Kesederhanaan Ketua DPR RI Idham Chalid, Sosoknya Diabadikan dalam Uang Rupiah

Sketsamalang.com – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada tahun 1971 pernah dipimpin oleh sosok sederhana yang patut dikenang. Beliau adalah Dr. K.H. Idham Chalid, seorang negarawan dan ulama yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ketiga, serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia keenam.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus salah satu perintis dan pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Disarikan dari berbagai sumber, Idham Chalid merupakan salah satu politikus Indonesia yang sangat berpengaruh pada masanya.

Idham Chalid lahir pada 27 Agustus 1921 di Satui, Kalimantan Selatan, sebagai anak tengah dari delapan bersaudara.

Meski keluarganya memiliki darah bangsawan, ayahnya, H. Muhammad Chalid, mendidiknya dengan keras dan menanamkan nilai bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada garis darah, melainkan amal dan darma baktinya.

Sejak kecil, Idham dikenal cerdas dan pemberani. Saat masuk Sekolah Rakyat (SR), ia langsung duduk di kelas dua. Bakat pidatonya pun mulai terlihat dan terasah sejak saat itu.

Ketertarikannya pada dunia organisasi dimulai pada tahun 1947. Idham mulai bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan yang dipimpin oleh Hasan Basry, muridnya ketika di Gontor.

Karier Politik Idham Chalid

Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan.

Tahun 1950, ia kembali terpilih menjadi anggota DPRS dari Partai Masyumi. Namun, setelah NU memisahkan diri dari Masyumi pada 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai NU dan aktif melakukan konsolidasi ke berbagai daerah.

Nama Dr.K.H. Idham Chalid diabadikan dalam uang kertas Rp 5.000

Selama 1952–1955, ia yang juga duduk di Majelis Pertimbangan Politik PBNU, kerap mendampingi Rais Am K.H. Abdul Wahab Hasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara.

Karier politiknya semakin moncer ketika ia menjabat Presiden PPP hingga tahun 1989. Idham juga terpilih menjadi Ketua MPR/DPR RI periode 1971–1977. Jabatan terakhir yang diembannya adalah Ketua Dewan Pertimbangan Agung sampai tahun 1983.

Konon ia pernah ditawari posisi Wakil Presiden mendampingi Soeharto, tetapi ia menolaknya dengan rendah hati.

Kesederhanaan Sosok Idham Chalid

Meski memiliki perjalanan panjang di dunia politik, Idham tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Tidak seperti gaya hidup banyak pejabat masa kini, beliau lebih memilih naik kendaraan umum seperti metromini, alih-alih mobil mewah keluaran terbaru.

Idham juga berpesan kepada istrinya “Anak-anak hanya boleh makan dari gaji saya agar terhindar dari uang haram!”

Keluarganya pun tidak menggunakan fasilitas negara, dan lebih memilih membuka usaha sendiri.

Anak-anaknya sempat berjualan nasi untuk membantu keberlangsungan hidup keluarga.

Jika dibandingkan kehidupan pejabat jaman sekarang. Kisah kehidupan keluarga Idham Chalid benar-benar seperti dongeng rakyat yang tak nyata.

Bahkan ketika Idham Chalid memiliki jabatan setinggi itu, anak-anaknya tidak ada yang terjun ke dunia politik sepertinya.

Kehidupan yang dipilih Idham benar-benar mencerminkan sikap seorang pejabat yang tidak melupakan rakyat.

Pasca-politik, Idham Chalid lebih memilih kembali menjadi rakyat biasa. Ia mengajar agama, mengelola rumah yatim di Cisarua, dan memastikan anak-anak kurang mampu tetap mendapat pendidikan.

Dedikasinya membuatnya tidak hanya dikenal sebagai ulama dan politikus, tetapi juga pahlawan bangsa yang aktif sejak masa Kemerdekaan, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Diabadikan pada Uang Kertas Rupiah

Atas jasa-jasanya yang luas bagi bangsa, Bank Indonesia mengabadikan wajah Idham Chalid di uang kertas Rp5.000 sebagai simbol penghargaan.

Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 di usia 88 tahun dan dimakamkan di Pondok Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor.

Kisah hidup Idham Chalid menjadi teladan tentang bagaimana seharusnya seorang pejabat negara bersikap. Bahwa tugas DPR RI adalah membantu rakyat agar sejahtera, bukan hidup bermewah-mewahan dan melupakan asal-usulnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *