Inovasi COLARIX Antarkan Mahasiswa UMM Raih Medali Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Sketsamalang.com – Kepekaan terhadap persoalan riil di sektor peternakan mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi nasional. Dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM berhasil meraih medali emas di ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) kategori Karsa Cipta (PKMM-KC).

Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah. Keduanya unggul berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak.

Prestasi ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi terhadap persoalan nyata di masyarakat.

Putri Nayla Sabri menjelaskan, PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan lapangan.

Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat persoalan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang hingga kini masih menjadi ancaman serius di sektor peternakan. Penyakit ini berdampak langsung terhadap kesehatan ternak serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak.

“Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak pada periode Desember 2024 hingga Januari 2025. Kondisi ini membutuhkan penanganan inovatif berbasis teknologi,” ujarnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mengembangkan COLARIX, yakni smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pascainfeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050.

Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan melalui dashboard pemantauan kesehatan ternak.

“COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri.

Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Penelitian dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua pekan, dan produk yang dihasilkan masih berupa prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, tim memastikan bahwa aspek kelayakan teknis dan landasan ilmiah telah terpenuhi sebagai dasar pengembangan lanjutan.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan pihak kampus, mulai dari pendampingan dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga lingkungan pengembangan ide di Program Studi Informatika UMM.

Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika UMM sekaligus pembina tim PKMM-KC, Zamah Sari, S.T., M.T., menilai COLARIX memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya sistem pemantauan real time yang non-invasif, penggunaan multisensor untuk meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak ragu memulai inovasi meskipun masih memiliki keterbatasan.

“Inovasi yang bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.

Prestasi ini sekaligus menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *