Tuhan Dosaku Telah Melampaui Neraka Ke Tujuh

Banyak yang tidak mengerti bahwa memaksakan tawa menjadi suatu hal yang sangat berat untuk Raras lakukan. Di balik senyuman yang Raras berikan di meja makan, ia menyimpan segunung penderitaan yang bahkan tidak bisa dia lihat pucuknya. Bagi Raras, dunia bukan sekedar tempat singgah, melainkan sebuah panggung drama di mana Raras lah pemeran sandiwara utama sekaligus merangkap sebagai sutradara, dan penonton yang ketakutan. Tidak ada yang tahu, bahwa Raras mengidap penyakit kejiwaan. Sebuah penyakit yang bekerja sama dan menghasilkan kombinasi kejam bagi hidup Raras. Halusinasi, kesedihan, dan delusi yang tak berdasar.

Tidak ada seorang pun yang tahu kondisi Raras, bahkan orang tuanya pun melihat Raras sebagai “anak kebanggaan” seperti emas. Stabil, berprestasi, dan tak punya riwayat kejahatan. Raras ingin menjelaskan dan mengakui kondisinya, tapi setiap kali ia berbicara tentang kesehatan mental, dia kerap di anggap kurang ibadah, dan keimanan dalam hatinya kosong. Ia takut, takut jika semua orang menghakiminya. Trauma yang tidak kunjung hilang menambah ketidakpercayaan diri Raras untuk berbaur dan bersosialisasi. Ia sering kali di temui sedang menyendiri dan melamun. Entah apa yang ia lamunkan.. perih dan terluka yang ia rasakan setiap hari. “Apakah dua tahun ini belum bisa menghilangkan rasa sakit itu,” gumamnya pelan seperti debu yang berbisik. Selama dua tahun ini ia berjuang habis-habisan agar tetap pada pemikiran warasnya.

Setiap hari Raras harus bernegosiasi dengan otak di kepalanya. Bisikan suara- suara yang mengatakan bahwa ia tidak berharga. Ia tidak pantas di cintai. Tidak boleh memiliki teman. Pernah satu kali, saat makan malam keluarga, ayahnya sering membanggakan betapa kuat putrinya di depan semua orang. Membandingkan Raras dengan para sepupunya yang sedang sama-sama depresi akan tekanan hidup dari lingkungannya. Raras hanya terdiam dan memakan makanan yang di depannya. “Lihatlah putriku, mentalnya baja, selalu menang di medan tempur, tidak seperti generasi saat ini, lembek dan lemah hahaha,” ucap ayahnya sambil terkekeh. Namun, di balik diamnya Raras, ia sedang berjuang agar ruangan itu tetap stabil di mata Raras. Semua menjadi antara nyata atau hanya tipuan otaknya. Meski makanan yang dia makan terasa lezat, tapi seperti menelan kepahitan yang dipaksakan masuk ke tenggorokannya. Raras.. dia tidak ingin menjadi beban atau bahkan aib di keluarga yang memuja kesempurnaannya.

Hari berganti bulan, kesehatan mental yang semakin parah perlahan mengikis iman Raras. Jauh sebelum trauma melanda, Raras di kenal sebagai sosok wanita agamis dan alim. Orang yang rajin bersujud dan berdoa. Namun, sekarang berbalik arah. Setiap kali dia mencoba bersujud, kepalanya terasa penuh dengan teriakan yang meragukan keberadaan Sang Pencipta. Dia tetap beribadah, menyembah Tuhannya, tapi dia telah berhenti berdoa. Ia hanya mengatakan terima kasih dan ampuni dosaku. Ia sudah tidak meminta apa pun, ia hidup karena memang belum waktunya mati. Sering kali ia bertanya pada dirinya “Jika memang Tuhan ada, mengapa hati dan otakku tidak selaras. Bukankah Tuhan sudah menetapkan hati seseorang?”. Tuhan maafkan dan ampunilah aku. Pikiran-pikiran itu terus membayangi Raras hingga ia memutuskan untuk berhenti. Dia tidak lagi mencari Tuhan dalam doanya. Baginya, hanya rasa sepi dan kekosongan, sedingin tatapan orang yang menghakiminya. Ia merasa bahwa Tuhan telah meninggalkannya, tapi ia masih berharap. Berharap bahwa hatinya selama ini salah.

Hingga pada suatu malam, semua dinding yang Raras bangun runtuh. Di kamar hotel yang gelap, Raras merasa lelah menjadi sosok yang tegar. Ia mengambil handphone-nya dan menelepon Indah, satu-satunya orang yang ia percayai. Saat itu juga, Indah datang dan menemukan Raras sedang meringkuk di bawah jendela kamar dengan tatapan hampa.

“Indah, tolong aku. Aku sakit, Indah. Aku tidak sanggup,” bisik Raras. Suaranya pecah untuk pertama kalinya setelah dua tahun ia berjuang. Raras menceritakan semuanya. Tentang hal yang membuatnya lelah, tentang bisikan-bisikan halus tapi kejam, tentang kabut gelap yang membuatnya tidak bisa bernafas, dan tentang ia tidak mengenal lagi Tuhannya. “Tolong aku” isaknya sambil menatap Indah. Indah yang melihat raut wajah Raras seperti ada jarum yang menusuk Ulu hatinya. Sahabatnya sangat rapuh. Baru kali ini, ia seperti melihat Raras di titik ambang kematian.

Raras memohon pada Indah untuk tidak melaporkan kepada siapa pun termasuk ayah dan ibunya. “Aku mohon, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua,” pintanya pada Indah. Indah tetap disitu, ia tidak beranjak pergi. Ia juga tidak menghakimi Raras karena berhenti berdoa. Inda juga tidak menceramahinya tentang agama. Indah hanya duduk dan mendengarkan. Menemani hingga fajar menyingsing. “Ras..” panggil Indah dengan lembut. “Kamu gak salah kok, kalau kamu merasa jika Tuhan jauh, izinkan aku yang jadi perantara-Nya untuk membimbing dan menjagamu di dunia ini. Kamu gak perlu berpura-pura tegar sendirian lagi. Semua yang terjadi bukan salahmu, dan bukan aib yang harus di tutupi,” lanjutnya

Sejak saat itu Indah menjadi kekuatan Raras untuk hidup. Raras menganggap Indah sebagai jangkar di hidupnya. Ketika Raras merasakan halusinasinya datang, Indah datang menggenggam tangan basahnya dan membantunya membedakan mana nyata dan tidak nyata. Saat depresinya menyergap. Indah akan duduk diam di sampingnya tanpa menuntut apa-apa. Hanya menemani agar Raras tetap dalam pikiran warasnya. Raras masih berjuang. Keinginan untuk hidup masih ada. Meski dunia terasa berat, dan batinnya masih berperang melawan keraguan Tuhan. Namun, kehadiran Indah yang tulus, Raras mulai belajar satu hal: bahwa untuk menjadi kuat, tidak harus sendirian.

Kini, Raras menghidupkan lagi benteng dinding yang dulu hancur. Meski Indah telah menjadi jangkarnya, bagi Raras, dunia luar tetaplah asing. Medan perang yang penuh sandirawa dan ranjau kekecewaan. Setap kali ada seseorang yang mencoba mendekati Raras, entah teman lama, saudara, atau orang asing yang ingin sekadar bercengkrama, Raras secara otomatis menghindar dan menjaga jarak. Baginya itu sebuah ancaman. Entah, ia masih merasa takut dan sulit mempercayai orang lain. Karena ia sudah merasa bahwa dirinya kini seperti kaca yang sudah pecah ribuan kali; sekali saja terlena dengan cara yang salah, ia akan hancur seakan tidak pernah tercipta. Pikirannya terkadang masih mengalami khayalan yang tak nyata. Membisikkan scenario buruk di telinganya. “Mereka hanya kasihan padamu. Jika mereka tau jati dirimu, mereka akan mengejek dan menghakimimu. Kau orang gila.”

Sampai suatu hari, seorang rekan kerjanya mencoba memberikan perhatian lebih. Bermaksud memberikan ketenangan pada Raras, namun Raras menepis. Bukan rasa senang yang ia rasakan, justru serangan panik dan curiga. Ia takut, takut jika ia mulai membuka hati, dan harus mengakui cerita gelapnya. Memikirkannya saja tidak sanggup. Alih-alih melihat cinta, Raras justru melihat sesuatu yang mengerikan di raut wajah pria itu. Rian, pria itu menyadari betapa Raras membatasi dirinya dari dunia. Pagi berganti sore, di sebuah taman yang sepi, Rian mencoba berbicara pada Raras, lagi (?). ia tidak menyerah, Rian dengan percaya diri ingin membangkitkan lagi rasa percaya Raras terhadap dunia. “Raras, kau sedang apa? Boleh aku bergabung duduk bersamamu,” tanya Rian pada Raras yang sedang duduk memegang kalimbanya di bawah pohon persik.

Raras hanya menunduk, dan mengangguk kecil tanpa menatap mata Rian. Sebelum Rian mengucapkan kalimat, ia terlebih dahulu membuka suara, “Rian, hatiku sudah rapuh. Sedikit lagi sakit, maka akan hancur tiada sisa. Hatiku kini bukan lagi sebuah rumah. Tapi bangunan runtuh,” ucap Raras dengan pandangan melihat ke arah langit.

“Tapi Raras.. aku… ,” lanjut Rian tapi dipotong oleh Raras, ”Rian bagaimana aku bisa menerima hati lain sedangkan hatiku sendiri takut untuk aku tinggali,” sambung Raras. Rian menatap mata kosong Raras, cantik tapi terasa jiwa yang melayang penasaran. Sedang Raras menatap Rian dengan mata berkaca-kaca. “Aku sakit, Rian. Aku belum sembuh. Jangan pilih aku,” ujar Raras yang menyakinkan Rian. Bagi Raras, sembuh bukan hanya sekedar melupakan. Dari situ Rian melihat betapa rapuhnya Raras di balik sikap dinginnya pada orang lain. Raras hanya melindungi dirinya dari rasa kekecewaan lagi. Setalah itu, Rian hanya menemani Raras hingga Raras beranjak pergi meninggalkan Rian yang mengikutinya dari belakang. Memastikan Raras sampai di rumahnya denga naman.

Raras, ia masih berhenti berdoa; baginya Tuhan adalah sosok yang menuntut kesempurnaan yang tak mampu ia berikan. Ia merasa kotor dan rusak. Tidak tahu berapa banyak dosa yang telah ia torehkan di buku malaikat pencatat amal dan dosa manusia. Raras sering menghabiskan malam dengan melihat bulan, bermodalkan jaket dan memeluk dirinya sendirinya. Di dalam pikirannya, dia masih mendengar suara-suara itu berdebat, namun di dalam hatinya, hanya ada kesepian. Raras belum sembuh, lukanya masih belum kering. Dia masih menolak siapa pun yang mengajaknya ke Cahaya terang. Ia sudah tidak percaya lagi dengan siapa pun dan apa pun. Raras berada di atas pernyataan di mana kasih sayang adalah beban.

“Tuhan, jika kau ada, maka ampunilah aku. Maafkan aku yang meragukan keberadaanmu, dosaku telah melampaui neraka ke tujuh,” Raras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *