Sketsamalang.com – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang menggelar Lomba Menulis Esai untuk memeriahkan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80. Mengusung tema “Aku Bagian dari Kemenag Kota Malang, Antara Pengabdian dan Kesan Tak Terlupakan,” Kemenag berupaya menyalakan kembali semangat literasi dan tradisi intelektual di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sivitas Kemenag.
Kepala Kemenag Kota Malang, Achmad Shampton, S.HI, M.Ag mengungkapkan, lomba ini adalah langkah awal untuk membangun budaya berpikir reflektif dan produktif melalui tulisan. Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa potensi literasi di lingkungan Kemenag sangat besar.
“Alhamdulillah, saya senang sekali melihat banyak teman-teman yang mulai tergerak untuk menulis. Bahkan, ada usulan untuk membentuk komunitas menulis agar bisa berlatih bersama,” ujar Gus Shampton setelah penyerahan hadiah di MAN 2 Kota Malang, Kamis (1/1/2025).
Gus Shampton juga menambahkan bahwa menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari warisan besar peradaban Islam. Banyak ulama terdahulu dikenal luas karena karya-karya tulisnya yang melintasi zaman.
“Menulis adalah khazanah ulama kita di masa lalu. Kami ingin menghidupkan kembali semangat ini di Kementerian Agama. Hari Amal Bakti harus diisi dengan kegiatan yang inspiratif dan berdampak jangka panjang,” tegasnya.

Sejumlah esai yang masuk dalam lomba ini dinilai mampu menggambarkan kejujuran batin, refleksi pengabdian, serta pengalaman pribadi yang menyentuh. Hal tersebut menjadi kekuatan utama dari lomba tersebut.
“Banyak peserta yang berani mengungkapkan kata hatinya melalui tulisan. Tulisan itu kelak akan dibaca, dan dari sana manfaatnya akan mengalir ke generasi berikutnya,” imbuh Gus Shampton.
Sebagai tindak lanjut, Kemenag Kota Malang berencana untuk membentuk Komunitas Penulis Kementerian Agama sebagai ruang belajar bersama dan berlatih, serta memperkuat budaya menulis di lingkungan Kemenag.
Lomba menulis ini dinilai oleh empat juri kompeten di bidang literasi dan pemikiran publik, yaitu Anis Hidayatie (Ketua Komunitas Menulis Buku Indonesia, editor JatimSatuNews.com), Saifullah Syahid (penulis esai dan redaktur Maiyah.com), Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi (kolumnis dan humorolog Expert Times Indonesia), serta Kepala Kemenag Kota Malang, Achmad Shampton.
Gus Bay, salah satu juri, menjelaskan bahwa esai bukan sekadar cerita personal, melainkan tulisan nonfiksi yang memuat renungan, kritik, dan wacana. Ia menilai, esai harus memiliki kesatuan ide yang jelas dari awal hingga akhir.
“Esai itu harus utuh, dari gagasan hingga paragraf terakhir. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Saya yakin peserta memiliki idola bacaan seperti Gunawan dengan Catatan Pinggir, Gus Dur yang mampu menerjemahkan berbagai budaya, seni, dan sepak bola ke dalam tulisan, atau tokoh lainnya seperti Dahlan Iskan dan AS Laksana,” ujar Gus Bay.
Menurut Gus Bay, di samping kriteria teknis, aspek yang dinilai dalam lomba ini termasuk judul, sudut pandang, gaya bahasa, dan unsur kejutan dalam tulisan.
“Yang saya tunggu adalah kejutan. Ada tulisan yang membuat terharu, ada yang membuat tertawa, dan ada yang memberikan kesan. Itulah yang akhirnya kami pilih,” tambahnya.
Puncak acara ini ditutup dengan doa oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang, H. Samsuddin, yang juga menjadi tuan rumah lomba.
Berikut enam pemenang terbaik lomba menulis esai, yaitu:
1. Luluk Mufidah
“Kinerja Sebagai Dakwah, Cinta Sebagai Kurikulum, dan Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan di Kemenag Kota Malang”
2. Rachmawati
“Di Antara Pengabdian dan Ketidaksengajaan”
3. Ema F.A.
“Menjemput Kejernihan”
4. Handri S.
“Tidak Ada yang Kebetulan”
5. Heri Mulyo Cahyo
“Pengabdian yang Tak Tercatat di SK”
6. Eka Wijayanti, S.S
“Kinerja Berbasis Cinta: Sebuah Ikhtiar Transformatif untuk Mengukir Manfaat Substantif dan Kesan Bermakna dalam Pendidikan”






