seorang penganut Kristen Ortodoks yang mengabdikan hidupnya untuk pembebasan Negeri yang terjajah. Terkenal akan kejujuran, konsisten, dan teguh pada prinsip yang kuat. Menjadikannya salah satu pemimpin perjuangan yang dihormati.

Atau, ingatkah kalian Ebrahim Raisi. Ialah sosok yang kematiannya dianggap sebagai Sang Sayyid dari Pegunungan. Sosok dalam simbol keteguhan terhadap Tuhan yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak berisik saat berhadapan dengan Sang Penindas.

Tidakkah kalian cemburu akan kematian mereka yang indah. Bisakah kalian mati dengan indah seperti itu (?). kematian mereka sebagai simbol kekuatan yang tiada kelemahan. Pengorbanan mereka membuktikkan seberapa besarnya fitnah di akhir zaman. Kepemimpinan bukan soal kursi yang empuk, bukan pula sebuah takhta yang tinggi. Melainkan sebuah pengabdian yang tuntas, bahkan jika kematian sebagai bayarannya. Jangan meratapi mereka dengan tangisan, tangisilah dirimu sendiri yang masih terlena akan tipuan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *