Sketsamalang.com – Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) kembali menggelar Sumpah Profesi Insinyur Angkatan ke-15 Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI). Untuk menegaskan komitmennya dalam mencetak insinyur profesional berintegritas.
Digelar di Auditorium Prof Ir Surjono, Fakultas Teknik UB, kegiatan ini diikuti l puluhan calon insinyur dari berbagai latar belakang keilmuan dan profesi, Sabtu (10/1/2026).
Sebanyak 41 calon insinyur dari Program Reguler dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) resmi diambil sumpahnya dan dikukuhkan sebagai Insinyur. Para insinyur tersebut berasal dari beragam bidang keahlian, antara lain teknik sipil, mesin, elektro, pengairan, arsitektur, teknik industri, teknik kimia, dan teknik fisika, serta berasal dari sektor akademisi, BUMN, swasta, wiraswasta, hingga instansi pemerintah.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Hadi Suyono, ST., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh peserta telah memenuhi persyaratan akademik dan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk pengakuan profesional atas kompetensi insinyur yang siap berkontribusi bagi pembangunan nasional. Hingga saat ini, PSPPI Fakultas Teknik Universitas Brawijaya telah mengukuhkan 967 insinyur, dan angka ini mencerminkan konsistensi UB dalam menyiapkan sumber daya manusia keinsinyuran yang unggul,” ujar Prof. Hadi.

Sumpah Profesi Insinyur dipimpin oleh Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Jawa Timur, Dr. Ir. Gentur Prihantono, SH., MH., MT., IPU, yang menegaskan pentingnya peran insinyur dalam kerangka regulasi nasional.
Ia menjelaskan bahwa pengukuhan ini merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, yang menekankan profesionalisme, etika, dan perlindungan masyarakat.
“Insinyur profesional wajib memiliki kompetensi yang diakui melalui mekanisme sertifikasi, termasuk pengurusan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) dan jenjang Insinyur Profesional Utama (IPU). Hal ini penting agar praktik keinsinyuran di Indonesia terlindungi secara hukum, berstandar nasional, dan mampu bersaing secara global,” jelas Dr. Gentur.
Mewakili Rektor Universitas Brawijaya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, menegaskan bahwa peran insinyur semakin strategis di tengah transformasi pembangunan nasional.
“Insinyur tidak hanya dituntut mampu merancang dan membangun, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif yang berkelanjutan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Gelar Insinyur adalah amanah untuk menjawab tantangan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Imam menambahkan bahwa Universitas Brawijaya terus memperkuat pendidikan profesi keinsinyuran melalui kolaborasi dengan industri, pemerintah, dan asosiasi profesi, agar lulusan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki etika, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.
Momentum ini menjadi penegasan bahwa insinyur Indonesia memiliki peran kunci dalam mewujudkan pembangunan nasional yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.






