Menjadi Pendidik Atau Pendosa?

Hawa malam buat kulitku merinding karena dingin. Senja sudah terbenam, kunang-kunang mulai keluar dari mencari sumber kehidupan. Dalam diam aku termenung, di depan terdapat meja belajarku yang berantakan oleh tugas kantor. Lelahnya aku membuat tugas seperti tumpukkan yang menggunung, namun pikiranku tidak fokus dalam tugas, jauh melayang melampaui batas-batas langit kamarku. Aku teringat pertanyaan-pertanyaan tak terucap menusuk hatiku, “Apakah seorang guru harus bekerja mencari pahala, atau justru sebaliknya,” aku tidak tahu.

Dua (2) tahun lamanya aku menjadi seorang guru. Mengabdi selama itu menurutku belum cukup untuk mengerti bahwa masa depanku terjamin atau tidak. Awalnya, semangatku berapi-api, ingin membuat semua anak bangsa ini cerdas, membantu mereka menemukan jalan terang di tempat yang gelap. Tapi seiring berjalannya waktu, ada pecahan-pecahan kaca yang mengikis idealismenya. Kejujuran yang di anggap sebuah ancaman. Tekanan dari kepala sekolah untuk menjaga citra sekolah yang dibungkus rapi untuk menutupi aib. Belum lagi wali murid yang menuntut agar anak mereka harus pintar seluruhnya kepada guru. Sistem yang seolah-olah dimanipulasi dan menjunjung nilai. Semua itu mengubahku.

Aku punya prinsip bahwa kejujuran akan selalu menang dalam medan tempur. Kejujuran adalah hal yang berharga tapi selalu di anggap sebagai senjata. Aku berusaha menjadi seorang guru yang netral. Ada kalanya aku tidak segan memberikan nilai apa adanya kepada anak siswaku, tapi juga tidak tega melihat mereka mendapatkan nilai buruk jika memang itu hasil kerja yang sebenarnya. Aku percaya, proses belajar jauh lebih mulia daripada hasil akhir yang semu. Menurutku, nilai bukan segalanya, tapi negara punya norma. Belum lagi belakangan ini, aku kerap memanipulasi angka-angka di rapor. Menambahkan sedikit saja poin di sana, membulatkan nilai di sini, hanya karena ingin semua siswaku “lulus standar” atau agar tidak menjatuhkan nama sekolah.

Saat itu, aku terelintas mengingat wajah salah satu siswaku, Alif. Ia pintar hanya saja membutuhkan sedikit waktu untuk berfikir. Dalam Pelajaran pun ia agak terlambat, tapi aku sangat menghargai usahanya yang tidak berhenti untuk belajar. Meski dengan nilai pas-pasan , Alif tidak tertinggal dan bukan aib di kelas.

Aku akui aku salah, maafkan kepada semua orang disana yang terlibat denganku. Maafkan aku belum bisa menjadi guru yang sempurna, sifat dan watakku seperti anak-anak yang kadang emosi dan tidak mau memaafkan. Suatu hari aku pernah menaikkan nilai Alif secara signifikan, dan aku langsung melihat senyum lebar di bibinya. Ucapan terima kasih dengan tulus. Senyuman itu harusnya membuatku lega, tapi yang ku rasakan justru sebaliknya. “Apakah senyum itu pahala bagiku, atau jutsru dosa?”

Esoknya, karena ada nilai siswaku yang sangat jauh dari standar nilaiku, sehingga aku menyuruhnya untuk menemuiku. Siapa sangka, ibunya lah yang menemuiku di depan kantor guru. Ia mencerikan segala hal tentang muridku itu, tanpa aku sadari ternyata sang ibu meneteskan air mata, “Anak saya memang telat belajar, bahkan saudaranya pun begitu, tapi saya yakin masih ada masa depan dalam hidupnya,” ucapnya.

Aku terdiam dan ikut terasa iba. Apa aku yang gagal menjadi guru (?). Dari situ rasa bersalah selalu menghantui aku. Ada dua skema yang aku pelajari, aku merasa telah mengajarkan para siswaku bahwa angka adalah segalanya, atau aku menunjukkan kepada mereka bahwa Pendidikan itu kejam sedang kejujuran tidak ada harganya sama sekali. Kejujuran bisa dikesampingkan demi mencapai hasil yang diinginkan.

Hari ujian datang, aku secara tidak langsung melihat bagaimana beberapa siswa mulai mencontek secara terang-terangan. Aku tau dari bisikan-bisikan kecil yang menembus telingaku. Aku mulai merasa resah, apakah aku secara tidak langsung mengajarkan; bahwa pada akhirnya, yang penting adalah angka di rapor. Semua serba salah, aku salah, sistemku salah, metodeku salah. Aku tidak menyalahkan siapa pun.

Air mataku pun menetes. Membayangkan di hari perhitungan nanti, apakah akan ada yang menolongku (?), apakah Tuhan akan melihat tumpukan pahala dari ilmu yang ku berikan, atau mungkin justru dosa-dosa dari selama aku bekerja (?). Tuhan, tolong maafkan aku. Aku yang salah. Aku yang gagal. Aku rindu, rindu di masa-masa di mana aku bisa mengajar dengan hati yang bersih, tanpa beban manipulasi, dan tanpa ketakutan akan kehidupan. Jika aku menentang, apa yang terjadi, sedangkan aku masih membutuhkan nafkah kerja untuk hidup.

Aku ingin berubah, sore itu di bawah langit senja yang kemerahan, aku memutuskan untuk Kembali ke jalan dan prinsipku. Jalan yang lurus berlandaskan kejujuran dan integritas. Biarkan angka mencerminkan apa adanya, dan kejujuran menjadi pondasi. Karena aku percaya, pahala sejatinya tidak hanya satu pintu, melainkan pada hati Nurani yang murni. Kelak ke depannya tidak akan mudah, akan banyak musuh yang ingin menyerangku. Demi menebus dosa-dosa yang selama ini, aku mencoba melawan mereka. Demi mencari keadilan sejati yang aku pilih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *