Sisa embun di pagi hari menyelimuti kerajaan Shogunate. Sebuah kerajaan yang terkenal dengan sekolah sihir terbaik di dunia. Di sebuah hutan belantara tak jauh dari kerajaan hiduplah seorang gadis bernama Vantra. Ia dikenal bukan sebagai gadis biasa; karunia Tuhan telah memberkati Vantra menjadi seorang yang memiliki kemampuan menenun benang dari sinar bulan dan cahaya matahari. Setiap kain buatannya dapat menyembuhkan luka batin dan meredakan amarah bencana. Vantra tidak tinggal sendirian, ia memiliki kakak perempuan bernama Cita.
Pada suatu hari kerajaan Shogunate sedang dilanda wabah penyakit. Penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya. Dengan gejala di mana otot, tendon, dan ligamen manusia secara bertahap berubah menjadi tulang. Tubuh penderita secara perlahan-lahan “membatu” seperti patung karena sendi-sendi didalam tubuh terkunci oleh tulang baru. Belum lagi rasanya seperti luka bakar jika terkena sinar matahari. Anggota kerajaan merasa sudah di ujung tanduk hingga harus menurunkan 2300 anggota medis kerajaan untuk mencegah wabah agar tidak menyebar lebih luas. Masyarakat Shogunate merasa bahwa penyakit ini bukan wabah biasa, banyak yang mengira jika wabah tersebut adalah kutukan. Kutukan “Kabut Hitam” yang dikirim oleh penyihir Black Wizard dari negeri seberang. Karena wabah itu, raja shogunate pun jatuh sakit. Kerajaan tidak punya jalan lain selain meminta bantuan penyihir agung. Penyihir agung itulah bernama Vantra. Mereka membutuhkan jubah buatan Vantra untuk dipakai sang raja. Jubah yang dibuat dari tangan yang tulus.
Para anggota kerajaan pun menyiapkan pembekalan untuk menuju hutan. Dimana sang penyihir agung tinggal. Sang kakak yang mengetahui akan kedatangan anggota kerajaan merasa iri dengan adiknya. Tidak di pungkiri bahwa adiknya memang memiliki kemampuan khusus daripada dirinya. Ia pernah berpikir mengapa hanya dia seorang di keluarganya yang tidak memiliki kemampuan khusus. Sedikit kecemburuan menyelimuti hati nurani Cita hingga tega mencuri semua alat tenun Vantra dan membakarnya. Tidak sampai disitu, Cita membuat tangan Vantra luka hingga tidak bisa bekerja. Dalam hatinya, Cita ingin diakui sebagai pahlawan agar bisa menikah dengan sang Pangeran Mahkota, sehingga ia berpura-pura menjadi Penyihir Agung itu.
Tidak lama para anggota kerajaan tiba di kediaman sang penyihir. Keluarlah Cita dengan jubah Vantra dan mengaku sebagai penyihir agung. Pangeran Mahkota sedikit ragu dengan gestur Cita. Disitu pangeran tidak yakin Cita seorang penyihir agung. Sepengetahuan pangeran, penyihir agung tidak pernah memperlihatkan wajahnya jika bertemu orang, apalagi orang asing. Sayangnya, sang pangeran tidak bisa berbicara. Pangeran telah disumpah menjadi bisu oleh penyihir yang sama menyebarkan wabah. Ia tahu Cita adalah penipu, karena sebelum kutukan hadir, ada beberapa rumor mengenai Cita yang menghasut penduduk untuk melengserkan Raja. Tapi kebisuannya membuat ia tidak bisa bersuara untuk mengungkap kebenaran. Lalu dimana sang penyihir agung (?)
Tengah malam, Vantra duduk di tepi danau dekat rumahnya. Ia termenung jika mengungkap kejahatan kakaknya akan menimbulkan masalah baru. Apalagi Cita satu-satunya keluarga yang ia punya. Kedua orang tuanya sudah tiada. Ayahnya gugur dalam perang, ibunya meninggal saat melahirkan adik ketiganya. Walau harus menelan pahitnya kenyataan jika ibu dan adiknya tidak selamat karena pendarahan hebat. Ayah vantra bukan prajurit biasa, ia juga merupakan orang kepercayaan kerajaan untuk membuat pedang dari panasnya lahar gunung. Membuat karyanya tidak bisa dipatahkan menjadi dua.
Malam itu, Vantra menangis dalam diam. Meski tangannya terluka ia tidak menyerah. Ia memotong sedikit rambut panjang hitamnya sendiri sebagai pengganti benang, dan mulai menenun dengan ranting pohon karena alat tenunnya sudah hancur. Berharap keajaiban masih berpihak padanya. Jika ia diam, maka raja akan mati karena kain buatan Cita yang tidak memiliki kekuatan sihir penyembuhan.
Anggota kerajaan yang sedang berbicara dengan Cita tidak sadar jika pangeran telah pergi. Entah pergi kemana (?) diam-diam pangeran berjalan karena pusing dengan kebohongan Cita yang dirangkai dengan konyol. Pangeran berjalan menuju tepi danau. Disitu ia melihat Vantra. Tanpa menunggu lama sang pangeran menghampiri Vantra. Vantra yang fokus dengan menenun dikagetkan oleh tepukan di pundaknya. Ia melihat seorang pria gagah dengan baju istana,”dia pasti orang bangsawan,”katanya dalam hati. Mereka mulai berkomunikasi melalui gerakan tangan dan sorot mata. Awalnya vantra tidak mengira jika ia adalah seorang pangeran, sang pangeran yang bisu. Dengan hati yang tulus, Arka membantu Vantra memegang ranting pohon, memberikan suatu kehangatan dihati Vantra, waktu semakin gelap, pangeran pun mencari kayu bakar dan membuat api unggun agar Vantra tidak kedinginan.
Di sana, terciptalah ikatan yang melampaui suara dan rupa. Tanpa pangeran sadari selama Vantra menenun ia hanya menatap wajah Vantra yang manis seperti bulan. Terlihat tenang dan lembut tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Pangeran mengira jika penyihir agung merupakan sosok misterius yang terlihat menyeramkan, “Jika penyihirnya seperti ini, bolehkah aku membawanya ke istana,”gumam dihati pangeran. Tidak terasa waktu tengah malam tiba, salah satu anggota kerajaan menghampiri pangeran yang sedang duduk dengan seorang gadis. Ia menyarankan pangeran agar kembali ke istana, karena titah sang ratu mengatakan raja dalam kondisi kritis. Arka pun bergegas kembali, tidak lupa ia berpamitan dengan Vantra,”bisakah aku mengunjungimu lagi,”kata Arka. Vantra pun hanya mengangguk, tidak mengizinkan orang lain melihat wajah cantiknya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan pada hari penyerahan jubah, Cita mempersembahkan kain sutra biru yang indah, memancarkan cahaya seperti bulan. Indah namun menyimpan kebohongan. Saat dikenakan ke tubuh raja, kabut hitam tiba-tiba muncul dari tubuh raja, semakin pekat. Karena kondisi yang semakin parah, datanglah pangeran Arka dengan Vantra disampingnya. Vantra menyerahkan kain hitam kecil, sedikit kasar, dan tidak beraturan yang terbuat dari rambut dan ranting. Cita tertawa menghina, namun saat kain kecil itu menyentuh kulit Raja keajaiban terjadi. Entah berasal dari mana, muncullah cahaya menyilaukan dari kain itu, menghancurkan kabut hitam dalam sekejab. Mata raja terbuka pelan-pelan. Para anggota kerajaan termasuk sang ratu tidak menyangka kain kecil yang terlihat kotor itu mampu menyembuhkan dan menghilangkan kutukan raja.
Kesembuhan Raja semakin baik, kutukan pun hilang. Masyarakat kembali seperti semula, yang sakit mulai sembuh, hingga suara pangeran Arka pun kembali. Hal pertama yang terucap dari Arka adalah kebenaran tidak butuh kata-kata indah, ia hanya butuh ketulusan. Kebenaran terungkap, Cita ketahuan berbohong. Padahal ia sudah menerima jumlah uang yang tidak sedikit. Hingga pada akhirnya Cita kabur dan menjadi buronan yang sedang dicari. Namun sayangnya ia berhasil ditemukan. Di sebuah goa tidak jauh dari rumahnya Cita bersembunyi. Ia dibawa paksa untuk menghadap sang raja dan ratu. Awalnya Cita akan dihukum mati, mengingat ia adalah saudari Vantra maka Cita tidak dihukum mati, melainkan diasingkan untuk belajar menenun dengan benar tanpa rasa iri. Meski telah dijahati Cita, Vantra tidak membalas dendam’. Ia memaafkan Cita dengan ketulusan anggota keluarga.
Bulan berganti Tahun, Pangeran Arka meminta restu pada Sang Raja untuk menikahi Vantra. Gadis yang sudah menyembuhkan dan mengambil hatinya dengan sebuah kain tenun. Tanpa banyak pertanyaan sang raja pun menyetujui niat baik pangeran dan mengangkat Vantra menjadi putri Mahkota. Calon permaisuri kerajaan Shogunate di masa depan. Pesta pernikahan pun tiba, Vantra yang memakai baju pengantin warna emas yang simple namun terlihat anggun berkelas berjalan menuju altar. Dimana sang pangeran menunggunya untuk membawa ke dunia yang baru. Raja dan Ratu Shogunate terlihat bangga dengan putranya. Mereka berharap suatu saat nanti pernikahan Arka dan Vantra menghadirkan masa depan yang kuat dan bijaksana. Membawa nama kerajaan Shogunate dikenang sepanjang masa.
“Adakalanya, benang yang paling kuat bukanlah yang terbuat dari sutra terbaik, melainkan yang dipintal dari kesabaran di tengah penderitaan.” Tamat.






