Kombucha Healthy Secret: Modernisasi Jamu Tradisional dengan Fermentasi Probiotik

Sketsamalang.com – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), Prof. Dr. Ir. Elok Zubaidah, MP., membuat inovasi minuman kesehatan Kombucha Healthy Secret. Produk ini merupakan pengembangan minuman fermentasi yang memadukan khasiat teh dengan bahan alami seperti rimpang dan buah-buahan.

Asisten peneliti Prof. Elok, Ayillah Malicha menjelaskan, Kombucha Healthy Secret hadir untuk memodernisasi cara masyarakat mengonsumsi jamu. Jika biasanya jamu memiliki rasa yang pekat, kombucha ini menawarkan sensasi rasa yang lebih ringan dengan sentuhan asam dan soda alami (sparkling).

“Kami memodernisasi bentuk jamu gendong melalui proses fermentasi menjadi kombucha. Hasilnya, konsumen bisa merasakan khasiat jamu dengan sensasi menyegarkan seperti minum soda,” ujar Ayillah saat ditemui di Malang.

Proses Produksi dan Keunggulan Nutrisi

Berbeda dengan minuman fermentasi berbasis susu seperti yogurt, kombucha menggunakan media teh atau ekstrak rimpang. Proses fermentasi dilakukan menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yakni kumpulan ragi dan bakteri asam asetat.

Ayillah memaparkan bahwa proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 15 hari. Keberhasilan proses ini dipantau melalui terbentuknya lapisan selulosa (nata) pada permukaan cairan, aroma khas fermentasi, serta tingkat keasaman (pH) yang mencapai angka 3.

“Proses fermentasi ini sangat krusial karena mikroba akan memecah komponen dasar menjadi partikel yang lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh. Berdasarkan uji laboratorium, kandungan antioksidan bisa meningkat 2 hingga 3 kali lipat setelah difermentasi,” tambahnya.

Kombucha Healthy Secret

Selain kaya probiotik untuk melancarkan pencernaan, minuman ini juga diklaim memiliki manfaat antibakteri, antidiabetes, hingga antikanker.

Varian Rasa dan Aksesibilitas

Hingga saat ini, Kombucha Healthy Secret telah memiliki 20 varian rasa. Kategori rimpang meliputi kunyit putih, secang, kunyit asam, kunyit madu, kunyit sinom, kencur, dan temulawak. Sementara untuk kategori buah, tersedia rasa leci, anggur, apel, dan jeruk.

Untuk menjaga kualitas dan menghindari kontaminasi, proses produksi dilakukan di ruang khusus yang steril. Seluruh bahan baku seperti gula dan rimpang dicampur pada awal pendidihan, sehingga saat panen, produk dipastikan murni tanpa tambahan air maupun gula sisa.

Saat ini, produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp35.000 per kaleng ukuran 250 ml. Masyarakat dapat memperolehnya di beberapa titik di lingkungan Universitas Brawijaya dan pemesanan daring melalui Instagram.

Inovasi ini mendapat respons positif, terutama dari generasi muda. Format kemasan dan rasa yang modern membuat citra jamu yang dianggap “kuno” berubah menjadi tren minuman sehat yang kekinian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *