Hp adalah sebuah benda untuk komunikasi, jendela menuju kabarmu lewat media pelantara. Bening, memantulkan cahaya wajah yang selama ini ku kagumi, binar seperti matamu yang indah.
Dimana jemariku bisa menyentuh wujudmu yang tak nyata. Tanpa ragu aku mengangumimu dari jauh. Dengan percaya diri suatu saat aku bisa bersamamu, lagi (?).
Pelan-pelan tanganku mengetik rangkaian kata rindu yang tak pernah usai dikirimkan kepada sang tujuan. Ungkapan-ungkapan itu lahir, seperti kilat yang membeku di atas kaca. Ada tapi mustahil di gapai.
Sekali benturan keras menjadi sebuah akhir, meninggalkan retak yang kasar tak sanggup dibaca. Bayangkan jika Cinta itu seperti layar HP.
Bisa saja kau memperbaikinya kembali, merekatkan serpihan demi serpihan dengan lem paling kuat atau janji-janji manis yang tak pernah ditepati.
Adakalanya, ku melihat setiap sudut terlihat lancip yang siap menyayat jari, sesuatu yang muncul dari layar kini terdistorsi tangisan yang rapuh.
Dengan lembut ku sentuh bagian yang retak, berharap ia masih mengenali perintah jariku. Sistem yang kacau tak beraturan, semua lebur menjadi sebuah ukiran yang tak tertata.
Hanya ada ruang hampa yang sudah menjadi saksi bisu akan keistimewaanmu. Aku bisa saja berpura-pura melupakanmu, mengusap permukaannya yang kasar dan melukai jariku.
Sebab fajar tahu, dan senja pun merasa bahwa fungsi yang hilang takkan kembali menyala. Mesinnya masih di dalam, mengalunkan detak bunyi halus dan cahaya redup sesekali mengintip di balik serpihan retak.
Namun, bayangannya tak lagi terlihat, terpecah menjadi beberapa bagian, terkubur dalam bisu, sebuah keindahan yang dipaksa muncul kepermukaan.
Retak bukan sekadar hancur, tapi ia cacat tak berupa. Patahnya keyakinan. Ia tak lagi percaya, sekali hancur tetaplah hancur. Menyisakan kepingan kenangan yang basah akan luka.
Hingga saat akhir, kita hanya memegang benda usang, sebuah kenangan yang tak lagi bisa menyambung rasa. Karena cinta yang pecah akibat dipaksakan, hanya akan membuat hati berdarah selamanya.






