Saat itu aku berusia 27 tahun. Prinsip dalam hidupku menguatkan aku agar tidak mengenal pria sebelum aku berhasil meraih cita-cita. Tapi malam itu aku berjalan pulang, di dampingi Cahaya lampu dan sepi. Yang ku ingat hanyalah seseorang yang melewatiku dari arah yang berlawanan. Caranya berjalan, berdiri, aku tau bahwa ia pria yang tegap. Seperti seseorang yang memilih menjadi latar. Kemudian bayangannya menghilang.
Memasuki kamarku dan membersihkan diriku sebelum waktu tidur. Aku melihat ayah, ibu, dan kedua saudara laki-lakiku sedang membahas Pendidikan adikku yang akan ke luar negeri. Aku hanya memberi salam dan bercerita sedikit tentang hari ini bagaimana di kantor tadi. Setelah makan malam dan membersihkan diri, aku menjatuhkan tubuhku ke Kasur tanpa aba-aba. Rasa lelah dan sakit semua menjadi satu. Ahh.. begini kah rasanya dewasa (?).
Tanpa ku sadari jam malam telah habis dan berganti pagi. Aku bersiap untuk ke kantor, tidak lupa dengan music kalimbaku. Ya, aku sangat suka bermain kalimba, music adalah segalanya untukku. Habis itu aku keluar rumah dan singgah di halte menunggu bis. Tik.. tok… tik… tok… jam tanganku mungil, tapi aku bisa mendengar suara pelannya. Bis pun datang dan aku menaiki dengan duduk di kursi paling belakang. Seperti biasa di kantor dipenuhi oleh karyawan yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang kena omel, ada yang ketumpahan kopi, banyak kejadian. Aku hanya mengerjakan tugas dan tupoksiku sebagaimana mestinya.
Tidak terasa waktu jam pulang datang. Sebelum pulang aku mampir ke toko roti, toko roti yang menjadi langganan cemilanku. Selain roti yang lezat, pemilik tokonya yang juga ramah. Terkenal dengan brownies gula arennya yang membuat aku selalu nagih. “Kau datang lagi,” kata pemilik toko itu. Aku pun menoleh ke samping, wajahnya yang mungil dengan rambut hitam panjang membuatnya awet muda. Aku kira dia berusia belasan tahun, ternyata usianya sudah mendekati kepala tiga. “Iya, aku mampir karena ingin menyetok cemilan di rumah,” balasku. Dia hanya tersenyum dan pergi mengambil stock roti yang sudah habis. Aku pun menuju kasir dan membayar pesananku. “Bawalah, semoga kau tetap dalam suasana hati yang bahagia,” balas wanita cantik itu. Dia membungkus pesananku dan memberikan sebuah kotak brownies kecil. Aku mengucapkan terima kasih dan kembali lanjut untuk pulang.
Selama aku beli roti disitu, aku belum pernah menanyakan Namanya. Entah siapa Namanya, tapi ku pastikan namanya manis seperti wajahnya. Setiap sore sehabis kerja, di bangku halte tua dekat kantor, aku duduk sambil makan cemilanku. Tiba-tiba seorang pria duduk tidak jauh dari tempatku. Ia sering muncul disitu entah tujuannya kemana. Meski tidak selalu pada jam yang sama, dan tidak selalu dengan pakaian yang sama. Namun, tubuh itu terlihat tidak asing bagiku. Sikap yang tenang, badan yang tegap, seolah dunia tidak menuntut apa pun darinya. Meski tidak pernah melihat wajahnya secara langsung, aku menyebutnya bayang. Karena menurutku kehadirannya membuatku hanya dan lebih terasa daripada terlihat. Terkadang saat bis datang aku melihat pantulannya di kaca bis yang berhenti sebentar. Bertopikan hitam, kemeja hitam dan hoodie abu-abu. Terlintas siluet punggung yang menjauh sebelum aku sempat menoleh.
Alih-alih Namanya, bahkan aku tidak mengenal siapa dia. Tidak tahu suaranya, aku pun tidak yakin ia pernah menyadari ada aku di sebelahnya. Tapi yang pasti, setiap kali ia hadir, dadaku terasa nyaman. Seperti ada sesuatu yang pulang ke rumahnya. Jam berganti hari, kegiatang yang tidak pernah berubah. Pagi ke kantor, pulang pada waktunya. Membuka buku yang sama, meski sering kali tidak kubaca. Disitu aku menunggu tanpa sungguh-sungguh menunggu. Pria itu datang tanpa pernah berjanji. Anehnya, sore ini ia tidak datang. Sengaja aku duduk lebih lama karena penasaran akan kehadirannya. Langit pun berubah warna, dari yang terang ke redup. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Orang orang berganti wajah. Bayang itu tidak muncul. Bahkan keesokan harinya pun tidak terlihat batang hidungnya.
Sampai dimana aku benar-benar tidak melihatnya sama sekali. Aku mulai sadar bahwa sesuatu yang sejak awal bukan milikmu ternyata bisa hilang dan meninggalkan ruang penasaran. Semenjak itu, hari hari yang ku lalui terasa berbeda. Seperti ada ruangan hampa didalam hatiku. Halter tua itu tetap ada, bangku panjangnya pun tetap dingin, tetapi aku tidak lagi punya alasan untuk datang lebih awal. Tidak ada cara lain selain menyibukkan diri dengan aktifitas, seminar, rapat, dan tawa yang kupaksakan. Namun, setiap kali melihat punggung seseorang yang mirip, hatiku selalu tertipu.
Apa kabarmu disana (?) kenapa kau tidak muncul kembali. Aku hanya teringat bayanganmu. Bukan wajah atau suara. Hanya rasa rindu yang tidak jelas. Aku sampai tidak terasa bahwa waktu 365 hari sudah terlewat. Seperti halaman buku yang dibalik tertiup angin. Dari situ, aku mulai berpindah zona. Zona rute, zona kebiasaan bahkan mengubah pekerjaanku. Yang diawal aku menunggunya, sekarang sudah tidak. Halte tua itu sudah jarang aku lewati. Sampai pada waktu hujan memaksaku berhenti di sebuah café kecil dekat stasiun kereta api. Suasa asing tapi entah kenapa terasa tidak asing.
Aku mencari tempat duduk yang dekat jendela, menikmati hawa dingin yang disertai hujan. Mengaduk teh herbal yang mulai dingin. Disaat yang sama, pintu café terbuka, dan seseorang masuk dengan hoodie abu-abu yang sedikit basah oleh hujan. Ia berdiri sejenak, melepas topinya, lalu melihat sekeliling. Karena merasa aku tidak mengenal siapa pun disitu, aku tidak memperhatikannya. Tidak ada drama, tidak ada detak jantung berdebar. Hanya sepi yang tiba-tiba menemukan bentuk. Ia duduk persis di depan mejaku. Wajahnya kini jelas. Dewasa dari bayangan yang pernah aku lihat. Lebih nyata dari pikiranku. Tanpa ku sadari, aku menatapnya lama sehingga membuat dia juga melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu. Ingin ku berikan senyuman, mengucap hai.. memastikan bahwa ia memang orang yang sama. Namun aku memilih diam. Begitu juga dia. Kami langsung memalingkan wajah ke arah lain. Selang beberapa detik dia datang menghampiri aku yang sedang melihat ke arah luar jendela.
“Apa kita pernah bertemu,” katanya dengan pelan. Suaranya pelan tapi terdengar gagah. Tidak seperti yang aku bayangkan, namun justru itu yang membuat hatiku hangat. Seperti jantungku mengenali rumahnya. “ku rasa, kita sering bertemu secara tidak langsung, dulu,” jawabku. “Ku kira hanya aku yang mengingatnya, ternyata kau juga sadar,” lanjut pria itu. Kami tertawa, dan mulai bercengkrama sambil menikmati hawa hujan dan minuman hangat. Ia mulai bercerita jika ia pernah bekerja di dekat kantorku, kemudian pindah ke luar kota, perpindahan yang mendadak membuatnya bingung kala itu. Di sisi lain, aku bercerita tentang halte bus yang kini jarang aku lalui. Hal itu membuatnya mengerti mengapa tidak melihatku di halte lagi.
Sejak itu kami sering berkomunikasi, tidak ada janji yang diucapkan. Tidak ada pengakuan apa pun. Hanya dua orang yang akhirnya saling bertemu kembali, setelah satu tahun lamanya. Saat kami mengakhiri obrolan, hujan telah reda. Ia berpamitan dan melangkah pergi, kali ini tidak sebagai bayang. Aku melihat punggungnya yang berjalan membelakangiku, lalu tersenyum sendiri. Ternyata, selama ini mengagumi dari jauh tidak berakhir dengan kehilangan. Kadang, waktu hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus bersabar dan memastikan jika kita siap untuk benar-benar melihat.
POV “Akhirnya aku menemukanmu, lagi.” Sambil menoleh ke arah café dimana wanita cantik itu berada.






