Sketsamalang.com – Sketsamalang.com – Komunitas penulis Aksara Tumapel Kota Malang kembali berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di Panti Asuhan Yayasan Insan Indonesian Bersatu (Yasibu), Babatan Arjowinangun, Kota Malang. Dengan menyalurkan santunan dari para donatur, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin Ketua Panitia Santunan Ramadan Aksara Tumapel, H. Taufik. Para anak panti diajak membaca Surah Al-Fatihah dan memanjatkan doa untuk para donatur agar senantiasa diberi kesehatan, kelancaran rezeki, keberkahan hidup, serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah.
Melalui kegiatan tersebut, Komunitas Aksara Tumapel berharap dapat menjadi jembatan kebaikan antara para donatur dan anak-anak asuh yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
“Semoga bantuan ini dapat menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak serta menjadi amal jariyah bagi para donatur,” ujar Taufik.

Pengelola Yayasan Yasibu, Zainul Huda, menjelaskan, secara badan hukum lembaga ini berdiri sejak 2011 dan mulai aktif sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) pada 2014 setelah mendapatkan pengesahan dari Dinas Sosial Kota Malang.
“Saat ini, yayasan terus berupaya meningkatkan kualitas sarana dan pelayanan pengasuhan, dengan harapan akreditasi lembaga yang telah diraih dapat meningkat menjadi peringkat A,” jelasnya.
Yasibu saat ini memiliki dua lokasi pengasuhan. Di kawasan Soekarno Hatta, yayasan merawat anak-anak di bawah usia lima tahun, termasuk bayi yang diasuh sejak usia satu hingga empat hari. Anak-anak tersebut merupakan titipan orang tua dan secara administratif berstatus sebagai anak negara.
Sementara itu, di lokasi Babatan Arjowinangun, anak-anak yang diasuh berusia enam tahun ke atas. Total terdapat 35 anak di Babatan dan 39 anak di Soekarno Hatta. Sebagian anak tinggal penuh di panti, sementara lainnya masih memiliki keluarga namun memerlukan pengasuhan alternatif.
Pengelola menegaskan bahwa sistem pengasuhan di Yasibu mengacu pada regulasi terbaru yang menekankan pentingnya anak tumbuh dalam lingkungan keluarga. Namun, anak-anak yang berada di yayasan merupakan kasus darurat sehingga harus dipisahkan dari lingkungan asalnya.
“Beberapa anak merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga, persoalan hukum, maupun masalah sosial yang membuat mereka tidak dapat diterima di lingkungan sebelumnya,” ungkapnya.
Selain mengandalkan donasi masyarakat, Yasibu juga mengembangkan unit usaha mandiri seperti pengisian air minum isi ulang dan penjualan oleh-oleh khas Malang untuk menunjang operasional yayasan.
Momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perlindungan bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga sosial. Tetapi juga panggilan nurani seluruh elemen masyarakat.






