Sketsamalang.com — Fenomena alam langka berupa gerhana Bulan total akan menghiasi langit Indonesia pada Senin (3/3/2026). Peristiwa yang dikenal sebagai Blood Moon ini membuat Bulan tampak berwarna merah keperakan saat seluruh permukaannya tertutup bayangan umbra Bumi. Gerhana ini menjadi momen istimewa bagi pengamat astronomi maupun masyarakat umum, mengingat gerhana Bulan total berikutnya baru akan terjadi pada akhir 2028.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta situs astronomi internasional seperti NASA dan TimeandDate, gerhana Bulan total kali ini dapat diamati secara optimal dari wilayah Asia Timur, termasuk Indonesia, Australia, kawasan Pasifik, hingga Amerika Utara.
Di wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Surabaya, pengamatan dimulai saat Bulan terbit di ufuk timur sekitar pukul 17.46 WIB. Pada waktu tersebut, gerhana sudah memasuki fase parsial. Sementara itu, fase total dimulai pada pukul 18.05 WIB.
Gerhana diawali dengan fase penumbra pada pukul 15.46 WIB, ketika bayangan samar Bumi mulai menyentuh Bulan. Namun, fase ini belum dapat diamati karena Bulan masih berada di bawah ufuk. Fase parsial dimulai pukul 16.51 WIB, ditandai dengan masuknya sebagian Bulan ke bayangan umbra yang lebih gelap. Di Surabaya, fase ini baru dapat disaksikan setelah Bulan terbit pada pukul 17.46 WIB.
Puncak gerhana terjadi pada fase total yang dimulai pukul 18.05 WIB, saat Bulan sepenuhnya tertutup umbra dan tampak berwarna merah. Warna merah tersebut terlihat semakin jelas sekitar pukul 18.17 WIB setelah Bulan naik lebih tinggi di ufuk timur. Gerhana mencapai maksimum pada pukul 18.34 WIB, ketika warna dan kegelapan Bulan berada pada intensitas tertinggi.
Fase total berakhir pada pukul 19.02 WIB, disusul berakhirnya fase parsial pada pukul 20.18 WIB. Gerhana Bulan total ini sepenuhnya berakhir dengan fase penumbra pada pukul 21.23 WIB.
Durasi fase totalitas mencapai sekitar 58 menit. Namun, di Surabaya waktu pengamatan efektif fase total diperkirakan sekitar 45 menit, terhitung sejak Bulan tampak jelas di atas ufuk. BMKG mengimbau masyarakat untuk memilih lokasi dengan ufuk timur yang bebas hambatan, minim polusi cahaya, serta memastikan kondisi cuaca cerah.
Gerhana Bulan total aman diamati dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus. Penggunaan binokular atau teleskop dapat membantu pengamatan detail permukaan Bulan. Bagi masyarakat yang tidak dapat menyaksikan langsung akibat cuaca atau keterbatasan lokasi, sejumlah lembaga astronomi menyediakan siaran langsung melalui laman NASA, TimeandDate, maupun platform astronomi lokal.
Fenomena Blood Moon ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga menjadi pengingat akan dinamika dan keteraturan sistem tata surya. Indonesia, termasuk Surabaya, berada di zona optimal pengamatan, menjadikannya kesempatan langka yang sayang untuk dilewatkan.






