UMM Bangun Sistem Pengolahan Sampah Terpadu untuk Olah Limbah Harian

Sketsamalang.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah dan krisis lingkungan melalui pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Program ini menjadi bagian dari komitmen UMM sebagai kampus inovatif dan berdampak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Sistem tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Inisiatif ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings.

Berdasarkan laporan kegiatan, UMM dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik tercampur plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen), serta limbah ranting sekitar 300 kilogram (25 persen). Sebelum proyek ini berjalan, TPS kampus hanya berfungsi sebagai lokasi pengumpulan sampah tanpa proses pengolahan lanjutan, sehingga sebagian besar limbah masih bergantung pada pengangkutan keluar kampus.

Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D., IPM, menjelaskan bahwa pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu berawal dari kebutuhan kampus untuk memiliki pengelolaan lingkungan yang terukur. Hal tersebut diperlukan sebagai bagian dari evaluasi dan pemeringkatan GreenMetric.

“Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujar Iis saat ditemui Tim Humas UMM, 21 Februari 2026.

Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM, unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik. Unit tersebut biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, serta kerja sama strategis dengan berbagai lembaga. Seluruh proses, mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi, dikerjakan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek.

“Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis.

Adapun tiga mesin utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter, mesin pencacah ranting berkapasitas 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa untuk media tanam atau kompos, serta alat pemilah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan tingkat efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen.

Sistem ini dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat langsung dimasukkan ke mesin pemilah tanpa perlu memisahkan kantong plastik. Plastik ringan akan terpisah ke bagian belakang mesin, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk diproses lebih lanjut.

Ke depan, sistem ini dikembangkan menuju konsep zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak memerlukan pompa tambahan.

“Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya dapat difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa menjadi objek penelitian mahasiswa dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator skala kecil,” jelasnya.

UMM berharap sistem pengolahan sampah terpadu ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas teknis, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan dan pengembangan riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diharapkan mampu melahirkan inovasi teknologi tepat guna sekaligus menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri dan berkelanjutan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *